Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sekolahan

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Omzet Ratusan Juta di Tuban

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
29 Juni 2026
A A
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO

ilustrasi - Mila, alumnus Fapet UGM yang suka pelihara kambing sejak remaja. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” kenang alumnus Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM), Mila Arlinda dikutip dari keterangan resmi, Minggu (29/6/2026).

Siapa sangka, sarjana UGM lulusan tahun 2020 itu kini justru sukses membangun usaha peternakan modern di Kabupaten Tuban, yang dia beri nama Kerabat Ternak 1-3. Bahkan, omzetnya bisa menyentuh angka ratusan juta rupiah.

Iklan

Hobi beternak jauh sebelum menjadi mahasiswa Fapet UGM

Ketertarikan Mila pada dunia ternak sudah muncul sejak remaja, jauh sebelum dia memutuskan ingin kuliah. Tepatnya saat masih duduk di bangku SMA kelas 2 pada tahun 2014, dirinya mulai memelihara lima ekor domba.

Perempuan asal Kabupaten Tuban itu mengaku tak malu untuk beternak di tengah anggapan bahwa dunia peternakan identik dengan pekerjaan laki-laki. Tak sampai di situ, pekerjaan ini juga dianggap kurang prestisius di masa depan. 

Namun, Mila ingin membalik persepsi tersebut. Alih-alih banting setir mencari mimpi lain, Mila justru semakin bersemangat. Lahir dari keluarga sederhana, yakni ayah seorang pengusaha kayu dan ibu rumah tangga, membuatnya punya karakter mandiri dan pekerja keras.

Mila memberikan susu pada bayi kambing. MOJOK.CO
Mila sedang merawat kambing-kambing. (sumber: Fapet UGM)

Mila terus merawat lima ekor dombanya di sebuah kandang kecil, berkuliah di Fapet UGM untuk menyerap banyak ilmu, hingga lulus dan bisa membangun Kerabat Ternak bersama sang suami, Sahroni. 

Tak ingin menyia-nyiakan ilmu di Fapet UGM

Selama kuliah di Fapet UGM, Mila dikenal sebagai anak yang aktif. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatannya untuk bertanya dan belajar langsung dari para dosen, praktisi, hingga peternak senior di berbagai daerah.

Sebab Mila percaya, agar sukses membangun usaha ternak miliknya nanti, dia tidak bisa bergantung pada teori di kelas. Menurutnya, peternakan lahir dari perpaduan ilmu pengetahuan dan pengalaman lapangan. 

“Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” tegasnya.

Dan benar saja, hal itu dia rasakan langsung setelah lulus kuliah, saat bisnisnya tak selalu berjalan mulus. 

Lulus Fapet UGM, tapi masih gagal pelihara ternak

Mila pemilik ternak modern. MOJOK.CO
Mila saat ditemui tim humas UGM di kandang Kerabat Ternak, Tuban. (Sumber: Fapet UGM)

Di awal kariernya setelah lulus dari Fapet UGM, hewan ternak yang Mila pelihara sempat mati meski sudah dirawat dengan baik. Namun, setiap kali ada kematian, Mila selalu melakukan observasi sebagai bahan pembelajaran agar tidak terulang.

Justru dari kegagalan itulah, Mila semakin memahami manajemen kesehatan ternak, mulai dari pneumonia akibat perubahan suhu hingga berbagai infeksi lain yang umum menyerang kambing dan domba.

Kini, Kerabat Ternak 1-3 berkembang menjadi usaha peternakan yang tidak hanya fokus pada jumlah populasi, tetapi juga kualitas ternak dan kenyamanan hewan.

Selain kebersihan, pakan juga dikelola secara serius. Mila memiliki lahan hijauan pakan ternak seluas sekitar 1,5 hektare dan memanfaatkan pakan tambahan seperti ampas tahu serta kangkung kering untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak.

Iklan

Bangkit dari kegagalan dan fokus pada satu hal

Berbeda dengan sebagian peternak yang mengejar populasi besar, Mila dan suaminya justru lebih fokus pada kualitas dan genetika ternak. Strategi tersebut terbukti berhasil. Untuk kambing kualitas unggul, harga jual bisa mencapai Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor, sedangkan kambing lokal berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta.

Tidak hanya menjual ternak kurban dan aqiqah, Kerabat Ternak juga mengembangkan bisnis sarana produksi peternakan (sapronak) seperti susu cempe, vitamin, hingga peralatan peternakan yang dipasarkan ke berbagai daerah.

Mila memberikan arahan pegawainya. MOJOK.CO
Berdayakan siswa magang dan warga sekitar. (sumber: Fapet UGM)

Momentum Iduladha menjadi salah satu puncak usaha mereka. Dalam dua bulan menjelang musim kurban tahun 2024, omzet Kerabat Ternak disebut mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta. 

Sementara pada hari biasa, usaha aqiqah, penjualan bibit, susu, dan sapronak menghasilkan perputaran sekitar Rp50 juta per bulan. Angka itu belum termasuk hasil dari bisnis sarana produksi ternak yang berkisar Rp75 juta.

Berkat kegigihannya, alumnus Fapet UGM itu pun berhasil mengembangkan bisnisnya hingga menjadi salah satu pasar ternak yang terkenal di sekitar Jawa Timur, seperti Lamongan dan Bojonegoro.

Sukses bukan soal keuntungan pribadi

Tidak berhenti di usaha ternak, sejak 2023 Mila juga aktif mengedukasi masyarakat tentang dunia peternakan melalui media sosial khususnya TikTok. Konten-konten edukatif yang ia buat menjadi sarana berbagi ilmu sekaligus memperkuat branding bahwa dunia peternakan modern membutuhkan ilmu pengetahuan dan keterampilan lapangan.

Di sisi lain, keberadaan Kerabat Ternak juga mulai memberi dampak sosial bagi masyarakat sekitar. Saat ini Mila dan suaminya memiliki dua orang karyawan dan aktif membangun kelompok ternak bersama masyarakat.

Salah satunya dirasakan Erma, anggota kelompok ternak binaan Mila. Menurutnya, keberadaan Kerabat Ternak sangat membantu peternak kecil, terutama dalam distribusi susu kambing.

“Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.

Manfaat serupa juga dirasakan Agung Setiawan, siswa PKL dari SMK Negeri 4 Bojonegoro. Ia mengaku senang dapat belajar langsung di peternakan tersebut.

“Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini,” katanya.

Bagi alumnus Fapet UGM tersebut, kesuksesan bukan hanya soal keuntungan pribadi, melainkan bagaimana peternakan dapat menjadi ruang belajar, pemberdayaan, dan sumber penghidupan masyarakat.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sukses Tuntaskan S1 Peternakan di UGM, Saya Pilih Abdikan Diri “Mengurus” Sapi di Papua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 30 Juni 2026 oleh

Tags: alumnus UGMFakultas PeternakanFapet UGMKerabat Ternaklulusan ugmpeternakanUGM
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Menurut Pakar UGM, Pelatihan Dasar Militer (Latsarmil) calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah putih/KDMP) harus dievaluasi MOJOK.CO
Kabar

Pelatihan Militer ke Manajer Kopdes Merah Putih Perlu Didesain Ulang, Harus Lebih Relevan dengan Tata Kelola Koperasi agar Tak Ada Korban Lagi

29 Juni 2026
UGM.MOJOK.CO
Sekolahan

Berhasil Kuliah Gratis di Jurusan Mahal UGM Berkat Kebiasaan Belajar Pukul 3 Pagi dan Hobi “Nongkrong” di Perpus Hingga Malam Hari

24 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO
Sekolahan

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
pahlawan pertama di uang rupiah mojok.co
Kabar

Rupiah Melemah Bikin Kelas Menengah Makin Susah: Gaji Tak Kemana-mana, tapi Biaya Hidup Terus Melonjak

11 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
Ujian keuangan di kota perantauan gara-gara masalah tidak terduga yang datang keroyokan, bikin gagal punya tabungan MOJOK.CO

Ujian Keuangan di Kota Perantauan: Bikin Mumet dan Gagal Nambah Tabungan Gara-gara Masalah yang Datang Keroyokan

24 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026
Nasib desainer grafis di desa kabupaten: jasa desain logi dianggap gratisan, pindah Jakarta kaget ternyata cuannya menjanjikan MOJOK.CO

Jasa Desain Logo di Desa Kabupaten Dianggap Sepele hingga Jadi Gratisan, Pindah Jakarta Kaget 1 Logo Cuannya Menjanjikan

23 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.