Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 Februari 2026
A A
Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari MOJOK.CO

Ilustrasi - Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang dengan kondisi ekonomi kurang mampu atau bahkan miskin, justru bisa menjadi orang paling tulus dalam kehidupan di desa. Selalu peduli dan menjunjung tinggi kerukunan. Mirisnya, mereka justru kerap tidak dihargai. 

***

Iklan

Cerita itu saya dengar melalui sambungan telepon istri. Saya tidak menyaksikannya secara langsung, tapi dari ceritanya saja membuat saya berlinang air mata seketika. Terenyuh. 

Ketika akhirnya saya harus kembali bekerja setelah satu bulan menemani istri pasca melahirkan, seorang tetangga perempuan menawarkan bantuan untuk ikut momong bayi kami. Karena di rumah tidak ada orang, ibu saya juga harus kembali bekerja, adik saya sekolah, sementara nenek saya sudah kelewat sepuh. 

Kami mengiyakan. Kami juga sepakat untuk menyisihkan sedikit uang untuknya. Itung-itung berbagi rezeki dan sedekah atas nama anak kami. Karena kami tahu persis, tetangga saya itu dalam kondisi serba kesulitan secara ekonomi. Walaupun sebenarnya, tetangga saya itu sejak awal menegaskan hanya ingin membantu momong. Tidak lebih. 

Dan apa yang kemudian terjadi, membuka mata saya lebar-lebar: ternyata orang dengan kesulitan ekonomi di desa (kurang mampu atau bahkan miskin), memiliki ketulusan tidak terkira kepada orang lain. Itu membuat saya sedikit mengurangi ketidaksukaan saya pada kebanyakan orang di desa yang kerap menukar kepedulian dengan hitung-hitungan materiil. 

Orang kurang mampu atau miskin di desa lebih mengerti makna “membantu”

Saya sudah banyak menulis, bagaimana sistem sosial masyarakat di sejumlah desa berlangsung: tidak ada yang gratis. Bantuan harus dibalas dengan bantuan. Materi harus dibalas dengan materi, kendati istilah yang digunakan adalah “sumbangan”.

Tetangga saya itu menunjukkan makna sesungguhnya. Dalam dua bulan terakhir ini, dari kabar yang disampaikan istri, ia amat rutin naik-turun untuk menjenguk istri dan bayi saya, 

Membantu menggendong bayi kami saat istri hendak mencuci pakaian misalnya. Membantu menenangkan ketika tiba-tiba bayi dua bulan itu nangis kejer. Bahkan bersedia direpotkan untuk hal-hal lain. 

Awal bulan Februari 2026 lalu, tetangga perempuan saya itu tergelincir karena tergupuh-gupuh turun ke rumah kami (rumah kami memang ada di area perkebunan yang menjorok ke dalam) saat mendengar bayi saya menangis kencang. 

Barangkali ia terkilir. Kakinya bengkak. Beberapa hari setelahnya, ia kesulitan berjalan. 

Tidak ada imbalan yang lebih baik ketimbang rasa saling peduli dan kerukunan

Istri saya menjenguk beberapa hari setelah kejadian. Dalam kondisi masih agak sulit berjalan, ia dengan hangat menyambut istri dan bayi saya di kediamannya. 

Istri saya tahu betul, tetangga saya itu tengah mengalami banyak kesulitan ekonomi. Harus berpikir keras mengembalikan sumbangan-sumbangan pernikahan ke saudara yang nominalnya tidak sedikit. Sementara sang suami, belum bisa melaut kembali karena curah hujan tinggi dan gelombang pasang. 

Istri saya bermaksud memberi sedikit rezeki yang kami punya. Paling tidak cukup untuk berobat atau beli lauk. 

“Mbak, nggak usah begini-begini. Saya itu bantu momong ya cuma bantu. Biar Mbak’e nggak kewalahan. Sambil nunggu Ibu Mbak’e pulang kerja,” begitu jawab tetangga saya menolak. 

Istri saya juga berkali-kali minta maaf karena merepotkan. Sampai ada kejadian tidak diinginkan itu. Namun, jawaban tetangga saya: “Sesama tetangga, sesama wong cilik, yang bisa kita lakukan cuma saling peduli dan menjaga kerukunan, Mbak.”

Baca halaman selanjutnya…

Kebaikan orang miskin di desa tidak ada habisnya tapi tak dihargai hanya karena tak beri bantuan berupa materi

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh

Tags: Desaekonomi desahidup di desa transaksionalkehidupan di desakerukunan desakesulitan ekonomikesulitan ekonomi di desaorang kurang mampuorang miskin desapilihan redaksislow living di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mengenal konsep Green al-Maun dan jihad ekologi dari masjid untuk menjaga lingkungan MOJOK.CO

Dakwah Tauhid Lingkungan dari Masjid, Mempertanyakan Keimanan dari Kesadaran Menjaga Alam

26 Agustus 2026
S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

ilustrasi ketua pemuda

Jabatan Ketua Pemuda di Kampung itu Gagah, Tapi Ngenes Karena Dianggap Bisa Menyelesaikan Semua Masalah

20 Agustus 2026
Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya MOJOK.CO

Srikandi Fair dan Berkah Timnas Putri Indonesia bagi Pedagang Kudus: Ayam Geprek Habis Sebelum Waktunya

23 Agustus 2026
budidaya kenari

Perjuangan Bapak Hobi Kicau Mania: Dari Budidaya Kenari, Bisa Hantarkan Anak Meraih Gelar Sarjana 

26 Agustus 2026
Melalui hidangan Buntil Salmon, Sasanti Restaurant menghadirkan telisik gastronomi dan permakultur yang memberi pengalaman mengesankan dalam mengeksplorasi kekayaan kuliner Nusantara. (Nusaplant)

Melalui Buntil Salmon, Sasanti Restaurant Tak Hanya Bicara Rasa tapi Pertemuan Kekayaan Pangan dan Flora Nusantara

21 Agustus 2026
Proyek Hutan Tanaman Energi (HTE) untuk co-firing biomassa di PLTU langgengkan praktik perampasan tanah ala kolonial MOJOK.CO

Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Langgengkan Praktik Perampasan Lahan ala Kolonial

21 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.