Dapat gaji Rp5 juta di Jakarta, dianggap sultan di desa
Sialnya, penderitaan Gani di Jakarta berbanding terbalik dengan ekspektasi orang-orang di kampung halamannya. Di desa, kabar soal Gani yang kerja di Jakarta dengan gaji lima jutaan sudah menyebar.
Bagi orang desa yang standard kebutuhan hidupnya murah, lima juta adalah uang yang sangat besar. Gani kadung mendapat sematan “sultan” dan dianggap sudah sukses besar.
“Tanda kita dianggap sultan itu, kalau tiba-tiba ada tetangga WA, ‘bos, bisa pinjam seratus nggak?’ dan itu kejadian tiap hari,” kata dia.
Gani bukannya diam saja. Berkali-kali ia mencoba menjelaskan kepada kerabat dan tetangganya bahwa hidup di Jakarta itu keras. Gaji lima juta di ibu kota itu ibarat cuma numpang lewat. Sayangnya, penjelasan Gani sering kali dianggap angin lalu.
“Tapi ya namanya orang desa, tahunya lima juta ya uang besar. Tiap kali aku bilang lagi nggak pegang uang atau nggak bisa ngutangin atau nyumbang banyak pas ada acara, mereka nggak percaya. Ujung-ujungnya aku malah dituduh pelit.”
Padahal, motor saja tidak pernah ganti
Tuduhan pelit dan perbandingan status sosial itu paling terasa jika diukur dari barang bawaan. Ini menjadi kisah yang paling unik sekaligus menyebalkan bagi Gani.
Sejak masa kuliah di tahun 2021, Gani belum pernah mengganti sepeda motornya. Honda Vario miliknya sebenarnya sudah tidak terlalu prima. Tarikannya sering berat dan bodinya sudah banyak goresan.
“Aku bukannya tidak mau ganti motor yang lebih keren. Tapi dari mana duitnya?” jelasnya.
Kondisi ini sering dijadikan bahan gunjingan di kampung. Tetangga sering membanding-bandingkan Gani dengan anak-anak perantau lain yang bekerja di Solo atau Semarang. Perantau di kota-kota yang biaya hidupnya lebih murah itu, rata-rata pulang kampung setiap Lebaran membawa motor keluaran terbaru.
“Liat tuh si A, kerjanya cuma di Semarang tapi pulangnya bawa motor yang baru. Masa kamu yang kerjanya di Jakarta gajinya lima juta lebih, motornya masih butut begitu,” ungkapnya, mengingat salah satu celetuk seorang tetangga.
Gani hanya bisa mengelus dada mendengar sindiran itu. Ia tahu betul realitas di baliknya. Tak sedikit dari teman-teman perantaunya itu yang hidupnya sama susahnya, atau bahkan lebih susah darinya.
Namun, demi memuaskan gengsi di mata tetangga desa, mereka nekat mengambil cicilan motor yang ujung-ujungnya membuat mereka diteror pihak leasing atau terjerat pinjaman online (pinjol).
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














