Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
29 Juli 2026
A A
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Ngekos di bantaran Kali Code, Jogja, dengan harga Rp150 ribu per bulan jadi pengalaman tak terlupakan bagi Barkah. Lelaki asal Wonogiri ini rela tinggal di sana demi ikut bimbingan belajar (bimbel) agar lolos SNBT (dulu SBMPTN) 2018 lalu.

Kini, Barkah sudah lulus dari salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Jogja. Namun, ingatan soal kos murah dan air yang bikin gatal masih menempel di kepalanya.

Iklan

“Itu masa-masa kepepet yang kalau diingat sekarang bikin ketawa sendiri,” katanya, Selasa (28/7/2026)

Ngebet buat ngekos setelah gagal SNBP

Cerita bermula saat Barkah gagal di jalur SNBP (dulu SNMPTN). Karena telanjur ngebet masuk PTN impiannya di Jogja, ia memutuskan banting setir ikut ujian tulis.

Masalahnya, SMA tempatnya belajar di Wonogiri tidak menyediakan program bimbingan mandiri untuk persiapan ujian tersebut. Tempat bimbel di kampung halamannya juga dirasa kurang pas untuk mengejar target jurusannya.

Ia akhirnya memilih berangkat ke Jogja. Niatnya ikut bimbel intensif selama sebulan penuh sebelum hari H ujian.

Keputusan merantau ke Jogja jelas butuh biaya. Uang tabungan dan jatah dari orang tuanya sudah banyak terpakai untuk membayar biaya pendaftaran bimbel. Alhasil, ia harus mencari tempat tinggal yang paling murah.

Pilihan akhirnya jatuh pada sebuah kamar kos di kawasan padat penduduk di bantaran Kali Code. Harga sewanya sangat miring, cuma Rp150 ribu untuk satu bulan.

Kondisi kamarnya pas-pasan. Tidak ada fasilitas kasur empuk atau meja belajar bagus. Lokasinya pun berhimpitan langsung dengan rumah-rumah warga. Suara motor lewat atau orang ngobrol terdengar jelas dari dalam kamar.

“Yang penting ada atap buat tidur dan naruh barang. Waktu itu mikirnya cuma gimana caranya bisa belajar dan berangkat bimbel tiap hari,” ujar Barkah.

Ngekos murah di Jogja harus menahan rasa gatal

Namun, tinggal di pinggir kali dengan harga sewa segitu tentu ada kekurangannya. Tantangan paling berat bagi Barkah bukan soal kamar yang sempit, tetapi urusan air mandi.

Air di kamar mandi kos tersebut ternyata kurang bersih. Baunya agak anyir. Parahnya lagi, kalau dipakai mandi langsung bikin kulit gatal-gatal.

Bagi Barkah, jelas, ini jadi masalah yang lumayan mengganggu.

“Awal-awal mandi, sehabis pakai handuk itu rasanya gatal banget. Kulit sampai merah-merah,” kenang lelaki yang kini sudah bekerja di Jogja itu.

Iklan

Mau tak mau, ia harus beradaptasi. Barkah pun sedia bedak tabur anti-gatal atau bedak salicyl yang ia beli di warung dekat kos.

Bedak seribuan itu selalu ada di dekat buku-bukunya. Saban malam, ia belajar sambil sesekali menggaruk lengan atau kaki, lalu menaburkan bedak tersebut. Kalau gatalnya sedang parah, ia kadang memilih tidak mandi. Sesekali ia hanya membilas badan menggunakan sisa air galon isi ulang sekadar agar badannya terasa segar.

“Pernah ada teman ngasih saran mending mandi di SPBU, tapi kan aku malu,” ungkapnya.

Meski kosnya di Jogja kurang layak, tetap bikin betah

Meski kondisi kosnya jauh dari kata nyaman, Barkah lumayan betah. Di tengah lingkungan yang padat itu, ibu kosnya ternyata sangat baik hati dan sering berbagi makanan.

Ibu kos tersebut sering memasak dalam porsi besar. Hampir setiap malam, ia mengetuk pintu kamar Barkah untuk membagikan sisa lauk makan malam keluarganya. Lauknya sederhana, kadang tempe orek, sayur lodeh, atau telur dadar.

“Wah, itu ngebantu banget. Uang makanku jadi utuh. Lumayan uangnya bisa buat nutup pengeluaran beli bedak gatal,” katanya bercanda.

Makanan gratis dari ibu kos ini sangat menyelamatkan pengeluarannya. Ia tidak perlu pusing mencari makan malam setelah seharian lelah bimbel dan mengerjakan latihan soal.

Selama sebulan penuh, rutinitas Barkah hanya berkutat pada hal-hal itu saja: pergi bimbel, pulang ke kos, menahan gatal karena mandi air keruh, baluran bedak, dan makan lauk pemberian ibu kos. 

Ia menjalaninya begitu saja tanpa banyak mengeluh.

Usahanya tidak sia-sia. Saat hari pengumuman SBMPTN tiba, Barkah dinyatakan lolos dan diterima di PTN impiannya di Jogja.

Ia tidak pernah menyesali keputusannya ngekos di tempat seharga Rp150 ribu tersebut. Baginya, itu adalah proses yang harus dilewati karena keadaannya memang sedang pas-pasan.

“Kalau disuruh ngulang ya jelas nggak mau. Tapi seenggaknya, ada yang bisa diceritain lah buat anak cucu nanti,” tutupnya sambil tertawa.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Derita Anak Rantau di Jogja: Sulit Cari Kos Murah, Nyaris Terjebak Dunia Gelap, hingga Temukan “Berkah” di Masjid atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Juli 2026 oleh

Tags: biaya hidup jogjaBimbel JogjaJogjaKali CodeKisah lolos SNBTkos jogjakos murah jogjaKos pinggir Kali CodePejuang PTNPTNSNBPSNBT
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Usaha jasa kebersihan, Ready Clean Jogja sampai ke Turki. MOJOK.CO
Sosok

Berawal dari Kegabutan dan UMK Jogja yang “Ngenes”, Kini Mampu Kirim Pegawai ke Turki agar Gelar Sarjana Tak Sia-sia

28 Juli 2026
Nikahkan anak di Lapas Wirogunan Yogyakarta. MOJOK.CO
Kabar

Penuhi Tanggung Jawab sebagai Ayah, Seorang Napi Nikahkan Putrinya di Lapas Wirogunan Jogja

28 Juli 2026
Yamaha Sigma motor kelas bawah tapi paling bisa diandalkan MOJOK.CO
Otomojok

Yamaha Sigma adalah Motor pertama di Jogja hasil lungsuran dari bapak dan jadi saksi momen-momen paling serius dalam hidup saya

28 Juli 2026
Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang "Hidup" buat Anak-anak. (sumber: InJourney)

Candi Prambanan Tak Sekadar Bagus untuk Selfie, tapi Ruang Belajar yang “Hidup” buat Anak-anak

23 Juli 2026
Peserta Pekan Budaya Difabel di Jogja. MOJOK.CO

Pekan Budaya Difabel 2026: Saat Anak-anak Terbebas dari Stigma lewat Seni dan Terapi di Ruang Inklusif

29 Juli 2026
Dugaan Korupsi Bupati Sukoharjo: Warisan Bernama Korupsi MOJOK.CO

Bupati Pemalang Kena OTT KPK, Mengapa Kasus Korupsi Kepala Daerah Terus Berulang?

29 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026
Lulusan SMK buka jasa cleaning service. MOJOK.CO

Lulusan SMK Pernah Kerja Jadi Cleaning Service dengan Upah Rp20 per Jam, Kini Buka Usaha Sendiri hingga Hasilkan Omzet Rp70 Juta

29 Juli 2026
Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga MOJOK.CO

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga

25 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.