Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Punya Kos Dekat Kampus Menguras Mental dan Finansial, Gara-Gara Teman Kuliah yang Sering Menginap tapi Tak Tahu Diri

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 April 2026
A A
kos dekat kampus, kos murah.MOJOK.CO

ilustrasi - kos dekat kampus (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam kehidupan perkuliahan, ada kelompok mahasiswa yang dianggap memiliki privilese sederhana tapi bikin iri mahasiswa lain: punya kos dekat kampus. Ini adalah pengetahuan umum yang rasanya disepakati oleh hampir semua mahasiswa di kota mana pun. Termasuk saya. 

Dulu, saya selalu memandang mereka dengan tatapan iri. Di kepala saya, hidup mereka pasti sangat nyaman dan tanpa beban.

Bagaimana tidak, punya kos yang cuma “lima langkah dari kampus” bikin mereka bebas dari kemacetan, tidak perlu juga keluar uang bensin. Dan, yang paling enak: bisa bangun tidur 15 menit sebelum kelas dimulai tanpa takut terlambat. 

Kos dekat kampus, jadi tempat numpang teman di jam nanggung

Namun, realitas kadang membuktikan sebaliknya. Dulu, saat masih kuliah di UNY, saya punya seorang teman perempuan yang kosnya sangat strategis, tepat di samping area kampus. Jaraknya hanya lima menit jalan kaki ke gedung fakultas. 

Karena lokasinya yang sangat strategis itu, kamarnya otomatis menjadi jujugan atau tempat mampir bagi teman-teman satu sirkelnya, setiap kali menghadapi “jam nanggung”.

Momen jam nanggung adalah kondisi, misalnya, kelas pertama selesai jam 10 pagi, tapi kelas berikutnya baru mulai jam 1 siang. Mau pulang ke kos sendiri terasa kejauhan, tapi mau nongkrong di kampus juga gabut. Akhirnya, banyak mahasiswa memilih “transit” di kos dekat kampus milik temannya.

Awalnya, semua terasa biasa saja. Ia dengan senang hati mempersilakan teman-temannya untuk sekadar rebahan, buang air, atau menumpang mengisi daya HP. Namun, lama-kelamaan, ia mulai sering mengeluh dan mengaku risih setiap kali temannya datang. 

Wajar saja, yang awalnya cuma “numpang transit sejam”, lama-lama kebiasaan ini malah jadi agenda menginap yang tidak direncanakan. Kamarnya yang kecil seringkali diisi banyak orang yang asyik mengobrol, sementara dia sendiri malah kehilangan waktu untuk beristirahat.

Bikin pengeluaran boncos

Waktu itu, ketika ia ngedumel, saya sejujurnya agak bingung. Saya sempat membatin, “Kenapa sih dia perhitungan dan risih banget? Padahal kan teman-temannya cuma numpang duduk sama rebahan sebentar.”

Kebingungan masa lalu itu akhirnya terjawab oleh cerita Dinda (21). Dinda adalah seorang mahasiswi PTN yang saat ini menyewa kamar kos persis di seberang jalan raya kampusnya. 

Lewat ceritanya, saya menyadari adanya kerugian yang kadang tak terlihat yang harus ditanggung oleh para penghuni kos dekat kampus.

Meskipun tak terlihat bagi teman-temannya, kerugian ini sangat dirasakan bagi pemiliknya, terutama pada hal-hal yang sifatnya materiil. 

“Awalnya sebelum kenal banyak teman, ya enak-enak aja. Malah kos dekat kampus itu ngirit. Tapi lama-lama sebel juga,” ujarnya, Minggu (26/4/2026).

Dinda bercerita, sejak teman-temannya sering “mampir”, pengeluarannya membengkak untuk hal-hal yang sebenarnya bukan dikonsumsi olehnya sendiri. Ia menjabarkan, misalnya, stok air galonnya yang seharusnya bisa untuk dua minggu, seringkali habis dalam waktu lima hari.

Iklan

Ia juga merasa token listrik kosnya pun jadi lebih cepat bunyi karena kipas angin menyala hampir sepanjang hari demi mendinginkan banyak orang di dalam kamar. Belum lagi urusan stok camilan yang mendadak ludes setiap kali ada teman yang numpang.

“Yang paling terasa kalau ada yang nginep sampai tiga harian, bahkan seminggu. Kadang ibu kos minta tambahan 50 ribu. Itu aku aku juga yang bayar.”

Punya kos dekat kampus, privasi terasi dikangkangi

Namun, bagi Dinda, kerugian materiil untuk beli galon atau token listrik tambahan sebenarnya belum seberapa. Hal yang paling menyiksa justru adalah hilangnya ruang privat di kamar kosnya sendiri.

Dinda menceritakan momen-momen ketika ia pulang kuliah dalam keadaan sangat lelah. Di saat seperti itu, hal yang paling ia inginkan hanyalah masuk ke kamar, melepas jilbab, lalu tidur dengan tenang tanpa gangguan.

“Pernah aku tuh capek banget, penginnya langsung tidur. Eh, pas buka pintu kamar, di dalem udah ada tiga temenku nunggu kelas sore. Mana kadang berantakan,” kata dia.

“Mau marah tapi nggak enak.”

Kamar kos yang seharusnya menjadi satu-satunya tempat paling aman dan pribadi, justru terasa seperti ruang publik yang bisa dimasuki siapa saja. Ia merasa, privasi bukan lagi, haknya. Malah sudah jadi barang mewah yang sulit didapatkan.

“Punya kos dekat kampus bukannya enak, malah enek.”

Perasaan nggak enakan yang menyiksa

Pertanyaannya kemudian, jika memang merugikan secara finansial dan menyiksa secara mental, mengapa Dinda tidak menegur atau mengusir saja teman-temannya saja?

Di sinilah letak dilemanya. Memiliki kos dekat kampus berarti harus siap berhadapan dengan belenggu rasa sungkan (atau ewuh pakewuh) yang luar biasa besar. Dinda mengaku sangat kesulitan untuk sekadar berkata “tidak” atau melarang temannya datang.

Ada ketakutan yang terus menghantuinya. Ia takut dicap sebagai teman yang pelit, sombong, atau teman yang “nggak asyik”. Di lingkungan pertemanan kampus yang serba komunal, label seperti itu bisa berujung pada pengucilan dari sirkel pertemanan.

“Gila aja kalau aku menolak. Bisa-bisa jadi bahan omongan besok,” kata dia.

Perasaan tertekan yang dialami Dinda ini, ternyata juga oleh teman kantor saya yang kini tengah melanjutkan studi S2-nya. Meski letak kosnya sebenarnya tidak dekat-dekat amat dengan kampus, kamarnya seringkali diinapi oleh teman-temannya kulihanya. Bahkan, hingga berhari-hari.

Keluhan dia, persis seperti Dinda: privasinya sangat terganggu dan ia merasa tidak punya waktu untuk diri sendiri. Namun, sama halnya dengan Dinda, teman kantor saya ini tidak berkutik dan tak berani menegur. 

Ia terbelenggu rasa sungkan karena yang datang adalah orang-orang yang sudah ia anggap sebagai teman dekat. Ketakutan akan rusaknya hubungan pertemanan ternyata jauh lebih besar daripada keinginan untuk mendapatkan kembali waktu istirahat yang tenang.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Penyesalan Pasang WiFi di Kos: Dipalak Mahasiswa yang Kerjanya Main Game Online Ramai-ramai dan Ibu Kos yang Seenaknya Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 April 2026 oleh

Tags: Kos Bebaskos dekat kampuskos jogjakos mahasiswakos mahasiswa jogjakos sekitar kampusmahasiswa ptnpilihan redaksiPTN Jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji magang di Jakarta bisa beli iPhone gak kayak kerja di Jogja

Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita

28 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker MOJOK.CO

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker

24 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.