Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 Februari 2026
A A
Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari MOJOK.CO

Ilustrasi - Orang dengan kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru paling tulus dalam kehidupan sehari-hari. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Dalam kesederhanaan memberi kehangatan hubungan

Saya begitu bersyukur. Kendati saya tidak cocok dengan sistem sosial yang transaksional di desa saya, tapi saya masih dikelilingi oleh orang-orang yang, kendati dalam kesederhanaan, justru memberi hubungan penuh kehangatan. 

Ada banyak cerita. Tapi saya mau ceritakan satu bagian lagi: seorang teman semasa nyantri. Orang-orang memanggilnya Arok (26), Konon karena dulu ia pernah kesurupan khodam Warok. Entahlah. 

Ada banyak kebaikannya sejak nyantri yang sulit saya lupakan. Kebaikan yang masih terus ia berikan sampai sekarang.

Sehari-hari ia dagang sayur di tetangga kecamatan saya. Tiap pulang ke Rembang, saya mesti menghampirinya: dan kami bisa kuat ngobrol seharian penuh dengan secangkir kopi lelet. 

Saya sering absen dalam beberapa momen penting hidupnya. Salah satunya saat ia menikah. Tapi ia nyaris tidak pernah absen dalam momen-momen penting hidup saya. 

Saat saya menikah, ia jadi salah satu teman yang melek sampai subuh di rumah saya. Saat detik-detik penuh pertaruhan kelahiran anak saya, ia jadi teman pertama yang langsung datang ke rumah sakit untuk menemani. 

Beberapa kali pula, tiap saya mampir ke warung sayurnya, ia memberi saya bingkisan berisi berenteng-renteng bumbu instan, kopi sachet, hingga bumbu dapur seperti cabai dan bawang. Dan ia selalu menolak dibayar. 

Sesuatu yang, kalau pakai sistem sosial yang sudah terlanjur berlaku, rasa-rasanya tidak akan terjadi. Saya absen dalam pernikahannya, seharusnya Arok juga absen di pernikahan saya. Saya tidak pernah memberinya sesuatu, mestinya ia juga bisa memilih tidak sering-sering memberi saya bingkisan. Tapi ia tidak hidup dalam sistem sosial yang membusuk seperti itu. 

Kebaikan tetangga miskin di desa yang tidak ada habisnya

Ternyata cukup banyak cerita-cerita serupa di sekitar saya: perihal betapa orang dalam kesulitan ekonomi (kurang mampu atau miskin) di desa, justru memberi kebaikan tanpa ada habisnya. 

Misalnya yang diceritakan Gandika (24), juga pemuda asal Rembang (kepada Mojok ia sudah cukup sering berbagi cerita). 

Ia masih ingat, dulu ketika kakinya patah akibat bermain bola dan harus menjalani pijat setiap hari, tetangga laki-lakinya lah yang setiap hari membopongnya. Karena di rumah ia hanya ada ibu, bapaknya saat itu masih merantau di Malaysia. 

“Ketika simbahku meninggal, dia orang yang paling repot membantu memulasara,” ungkap Gandika.

Keluarga tetangga Gandika itu masuk dalam kategori kurang mampu. Tapi, sekecil apapun sesuatu yang mereka punya, pasti tidak akan luput berbagi, karena ia hidup berpatok pada kerukunan. Misalnya, mereka punya bubur jagung, akan dibagikan ke tetangga yang lain. 

“Mirisnya, meski tulus, tidak pernah dihargai. Aku menyaksikan sendiri, ia kerap jadi rasan-rasan: ‘Bubur jagung aja dibagi-bagikan.’ ‘Modal awak thok ora menehi apa-apa (modal badan (tenaga) aja nggak ngasih apa-apa.’ Hanya karena ia cuma bisa ngasih bantuan tenaga, bukan barang yang dalam standar banyak orang dihitung berharga,” beber Gandika. Ketulusan saja ternyata tidak cukup untuk hidup di desa.  

Iklan

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh

Tags: Desaekonomi desahidup di desa transaksionalkehidupan di desakerukunan desakesulitan ekonomikesulitan ekonomi di desaorang kurang mampuorang miskin desapilihan redaksislow living di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO
Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

15 April 2026
kos eksklusif, jakarta, desa, kos.MOJOK.CO
Urban

Kabur dari Desa dan Memilih Tinggal di Kos Eksklusif Jakarta demi Ketenangan Batin, Malah Makin Kena Mental karena “Bahagia” di Kota Cuma Ilusi

15 April 2026
kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO
Edumojok

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bekerja di Jakarta vs Jogja

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Skripsi Jurusan Antropologi Unair susah. MOJOK.CO

Kecintaan Mengerjakan Skripsi di Jurusan Antropologi Unair, Malah Jadi “Donatur Tetap” dan Tersadar karena Nasihat Timothy Ronald

14 April 2026
Orang Jakarta pilih bayar iPhone dengan cicilan

Tren “Aneh” Orang Jakarta: Nyicil iPhone Bukan karena Butuh, Alasannya Susah Dipahami Orang Miskin

14 April 2026
Mahasiswa KKN di desa

KKN Itu Menyenangkan, yang Bikin Muak adalah Teman yang Jadi Beban Kelompok dan Warga Desa yang “Toxic”

9 April 2026
Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.