Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Aerox Dicap Jamet-Norak oleh Orang Kota, tapi Jadi Saksi Bisu Perjuangan dan Kesuksesan Orang Desa

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 Juli 2025
A A
Yamaha Aerox.MOJOK.CO

Ilustrasi - Yamaha Aerox (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Di jalanan kota, Yamaha Aerox sering kali jadi sasaran cemooh. Bagaimana tidak, ia kerap kali meraung dengan knalpot brong dan lampu yang terlalu mencolok.

“Ah, motor jamet itu,” celetuk Budi (30), seorang graphic designer asal Jogja. Ia tak sungkan melontarkan pandangannya itu saat ditemui pada Senin (28/7/2025) malam.

Iklan

“Pasti motor hasil nendang pintu,” imbuhnya disusul tawa renyah.

Citra Aerox di belantara urban memang banyak negatifnya. Ia bahkan sering disebut “moge nanggung”; bodinya besar ala motor gede, tapi mesinnya hanya 155cc. 

Tak hanya itu, menurut Budi, Aerox adalah simbol gaya yang terlalu dipaksakan alias kurang berkelas. Lampu aftermarket yang menyala semua dan stiker di mana-mana justru terkesan norak.

“Kayak pamer tapi nnggak jelas apa yang dipamerin,” tegas Budi, menyimpulkan.

Ketika motor jamet menjadi kebanggaan orang Gunungkidul

Kendati punya label “jamet”, “norak”, bahkan “rewel” di mata orang kota, bagi beberapa masyarakat desa, Aerox punya makna yang sangat berbeda. Ia bisa menjadi simbol perjuangan, pengorbanan, kebanggaan, dan mimpi kecil yang akhirnya jadi kenyataan.

Salah satunya dirasakan oleh Krisna (25), pemuda asli Gunungkidul. Bagi sebagian orang kota, Yamaha Aerox miliknya akan langsung masuk kategori “motor jamet”. 

Warna yang mencolok, lampu tambahan yang cukup menyilaukan, dan beberapa stiker ramai memenuhi bodinya, memang cukup untuk bilang bahwa tampilannya benar-benar norak.

Namun, di balik semua atribut itu, bagi Krisna Aerox adalah “monumen bergerak” dari dua tahun keringatnya di perantauan.

“Dulu, pas pertama merantau ke Jakarta habis lulus SMK, cuma bisa numpang motor teman kalau mau ke mana-mana,” kenang Krisna dengan suara pelan. 

Di Jakarta, ia bekerja di sebuah pabrik. Pagi buta, Krisna bercerita sudah berdesak-desakan di KRL commuter line yang pengap, demi sampai ke tempat kerja.

“Kadang kalau lihat teman-teman perantauan lain ngajak nongkrong atau jalan-jalan ke mal pas akhir pekan, rasanya pengen ikut. Tapi, mikir lagi, duitnya mending buat nambahin tabungan beli motor,” ujarnya, mengingat kembali pengorbanan yang harus ia lakukan.

Ngiler tiap kali melihat Aerox

Krisna bercerita, setiap kali lewat showroom Yamaha dan melihat Aerox dipajang, rasanya ia seperti “ngiler”. 

Iklan

“Keren, gagah gitu. Beda dari motor lainnya,” ungkapnya.

Baginya, motor itu bukan sekadar kendaraan, melainkan janji pada diri sendiri yang harus dipenuhi.

Apalagi, ada teman satu kos yang sudah punya Aerox duluan. Itu seperti cambuk semangat bagi Krisna, yang bikin hasrat buat memiliki motor itu terus membayangi. 

“Nabung mati-matian. Pokoknya prihatin demi bisa nyisihin duit buat beli motor.”

“Momen kemenangan” saat pulang kampung

Setelah dua tahun bergelut dengan kerasnya hidup di ibu kota, perjuangan Krisna membuahkan hasil. Tabungannya akhirnya cukup untuk membeli Yamaha Aerox yang ia impikan.

Momen itu tak terlupakan. Ia bahkan mengaku tangannya gemetar saat menandatangani nota pembelian di showroom, mengingat itu adalah motor pertama yang ia beli sendiri dengan jerih payah.

“Perasaan campur aduk sih. Antara lega, bangga, tapi juga haru,” tuturnya.

Saat lebaran tiba, Krisna tak memilih bus atau kereta seperti biasanya. Ia memutuskan untuk pulang kampung dengan Aerox-nya.

Perjalanan ratusan kilometer itu terasa seperti ritual perayaan. Suara mesin Aerox yang memecah kesunyian malam di jalanan antarprovinsi seolah menjadi saksi bisu kemenangannya.

Yamaha Aerox jadi kebanggaan di desa

Ketika Aerox hijau stabilo-nya itu akhirnya memasuki gapura desa, bukan cibiran “jamet” yang ia terima. Sebaliknya, teman-teman dan tetangga menyambutnya dengan decak kagum. 

“Wah, si Krisna sudah sukses di Jakarta ya, pulang-pulang bawa motor begini!” kira-kira begitu pujian yang ia ingat.

Kedipan lampunya, suara knalpotnya yang nge-bass, dan bodinya yang dianggap “gagah”, jujur saja bikin Krisna merasa menjadi pusat perhatian.

“Ya, jujur ada rasa pengen pamer juga sih,” aku Krisna. “Setelah dua tahun susah di Jakarta, ini lho hasilnya. Aku bisa beli motor impianku pakai uang sendiri.”

Baginya, rasa pamer ini bukan kesombongan, melainkan ekspresi kebanggaan yang manusiawi atas pencapaian besar dalam hidupnya. Aerox itu bukan sekadar motor, melainkan piala atas kegigihan dan pengorbanannya. 

Ia bahkan mengaku kerap dengan sengaja memarkir Aerox-nya di teras rumah agar terlihat jelas. Itu adalah validasi yang ia butuhkan setelah bertahun-tahun berjuang.

“Ini lho, aku yang dulu cuma pakai motor butut buat ngantar bapak ke sawah, sekarang bawa Aerox,” pungkasnya, mengakhiri kisah.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Nasib Punya Motor Honda ADV 160: Jadi Simbol Kesuksesan di Desa, tapi Diolok-olok dan Dicap Norak oleh Orang Kota atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 30 Juli 2025 oleh

Tags: aeroxharga aeroxmotor yamahamotor yamaha Aeroxpilihan redaksiyamahaYamaha Aerox
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO
Fragmen

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Catatan

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO
Otomojok

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO
Urban

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kisah pengusahaan binaan program UMiMAX dari Pertamina. MOJOK.CO

Kisah Para Ibu Jual Kopi Keliling usai Suami Kena PHK, Relakan “Cincin Terakhir” agar Anak Bisa Sekolah

26 Juni 2026
UGM.MOJOK.CO

Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

24 Juni 2026
Mahasiswa Unair kuliah di Polandia, Eropa dengan beasiswa pertukaran pelajar dari Erasmus. MOJOK.CO

Jalan-jalan ke 6 Negara di Eropa dengan Beasiswa Erasmus, Mahasiswa Unair Ini Dapat Pembelajaran Berharga dari Sekadar Belajar Musik

24 Juni 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026
Gen Z, membaca, buku.MOJOK.CO

Gen Z di Indonesia, Generasi Paling Aktif Membaca tetapi Paling Tak “Terliterasi”

24 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.