Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal

SSB Tertua di Kota Jogja Merawat Bibit-bibit Muda Meski dari Lapangan Bola Tidak Rata

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
11 Juli 2026
A A
Beranda Liputan Suara Bawah Tanah
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Meski dari permukaan lapangan bola yang tidak rata, hampir tiga dekade salah satu SSB tertua di Kota Jogja menjadi wadah merawat bibit-bibit muda di Bumi Mataram. 

***

Seorang bocah bertubuh mungil harus lari agak patah-patah saat mengejar bola umpan dari rekannya. Di atas kontur lapangan yang tidak rata, bola tidak bisa serta-merta menggelinding mulus dalam umpan datar. Bola memantul-mantul mengikuti gelombang tanah yang ia lewati. 

Begitulah gambaran kondisi Lapangan Minggiran di Mantrijeron, Kota Jogja, sebagai homebase bagi salah satu Sekolah Sepak Bola (SSB) tertua di Kota Jogja: SSB Marsudi Agawe Santoso atau yang lebih akrab disebut SSB MAS. 

Meski begitu, sesi mini game dalam latihan pada Senin (29/6/2026) sore itu menunjukkan betapa setiap elemen terlihat sangat sungguh-sungguh. 

Meski hanya sesi latihan, tapi suasananya seperti sedang berada di tengah turnamen. Pelatih tidak henti-henti berteriak memberi instruksi hingga mengevaluasi. Anak-anak tampak kompetitif di dalam lapangan.

Sementara dari pinggir Lapangan Minggiran, Mantrijeron, para orang tua tidak mau sekadar datang untuk mengantar sang anak latihan: mereka turut bersorak dari pinggir lapangan, memberi dukungan. 

Lapangan Minggiran, Mantrijeron, yang tidak rata menjadi tantangan tersendiri dalam kontrol bola MOJOK.CO
Lapangan Minggiran, Mantrijeron, yang tidak rata menjadi tantangan tersendiri dalam kontrol bola. (Aly Reza/Mojok.co)

SSB MAS: arisan cinta pada sepak bola di Kota Jogja sejak 1998

SSB MAS terbentuk sejak 1998. Zazuli Hasan (50), Direktur Teknik (Dirtek) SSB Mas bercerita, sekolah sepak bola tersebut tercetus atas inisiasi dari para mantan pemain Persatuan Sepak Bola Marsudi Agawe Santoso (PS MAS) yang sudah lebih dulu eksis sejak tahun 1960-an. 

“Karena para pendahulu kami di PS MAS itu punya kecintaan pada sepak bola. Jadi ada keinginan lah untuk membina bibit-bibit muda di Jogja. Maka dibentuk lah SSB MAS,” jelas Zuli, sapaan akrabnya, saat ditemui di waktu senggangnya. 

Sebagaimana nama persatuan sepak bolanya: Marsudi berarti kerukunan, Agawe berarti kerja keras, sementara Santoso artinya tenteram atau sejahtera. Tiga kata itu, jelas Zuli, mencerminkan visi dari terbentuknya PS MAS dan SSB MAS. 

Dibangun untuk mempererat kerukunan antar insan sepak bola akar rumput, menjadikan kerja keras sebagai kunci untuk mencapai titik “sejahtera”—baik sebagai pemain profesional maupun lain-lain. 

Zazuli Hasan (50), Dirtek SSB Marsudi Agawe Santoso (MAS) MOJOK.CO
Zazuli Hasan (50), Dirtek SSB Marsudi Agawe Santoso (MAS). (Aly Reza/Mojok.co)

Ada beberapa nama yang turut membidani lahirnya SSB Mas, antara lain: almarhum H. Ruyono, Mbah Joyo, Maryono, dan H. Suharjiman—yang lebih akrab dengan nama Pak Pele—yang saat ini merupakan “Direktur Utama” SSB MAS. 

“Kalau di jajaran pelatih dulu di awal-awal ada legenda Timnas Indonesia: Maman Suryaman hingga Iswadi Idris,” beber Zuli. 

Zuli sendiri sebelum menjadi Dirtek SSB telah melalui banyak fase bersama Marsudi Agawe Santoso. Merantau dari Batu, Malang, untuk kuliah di Kota Jogja, alumnus Akademi Pariwisata (Akparda) Jogja itu pernah aktif sebagai pemain PS MAS pada 1996, kemudian berlanjut menjadi pelatih, dan sejak 1999—tidak lama setelah SSB MAS dibentuk—mendedikasikan diri untuk turut membina bibit-bibit muda di Kota Jogja hingga sekarang, dari masa lajang sampai berkeluarga. 

Iklan

“Bakat-bakat sepak bola dari akar rumput itu seperti tidak habis-habis. Anak-anak ini perlu jalan, perlu diantarkan ke panggung sepak bola profesional,” kata Zuli menjelaskan kenapa SSB MAS masih terus eksis hingga saat ini. 

Lapangan tidak rata: antara tantangan dan motivasi 

Ada tidak kurang dari 100 anak-anak yang ikut berlatih di SSB MAS, dari usia di bawah 12 tahun, 13 tahun, dan 14 tahun. Sementara untuk pelatih, total ada 13 orang yang mendedikasikan Senin, Rabu, dan Sabtu-nya untuk membina bibit-bibit muda tersebut. 

Kata Zuli, relatif tidak sulit untuk mencari pelatih. Toh mayoritas pelatih di SSB MAS dulunya merupakan anak-anak didik Zuli sendiri. Tantangan paling nyata adalah kondisi lapangan yang tidak rata. 

“Tadi ya, kontrol bola jadi lebih susah. Punya potensi cedera juga kalau kaki keperosok saat berlari,” tutur Zuli. 

Kendati begitu, Zuli mencoba melihat sisi positif dari kondisi tersebut. Pertama, tentu masih bersyukur SSB MAS bisa mengakses lapangan bola secara gratis di tengah gempuran lapangan berbayar di Kota Jogja (seperti Lapangan Karang dan Mancasan). 

Berikutnya, kondisi Lapangan Minggiran, Mantrijeron, yang tidak rata pada akhirnya membuat anak-anak harus berlatih lebih fokus dengan konsentrasi tinggi. 

Lapangan Minggiran, Mantrijeron, yang tidak rata jadi tantangan dan motivasi MOJOK.CO
Lapangan Minggiran, Mantrijeron, yang tidak rata jadi tantangan dan motivasi. (Aly Reza/Mojok.co)

Tanpa SPP bulanan dan upaya merawat lapangan 

Tidak ada biaya SPP bulanan di SSB MAS. Yang ada adalah iuran perdatang. Dalam sepekan SSB MAS menggelar sesi latihan sebanyak tiga kali (Senin, Rabu, dan Sabtu sore, dimulai pukul 15.30 WIB), di luar kompetisi atau turnamen tertentu yang tengah diikuti. 

 

Lihat postingan ini di Instagram

 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Marsudi Agawe Santosa (@ssb_masjogjakarta)

Iuran perdatang latihan hanya dipatok Rp13 ribu. “Dibuat seperti itu biar kalau sedang berhalangan, tidak datang latihan, tidak bayar,” jelas Zuli. 

Uang iuran itulah yang digunakan untuk operasional SSB MAS, dari perawatan rumput lapangan, melengkapi fasilitas penunjang latihan (seperti bola, cone dan marker, dan lain-lain), serta bisyarah untuk para pelatih yang tentu saja sepantasnya. 

“Perawatan rumput itu ya misalnya kalau musim kemarau seperti ini, harus rutin disiram. Kalau lagi rimbun, harus rutin dipangkas,” beber Zuli. Dalam konteks perawatan Lapangan Minggiran, lanjut Zuli, memang baru itu yang bisa diupayakan oleh para pengurus SSB MAS. 

Untuk diketahui, Lapangan Minggiran, Mantrijeron, Kota Jogja, berada di bawah kepemilikan Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Namun, untuk saat ini, pengelolaannya memang diserahkan kepada pengurus SSB MAS—yang kemudian dikelola secara swadaya. 

Para pemain bola jebolan lapangan tidak rata di Kota Jogja

Namun, Zuli tidak memungkiri, dari lapangan tidak rata itulah SSB MAS menelurkan bibit-bibit muda bertalenta yang kemudian menorehkan namanya di panggung sepak bola profesional. 

Sebut saja di antaranya Antoni Putro Nugroho yang sudah malang-melintang di sejumlah klub Liga 1 Indonesia. Di generasi muda ada nama si kembar Bagus Kafi dan Bagas Kaffa, Ronaldo Kwateh (yang ikut berlatih dari usia 9-12 tahun), serta yang paling baru adalah Savio Sheva—gelandang 25 tahun yang saat ini tercatat sebagai pemain PSIM Yogyakarta. 

“Mimpi paling dekat anak-anak SSB di Jogja itu kan bisa bermain di PSIM Yogyakarta. Itu yang ingin kami wujudkan,” ucap Zuli dengan mata berbinar. 

Sejak awal dibentuk, memang sudah tidak terhitung sejumlah prestasi dalam bentuk trofi yang ditorehkan SSB MAS di level regional maupun nasional, saking banyaknya. Namun, bagi Zuli dan para pelatih serta pengurus, prestasi terpenting sebenarnya bukan sebatas itu. 

“Yang lebih penting adalah anak-anak bisa bertumbuh, punya progres bagus, baik kalau nantinya jadi pemain bola maupun di bidang lain,” terangnya. 

Itulah kenapa, selain penguatan di aspek taktikal, variabel penting yang digembleng betul di SSB MAS adalah mental dan mindset: harus punya tekad kuat dan sungguh-sungguh jika ingin meraih cita-cita di masa depan. Apapun cita-citanya. 

SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola di Kota Jogja MOJOK.CO
SSB MAS merawat bibit-bibit muda sepak bola di Kota Jogja. (Aly Reza/Mojok.co)

Menyiapkan jalan untuk cita-cita anak-anak Kota Jogja

Khusus dalam konteks sepak bola, Zuli menjelaskan, SSB MAS berusaha semaksimal mungkin menyiapkan jalan menuju ke panggung sepak bola profesional. 

“PS MAS kan masih ada. Kan juga daftar Liga 4. Nah itu jadi wadah. Jadi habis dari SSB MAS, anak-anak bisa ke PS MAS untuk menjajal Liga 4,” papar Zuli. 

Selain itu, Zuli juga mengoptimalkan keberadaan koneksi di Elite Pro Academy (EPA) hingga PSIM (dari tim junior-tim utama). 

“Kami akan sangat bangga lah jika berhasil mengantar anak-anak kami di SSB MAS ke panggung sepak bola profesional,” tutur Zuli. 

Terlebih, memang ada beberapa orang tua yang benar-benar menitipkan anaknya untuk digembleng secara serius. Bahkan, lanjut Zuli, ada orang tua yang sampai minta sesi privat khusus ke pelatih. 

Para orang tua yang mengantar sekaligus memberi dukungan pada anak-anaknya MOJOK.CO
Para orang tua yang mengantar sekaligus memberi dukungan pada anak-anaknya. (Aly Reza/Mojok.co)

Di Bumi Mataram, mimpi pada bola masih menyala dari jalanan dan pelataran paving

Menjadi bagian dari PSIM Yogyakarta memang menjadi mimpi yang masih menyala di hati anak-anak Kota Jogja. 

Dalam Suara Bawah Tanah edisi Kota Jogja, Kota Bola (?) ini, Mojok menemui bagaimana sepak bola terus dihidupkan. Di tengah komersialisasi lapangan bola, anak-anak akhirnya memanfaatkan sisa ruang kota yang tersedia. 

Pada Kamis (9/6/2026) sore WIB, di salah satu sudut Ngampilan, Kota Jogja, Mojok menyaksikan bagaimana anak-anak kampung berlari riang dengan kulit bundar di jalanan kampung beraspal nan sempit. Mojok juga memotret gairah sepak bola anak-anak di pelataran paving Masjid Gedhe Kauman.

Di sudut lain Kota Jogja, anak-anak bermain di jalanan kampung MOJOK.CO
Di sudut lain Kota Jogja, anak-anak bermain di jalanan kampung. (Ade Rizky/Mojok.co)

Lapangan tidak rata dan jalanan aspal barangkali bisa diromantisasi: bagaimana di ruang atau sudut yang terbatas, anak-anak masih bisa mengasah skill-nya mengolah si kulit bundar.

Hanya saja, merujuk temuan David Baker dan Jean Côté dalam Developmental Sport and Exercise Psychology: A Lifespan Perspective (Routledge, 2003): keberhasilan atlet elite tidak hanya bergantung pada bakat alami atau jam latihan, tetapi juga pada tersedianya fasilitas yang memadai sehingga latihan dapat berlangsung secara konsisten dan berkualitas.

Dalam konteks sepak bola, kualitas lapangan bahkan berkaitan langsung dengan proses belajar teknik dasar. FIFA Quality Programme for Football Turf Handbook (FIFA, edisi terbaru 2023) menjelaskan bahwa permukaan lapangan yang rata menghasilkan pantulan dan guliran bola yang konsisten.

Anak-anak bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman Jogja. MOJOK.CO
Anak-anak dan remaja membaur untuk bermain bola di Pelataran Masjid Gedhe Kauman Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Hal tersebut membuat pemain muda lebih mudah mengembangkan first touch, passing accuracy, hingga kemampuan menerima bola. Sebaliknya, permukaan yang tidak rata menyebabkan arah pantulan bola sulit diprediksi sehingga proses pembelajaran teknik dasar menjadi kurang optimal.

Oleh karena itu, keberadaan fasilitas lapangan bola yang tidak hanya memadai, tapi juga gratis, tetap menjadi sesuatu yang didambakan. 

Tulisan ini merupakan bagian ketiga sekaligus terakhir dari Reportase Khusus Mojok.co Suara Bawah Tanah edisi “Kota Jogja, Kota Bola (?)”

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA: Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya atau reportase khusus Mojok lainnya di Suara Bawah Tanah

 

Terakhir diperbarui pada 11 Juli 2026 oleh

Tags: lapangan bola di jogjalapangan bola gratis di jogjalapangan mantrijeronlapangan minggiranpilihan redaksipsimssb di jogjassb di kota jogjassb mas jogja
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Orang tua, ibu.MOJOK.CO
Urban

Sulitnya Menjadi Ibu Muda Tanpa Cela di Ibu Kota: Parenting Dituntut Sempurna, tapi Sudah Digempur Stres Kerja

10 Juli 2026
Senjakala Lapangan Sepak Bola di Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya.MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Senjakala Lapangan Bola di Kota Jogja yang Makin Berjarak dengan Warganya

9 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO
Catatan

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Lapangan Bola di Kauman, Jogja. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Lapangan Paving: Kemewahan yang Tersisa bagi Anak-anak Kota Jogja untuk Bermain Bola

7 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lulus dari Universitas Mataram lanjut ke University of Queensland Australia. MOJOK.CO

Kisah Awardee LPDP yang Tak Ingkar Janji: Dulu Hanya Bocah Penggembala Kuda, Kini Jadi Asisten Gubernur NTB

6 Juli 2026
Selain ke petugas Sensus Ekonomi, warga desa juga jengah dengan program sensus dari mahasiswa KKN MOJOK.CO

Warga Desa Juga Jengah dengan Sensus dari Mahasiswa KKN: Tak Nemu Gunanya, Tak Srawung tapi Korek Privasi Orang

8 Juli 2026
Terima Kasih No Na! "Udah Siap Belum?" Akhirnya Mengalahkan "Mas Bahlil Ganteng" di Kepala Bocil

Terima Kasih No Na! “Udah Siap Belum?” Akhirnya Mengalahkan “Mas Bahlil Ganteng” di Kepala Bocil

6 Juli 2026
Tahlilan di desa. MOJOK.CO

Gen Z di Desa Ogah-ogahan Ikut Tahlilan Bikin Cemas Para Tetua: Bisa Hilang Budaya Srawung dan Peduli Tetangga

8 Juli 2026
Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa tapi malah laris MOJOK.CO

Berdasarkan pengamatan saya, Vario 160 adalah motor Honda paling buruk rupa, tapi malah laris kebangetan dasar aneh

7 Juli 2026
Saat mengantar anak mencari kos untuk persiapan kuliah di PTN Jogja: anak antusias jadi mahasiswa baru (maba), orang tua justru menyimpan kecemasan yang tidak hanya persoalan UKT mahal MOJOK.CO

Saat Antar Anak Cari Kos dan Tak Sabar Jadi Maba, Ortu Tampak Antusias tapi Diam-diam Sembunyikan Cemas

8 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.