Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Seni

Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
27 Maret 2026
A A
Realitas Pahit di Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan “Dihina” Saat Kumpul Keluarga. MOJOK.CO

ilustrasi - Arga dan keluarganya dalam film "Tunggu Aku Sukses Nanti". (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Jangan takut ketinggalan kereta. Di mana ada kemauan, di situ hidup akan berikan tempat untukmu,” ucap nenek Arga dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang menjadi kutipan favorit Gen Z.

***

Di tengah maraknya film bertema keluarga, “Tunggu Aku Sukses Nanti” berhasil meraih rating 9,7/10 di aplikasi TIX ID. Selain itu, jumlah penontonnya menembus satu juta orang lebih di pekan ke-2 penayangannya pada Rabu (18/3/2026). 

Penasaran dengan hal tersebut, saya memutuskan nonton film yang disutradarai oleh Naya Anindita ini pada Kamis (26/3/2026). Sebelum menonton, saya sudah membaca ulasannya di sini. Beberapa konten soal testimoni dari penonton juga berseliweran di beranda media sosial saya.

Namun, saya masih tidak menyangka kalau kursi penonton di XXI, Sleman bakal penuh oleh penonton yang mayoritas adalah anak muda alias Gen Z. Padahal, saat saya memesan tiket secara online pada H-1 sebelumnya, penontonnya hampir tidak ada. Setelah mendengar POV dari beberapa Gen Z, saya akhirnya paham kenapa film ini begitu menarik bagi mereka.

“Tunggu Aku Sukses Nanti” sedih tapi lawak

Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” sendiri mengisahkan tentang perjuangan anak pertama laki-laki di keluarganya yang awalnya nganggur hingga dapat kerja. Ia pun dituntut untuk memenuhi ekspektasi keluarga besarnya. Serta tak luput dari sindiran tante dan sepupunya yang menganggap anak-anaknya lebih “sukses” dibanding Arga.

Pemuda itu ialah Arga yang diperankan oleh Ardit Erwandha, seorang komika yang pernah menjuarai Stand Up Comedy Indonesia season 6 (2016) dan kini menjadi aktor sekaligus penulis skenario maupun sutradara.

Ardit Erwandha. MOJOK.CO
Ardit Erwandha memerankan tokoh Arga dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti”. (Sumber: Youtube/Rapi Films)

Selain Ardit, ada beberapa komika yang ikut bermain dalam film ini yakni Soleh Solihun, Yono Bakrie, dan Arie Kriting. Bahkan ada almarhum Vidi Aldiano yang tampil sebagai cameo. Melihat dari latar belakang pemainnya saja, kita sudah bisa menebak genre film ini.

Iya, drama komedi dan keluarga. Meski begitu, film “Tunggu Aku Sukses Nanti” tidak gagal dalam menguras emosi penonton. Terutama Gen Z yang mengaku relate dengan beberapa adegan di film.

Realitas anak pertama di film “Tunggu Aku Sukses Nanti”

“Ternyata aku beneran dibikin nangis setelah nonton film ‘Tunggu Aku Sukses Nanti’,” kata Ayu Novita (25) saat dihubungi Mojok, Kamis (26/3/2026).

Ayu, sapaan akrabnya, merupakan pekerja di Jakarta yang mengalami sendiri kerasnya kehidupan di ibu kota. Mulai dari mencari kerja, bahkan setelah mendapat pekerjaan yang ia impikan. Meski harus gedebak-gedubuk seperti Arga yang dicurangi oleh teman kantornya sendiri, in this economy, kata Ayu, ia merasa tidak punya pilihan selain bertahan. 

Arga di dalam kereta. MOJOK.CO
Arga tampak kelelahan di dalam KRL Jakarta.(Sumber: Youtube/Rapi Films)

“Mau cari kerjaan lain pun ekonomi sekarang lagi susah, apa-apa mahal. Jadi saran aku buat kalian yang mau kerja di Jakarta, harus benar-benar punya nyali dan tekad kuat. Karena flow-nya memang secepat dan seseram itu,” ucap perempuan yang besar di Bogor ini.

“Kalau memang udah diterima kerja, pastikan kalau perusahaannya jelas karena udah banyak banget lowongan kerja bodong,” lanjutnya.

Keluarga miskin yang diperlakukan seperti pesuruh

Tak hanya relate dengan pekerja ibu kota, beberapa adegan di film “Tunggu Aku Sukses Nanti” juga terasa nyata bagi Nanda Syaira (23). Perempuan asal Bandung ini sengaja menyempatkan waktu bersama adik bungsunya untuk menonton film “Tunggu Aku Sukses Nanti”, di tengah keriuhan momen kumpul keluarga saat Lebaran. Siapa sangka, adik laki-lakinya itu menangis di pertengahan film.

Iklan

“Awalnya aku penasaran dengan isi filmnya, karena sudah banyak yang mengulas dan katanya mereka relate. Makanya, aku sengaja mengajak adik bungsuku untuk memberi bayangan ke dia soal kehidupan dewasa terutama saat memasuki dunia kerja,” kata Nanda yang saat ini bekerja sebagai guru SD. 

adu pencapaian Lebaran. MOJOK.CO
Momen Lebaran yang menjadi ajang adu pencapaian. (Sumber: Youtube/Rapi Films)

Dan benar saja, Nanda dan adiknya mengaku relate dengan gambaran kehidupan Arga dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti”. Khususnya di beberapa adegan saat Arga dan keluarga besarnya berkumpul di momen Lebaran. Bukannya bermaaf-maafan, acara itu justru menjadi ajang adu pencapaian.

Dalam film yang diproduksi perusahaan Rapi Films tersebut, Arga yang berasal dari keluarga kelas menengah ke bawah selalu diperlakukan tidak adil oleh saudara-saudaranya. Tak hanya dia, tapi juga ibu, ayah, dan adiknya. Misalnya, sang ibu yang selalu sibuk menyiapkan makanan di meja dan mencuci piring bersama adiknya Alma, sementara tante-tantenya bisa nyaman berfoto hingga bercengkerama. 

Lalu, ayahnya yang selalu disuruh membeli rokok atau kebutuhan lainnya di luar rumah, sementara pamannya bisa mengobrol dengan leluasa. Begitu pula Arga yang memilih tidak nimbrung dengan saudara-saudaranya karena hanya membahas soal pencapaian karier.

“Selalu ada drama membandingkan pencapaian satu sama lain yang mana mereka tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah ada. Dan aku yakin banyak yang relate dengan adegan ini, begitu juga aku,” ujar Nanda yang usianya tergolong Gen Z.

Sadarkan adik dengan nonton film “Tunggu Aku Sukses Nanti” 

Arga menangis. MOJOK.CO
Arga menangis saat mengutarakan bebannya sebagai anak pertama. (Sumber: Youtube/Rapi Films)

Pesan lain yang Nanda sorot dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti” adalah sosok Arga yang digambarkan kuat dan penuh tanggung jawab. Di sisi lain, ia juga manusia biasa yang boleh lelah dan mengeluh. 

“Aku ingin menepis stigma di masyarakat kalau cowok nggak boleh cengeng. Padahal menurutku laki-laki itu nggak apa kalau mau menangis maupun mengeluh,” ujar Nanda yang berharap adiknya bakal terbuka untuk menceritakan masalahnya sehingga tidak dipendam sendirian.

Sebab, Nanda sendiri paham betapa susahnya mencari kerja di zaman sekarang. Sebagai anak pertama sekaligus Gen Z, Nanda sudah merasakan bagaimana perjuangannya dulu mencari kerja hingga akhirnya berhasil menjadi guru di salah satu SD di Bandung.

“Qodarullah, sebagai anak yatim yang tanggung jawab dan bebannya diberikan di pundakku, aku bisa memendam dan mengusahakan semuanya sendirian,” kata Gen Z tersebut.

Mengetahui beratnya menjalani hari seperti itu, Nanda pun merasa perlu hadir di kehidupan adik-adiknya. Seperti adegan akhir dalam film “Tunggu Aku Sukses Nanti” saat Arga membelikan arum manis untuk anak-anak dan memastikan semuanya dapat di momen Lebaran. Seadil-adilnya.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: ‘Na Willa’, Merangkul Inner Child, dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 27 Maret 2026 oleh

Tags: anak mudafilm tunggu aku sukses nantiGen Ztunggu aku sukses nanti
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

tunggu aku sukses nanti.MOJOK.CO
Seni

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Ketika Sandwich Generation Bermimpi, Orang Lain Tak Kehabisan Cara Buat Mencaci

26 Maret 2026
Tabungan soft saving ala gen Z
Sehari-hari

Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda

25 Maret 2026
Alumnus UT Dapat Cuan dari Tren Foto Newspaper Photobooth di Jalan Tunjungan Surabaya. MOJOK.CO
Sosok

Alumnus UT Buka Bisnis Foto ala Newspaper di Jalan Tunjungan, Satu Cetak Hanya Rp5 Ribu tapi Untungnya Bisa Sejuta dalam Sehari

25 Maret 2026
Gen Z dapat THR saat Lebaran
Urban

3 Cara Gen Z Habiskan THR, padahal Belum Tentu Dikasih dan Jumlahnya Tidak Besar tapi Pasti Dibelanjakan

18 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kelalaian sopir truk DLH Kota Semarang bikin sampah tumpah berserakan di jalan. Langsung ditegur karena bikin masyarakat tidak nyaman MOJOK.CO

Kelalaian Sopir Truk DLH Kota Semarang bikin Sampah Tumpah Berceceran di Jalan, Langsung Terima Teguran demi Kenyamanan

26 Maret 2026
Calya, Mobil Toyota yang Ganggu Kewarasan Logika Saya MOJOK.CO

Derita Toyota Calya Adalah Penderitaan yang Mengobrak-abrik Kewarasan Logika Saya padahal Ia Adalah Pahlawan Finansial Keluarga Kelas Pekerja

24 Maret 2026
Pintu timur Stasiun Tugu Jogja, titik keberangkatan kereta api terbaik dibandingkan Stasiun Lempuyangan

Dibanding Stasiun Lempuyangan, Saya Lebih Pilih Stasiun Tugu Jogja yang Mahal dan Ramai asal Tak Harus Menahan Emosi Menunggu Jemputan

27 Maret 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur MOJOK.CO

Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur

25 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026

Video Terbaru

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026
Tiyo Ardianto BEM UGM: Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

Tiyo Ardianto: BEM UGM dan Transformasi Gerakan Mahasiswa di Tengah Krisis Politik dan Ekonomi

23 Maret 2026
Catatan Tan Malaka tentang Perburuan Aktivis 1926 yang Terlupakan

100 Tahun Naar De Republiek: Catatan Gelap Tan Malaka

20 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.