Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Kisah Anak Tukang Tambal Ban yang Setahun Nganggur usai Wisuda, Kini Bisa Kerja di Sekolah Internasional setelah Ratusan Penolakan

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
17 Juni 2026
A A
Perjuangan Lily usai lulus dari manajemen dakwah. MOJOK.CO

ilustrasi - perjuangan penuh asa dari Lily, lulusan manajemen dakwah. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bermodal ijazah kuliah dan gelar sarjana nyatanya tak membuat Lily (23) mudah mencari pekerjaan, apalagi dia berasal dari kampus swasta dengan Jurusan Manajemen Dakwah. Jurusan yang dianggap kurang mentereng di kalangan siswa sekolahnya pada saat itu. 

Namun, pilihan itu tidak diambil secara asal-asalan. Sejak SMA, Lily memang sudah ingin masuk jurusan tersebut karena setelah dia cari tahu, Jurusan Manajemen Dakwah menawarkan peluang karier yang luas di sektor publik, khususnya di bidang sosial.

Dia pun menggabungkan hal itu dengan minatnya di bidang pendidikan, mengingat pengalamannya mengajar anak-anak di sebuah lembaga sosial. Dari sana, ada satu pengalaman berharga yang masih dia ingat sampai sekarang.

Tamparan dari seorang anak yang tak bisa sekolah

Sebagai anak tunggal, Lily selalu diajarkan orang tuanya untuk mandiri dan menjadi perempuan yang tahan banting, apalagi dia sadar bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga yang berada. Guna mencukupi kebutuhannya sehari-hari, ayahnya bekerja sebagai tukang tambal ban sementara ibunya merupakan pekerja rumah tangga.

Meski terimpit ekonomi dan bukan dari keluarga yang berpendidikan tinggi, ibunya selalu berpesan kepada Lily agar tidak lupa berbuat baik dalam segala kondisi. 

Maka dari itu, semasa SMA, Lily sudah aktif mengajar di sebuah lembaga sosial walaupun dengan upah yang tak seberapa. Terlebih, ada satu peristiwa berharga yang mungkin tak akan dia dapatkan di luar sana.

“Dulu, ada salah satu siswa kelas 1 SD yang nggak sekolah dan belum bisa baca. Bahkan, untuk mengobrol dengan orang saja dia masih terbata-bata. Sampai akhirnya dia sering absen dan aku dapat kabar kalau dia meninggal,” ucap Lily tersendat di ujung kalimatnya.

“Aku merasa bersalah nggak bisa memahami dia. Aku baru tahu, kalau selama ini dia tidak tinggal dengan orang tuanya. Wajar kalau dia jadi tertinggal dengan anak-anak sebayanya. Rasanya aku gagal jadi orang dewasa,” lanjutnya berkaca-kaca.

Peristiwa itu membuat Lily seolah tertampar. Bahkan sampai sekarang, Lily masih rutin mengunjungi makam anak tersebut. Sekadar untuk mendoakan, sekaligus mengingat visinya.

“Kejadian itu memotivasiku untuk membuat daycare atau lembaga belajar,” ujar Lily yang akhirnya mendaftar di Jurusan Manajemen Dakwah.

Mantab memilih Jurusan Manajemen Dakwah

Sejak saat itu, Lily memutuskan kuliah di kampus swasta Jurusan Manajemen Dakwah dengan tekad mendirikan daycare maupun lembaga kursus yang mengedepankan pendidikan moral. Bahkan saat kuliah, Lily sudah membuat kursus belajar kecil-kecilan dan merekrut beberapa temannya untuk mengajar.

Namun, setelah beroperasi sekitar 4 tahun, usaha itu akhirnya tutup karena Lily terserang penyakit kronis beberapa hari setelah dia lulus kuliah. Perempuan asal Surabaya itu tak pernah membayangkan tubuhnya akan tumbang seketika.

“Aku merasa sudah makan dengan teratur, nggak pernah aneh-aneh. Tapi mungkin jarang tidur karena semuanya kulakukan sendiri. Apalagi ibuku juga sakit pada saat itu,” kata Lily. 

Karena itu, dokter memintanya istirahat penuh. Dia pun harus menjalani pengobatan hampir satu tahun. Namun, Lily tak hanya berdiam diri. Dia tetap mencari pekerjaan seperti teman-temannya yang baru lulus.

Iklan

“Dari kecil aku nggak pernah dimanja sama ayah dan ibuku. Bahkan hal sekecil masukin motor ke dalam rumah aja, harus aku lakukan sendiri. Ayahku pernah nyeletuk ‘engkok lak aku mati sopo sing nulungi? (nanti kalau aku meninggal, siapa yang akan menolong kamu?)’,” kata Lili mengingat nasihat ayahnya, Trisno.

Gelar S1 Manajemen Dakwah dianggap tak berharga

Dalam kurun waktu 5 bulan, Lily berhasil mengirim ratusan lebih lamaran kerja, tapi tak sampai 5 perusahaan yang memanggilnya untuk wawancara. Bahkan beberapa di antaranya hanya panggilan bodong.

“Waktu wawancara responsnya positif, bahkan dia bilang mau menerima aku tapi ternyata PHP. Beberapa bulan setelahnya aku nggak dapat info apa-apa. Tiba-tiba mereka menghilang gitu aja,” jelas Lily bersungut-sungut.

“Bahkan sebelum itu mereka juga bilang mau menahan ijazahku sebagai jaminan, tapi aku menolak. Suamiku juga mengingatkan agar aku waspada, takut itu cuma modus,” lanjutnya.

Lebih dari itu, Lily juga memprotes syarat yang diajukan perusahaan. Misalnya, jurusan yang harus relevan dengan jabatan yang diinginkan. Sementara, sebagai alumnus manajemen dakwah, Lily merasa tidak diuntungkan.

“Beberapa kali aku daftar sebagai HR tapi tentunya mereka cari alumni di bidang psikologi yang memahami Sumber Daya Manusia (SDM). Jadi menurutku, mereka terlalu saklek (kaku) mencari kandidat,” ucapnya.

Padahal, Lily merasa apa yang dia pelajari di Jurusan Manajemen Dakwah tidak terlalu bertentangan dengan bidang pekerjaan yang ingin dia geluti. Dan yang lebih tidak masuk akal, kata dia, adalah syarat pengalaman kerja untuk lulusan baru.

“Mereka ingin fresh graduate tapi syarat pengalaman kerja minimal 1-2 tahun. Walaupun aku punya pengalaman mendirikan kursus, sepertinya itu belum cukup. Belum lagi, tantangan AI saat ini,” kata Lily. 

Alumnus Manajemen Dakwah tak bisa disepelekan

Namun, Lily tak menyerah. Berkat ibunya yang selalu menerapkan pola pikir positif, Lily pun jadi anak perempuan yang dewasa. Hingga akhirnya, Februari 2026 lalu, Lily akhirnya mendapat panggilan kerja sebagai Trial Class Manajer (TCM) di sebuah sekolah internasional seiring dengan kondisinya yang perlahan pulih.

Dalam prosesnya, Lili harus melalui beberapa tahapan. Mulai dari seleksi berkas, wawancara bersama Human Resources (HR), wawancara dengan Supervisor (SPV), pelatihan selama 2 minggu, hingga quality control yang ditotal waktunya bisa sampai 2 bulan.

Pada tahap terakhir, Lily mengaku nyaris gagal karena kendala laptopnya yang usang dan mengharuskan dia pakai laptop teranyar, padahal dia tidak punya tabungan saat itu. Beruntung, suami Lily yang akrab dipanggil Japp mendorongnya untuk membeli laptop baru.

“Dia bantu meyakinkan aku untuk beli laptop baru dan percaya bahwa aku bisa. Dia juga yang selalu mendukungku bahkan sejak aku didiagnosis sakit dan belum diterima kerja. Alhamdulillah, berkat dukungan dia dan berbagai sunnatullah yang aku jalani, akhirnya aku diterima,” kata lulusan Manajemen Dakwah tersebut.

Meski begitu, Lily tak berhenti mengubur mimpinya untuk mendirikan daycare atau lembaga kursus. Dia ingin “menyelamatkan” lebih banyak anak yang masih tak bisa bersekolah yang seharusnya diberikan negara secara menyeluruh.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Meski Ditempa Sakit Kronis hingga Ditolak 500 Lamaran Kerja, Ibu Tak Pernah Ajarkan Saya untuk Menyerah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 17 Juni 2026 oleh

Tags: jurusan kuliahjurusan sepi peminatlowongan kerjamanajemen dakwahsosok inspiratifsulitnya mencari kerja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Pola asuh ibu yang kuatkan anak tunggal sekaligus anak perempuan satu-satunya. MOJOK.CO
Sehari-hari

Meski Ditempa Sakit Kronis hingga Ditolak 500 Lamaran Kerja, Ibu Tak Pernah Ajarkan Saya untuk Menyerah

12 Juni 2026
Jurusan kuliah di perguruan tinggi yang kerap disepelekan tapi jangan dihapus karena relevan. Ada ilmu komunikasi, sejarah, dakwah, dan manajemen MOJOK.CO
Catatan

4 Jurusan Kuliah yang Kerap Disepelekan tapi Jangan Dihapus, Masih Relevan dan Dibutuhkan di Bisnis Rezim Manapun

27 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO
Sekolahan

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026
Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja MOJOK.CO
Sekolahan

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Parenting ala orang tua desa sering ngawur di mata orang tua Gen Z MOJOK.CO

Salah Kaprah Parenting Ala Orang Tua Desa di Mata Ortu Gen Z: Malah Hambat Tumbuh Kembang Bayi, Cium Sana-Sini Tanpa Tahu Konsekuensi

16 Juni 2026
pahlawan pertama di uang rupiah mojok.co

Rupiah Melemah Bikin Kelas Menengah Makin Susah: Gaji Tak Kemana-mana, tapi Biaya Hidup Terus Melonjak

11 Juni 2026
Menggebrak Wonosobo! NOISE SPEED KILLA Pertemukan Musik Heavy Rock dan Kustom Motor.MOJOK.CO

Menggebrak Wonosobo! NOISE SPEED KILLA Pertemukan Musik Heavy Rock dan Kustom Motor

11 Juni 2026
Percepatan sertifikasi tanah wakaf di Jawa Tengah (Jateng): kesadaran pentingnya tanah dengan sertifikat MOJOK.CO

Kesadaran Sertifikasi Tanah Wakaf Warga Jateng Tertinggi Nasional, Karena Sertifikat Tempat Ibadah Penting agar Tak Jadi Masalah

16 Juni 2026
Wisata Plunyon Kalikuning Yogyakarta. MOJOK.CO

Ekspektasi Menikmati “Lantai Dua Jogja” di Plunyon Kalikuning Rusak karena Ulah Jamet dan Beberapa Spot yang Tak Terawat

15 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) akan membenahi tata kelola pertambangan MBLB dari hulu ke hilir MOJOK.CO

Pembenahan Tata Kelola Tambang di Jateng Jadi Krusial karena Tambang Ilegal Biang Masalah Hukum, Lingkungan, dan Pendapatan

12 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.