Di sisi lain, perbedaan ini menciptakan kedekatan antara Syara dan anak-anak dari berbagai Taman Kanak-Kanak yang dikunjunginya sebagai mahasiswa PAUD. Dalam kunjungan ini, logat khas Melayu membuatnya lebih akrab dengan anak-anak, bahkan dirinya dipanggil dengan sebutan khusus “Kak Ros” yang merupakan karakter serial animasi populer, Upin dan Ipin, asal Malaysia.
“Setiap mereka memanggil ‘Kak Ros’, saya merasa sangat diterima. I win dekat situ,” kata dia.
Temukan rumah kedua melalui kesempatan kuliah di Indonesia
Kesempatan untuk berkuliah di UNJ memberikan Syara tak hanya pengalaman berbeda, tetapi juga sebuah kehidupan baru. Ia mengatakan tidak pernah merasa sendirian selama berada jauh dari keluarga.
Memang, tidak jarang dirinya merasakan rindu pada negara asalnya, Malaysia.

Namun di luar itu, Syara tidak penah merasa kesepian atau kesulitan selama berkuliah di salah satu PTN yang terletak di Jakarta ini. Ia mengaku, kedekatan dengan orang-orang yang berada dalam lingkup perkuliahannya membuatnya merasa seperti berada di rumah sendiri.
Syara menyebutnya, rumah kedua.
Menurut dia, UNJ telah menjadi ruang tempatnya tumbuh, belajar, dan menemukan keluarga baru sebagai mahasiswa internasional. “Saya tidak pernah merasa asing. Semua sangat suportif,” kata dia.
“Teman-teman, dosen, dan seluruh civitas akademika membuat saya merasa berada di tengah keluarga sendiri,” tambah dia.
Berkat kemudahan ini, perempuan asal Malaysia ini berhasil menuntaskan S2 PAUD UNJ. Ia kini menyandang gelar sebagai Magister Pendidikan setelah melalui wisuda pada 13 April 2026 lalu.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














