Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
13 Februari 2026
A A
Anak yang dicap gagal penuhi standar sukses justru paling tulus merawat orang tua. Anak yang sok sibuk dan dibilang sukses malah jadi yang paling berisik soal warisan MOJOK.CO

Ilustrasi - Anak yang dicap gagal penuhi standar sukses justru paling tulus merawat orang tua. Anak yang sok sibuk dan dibilang sukses malah jadi yang paling berisik soal warisan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Yang katanya penuhi standar sukses, paling sibuk rebutan warisan

Ini bagian paling menyebalkan bagi Syahidi. Ibu Syahidi memang sudah sepuh dan sakit-sakitan. Oke, ajalnya barangkali sudah dekat. Namun, ia merasa tidak sepatutnya saja anak-anaknya sudah berebut warisan. 

Itu terjadi belum lama ini. Dua kakaknya, membawa anak dan pasangannya, beberapa kali mengajak berembuk soal warisan. 

Saat bapak mereka wafat, memang belum ada urusan bagi-bagi warisan. Kakak-kakak Syahidi sengaja menunggu sampai orang tua mereka sudah tiada keduanya. 

“Ya gontok-gontokan, Mas. Satu bilang, butuh buat anak. Satunya bilang, penting buat usaha jadi harus dapat jatah lebih besar,” jelas Syahidi. 

“Ada apa ya, paling beberapa ekor kambing, sepetak tanah, sama rumah. Rumah ibu juga jadi rebutan. Artinya, kalau rumah buat mereka, aku harus pergi, to,” sambungnya.

Syahidi merasa sedih sendiri. Sebab, orang yang katanya sudah memenuhi standar sukses secara materi, nyatanya justru yang menggonggong paling kencang soal warisan. Taek!

Sementara Syahidi menegaskan, ia sama sekali tidak peduli dengan warisan. Kalau mau, biar kedua kakaknya saja yang seperti anjing berebut tulang. Kalau toh ia nantinya terusir dari rumah, juga tidak masalah. Yang penting baginya adalah merawat ibu sebaik-baiknya sebagai bentuk baktinya pada orang tua. 

Setelah urusan merawat orang tua itu selesai, mau seperti apa hidupnya sudah tidak penting lagi. Itu prinsip yang dipegang Syahidi. 

Beda cara memaknai warisan orang tua

Tri dan Syahidi hanya sedikit contoh kasus saja. Di luar sana, masih banyak orang-orang dengan kondisi serupa: dicap gagal karena tidak mampu memenuhi standar sukses tertentu, tapi justru menjadi yang paling tulus dan telaten dalam merawat orang tua. 

Ekonom dan Sosiolog Amerika terkemuka, Gary S Becker punya teori yang cukup relevan untuk menggambarkannya (dalam buku A Treatise on the Family). Sialnya memang, di dunia ini, ada orang-orang yang memperhitungkan opportunity cost untuk urusan merawat orang tua. 

Orang-orang yang telah yang dalam posisi sukses materi—berdasarkan standar kapital—punya kecenderungan cara berpikir: waktu yang dikorbankan sepadan tidak dengan materi yang didapat. 

Fokus merawat orang tua dinilai tidak produktif. Buang waktu banyak, tapi tidak menguntungkan karena tidak ada upah yang masuk. Berbeda dengan kesibukan kerja mereka yang setiap harinya bernilai rupiah. 

Ikatan dengan orang tuanya pun menjadi ikatan transaksional. Tidak mau rugi. Itulah kenapa mereka menjadi yang paling berisik jika sudah menyoal warisan. 

Berbeda dengan ia yang memang dengan tulus merawat orang tua sebagai bentuk bakti anak. Ikatannya dengan orang tua adalah ikatan relasional, seperti teori social exchange Sosiolog Amerika lain, George Homans. 

Iklan

Bagi orang seperti Tri atau Syahidi, warisan materi tidak lagi penting dan jadi target yang harus direbut. Bagi mereka, cukup kelegaan batin telah menjadi anak berbakti. Memori-memori baik dari hari-hari bersama orang tua yang ditemani menjadi warisan paling berarti. 

Seperti Tri, memang warisan ibu hanya berupa lemari. Namun, lemari itu menyimpan kenangan bersama sang ibu: membuat Tri merasa hangat tiap kali meringkuk di dalamnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 14 Februari 2026 oleh

Tags: merawat orang tuapembagian warisanrebutan warisanstandar kesuksesanstandar suksesWarisan
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO
Sehari-hari

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO
Urban

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Skripsi Jurusan Antropologi Unair susah. MOJOK.CO

Kecintaan Mengerjakan Skripsi di Jurusan Antropologi Unair, Malah Jadi “Donatur Tetap” dan Tersadar karena Nasihat Timothy Ronald

14 April 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026
Gaji Jakarta 12 Juta Bikin Gila, 3 Juta di Magelang Hidup Waras MOJOK.CO

Daripada Menyiksa Diri Hidup di Jakarta dengan Gaji 12 Juta Sampai Setengah Gila, Pindah ke Magelang dan Hidup Waras Cukup dengan Gaji 3 Juta

16 April 2026
Sewa iPhone biar dianggap keren daripada pengguna Android

iPhone XR, Bikin Menderita Orang Kota tapi Jadi Standard “Keren” Pemuda di Desa: Rela Gadaikan Barang demi Penuhi Gengsi

17 April 2026
Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals MOJOK.CO

Musisi Tak Lagi Punya Nyali: Saat Lagu Indonesia Kehilangan The Mercy’s, Slank, dan Iwan Fals 

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.