Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Video Sri Mulyani soal “Guru Beban Negara” Memang Hoaks, tapi Isinya adalah Fakta

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
21 Agustus 2025
A A
sri mulyani, guru beban negara.MOJOK.CO

Ilustrasi - Video Sri Mulyani soal “Guru Beban Negara” Memang Hoaks, tapi Isinya adalah Fakta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebuah video, yang menampilkan Menteri Keuangan Sri Mulyani ngomong “guru sebagai beban negara” memang telah dikonfirmasi sebagai hoaks oleh yang bersangkutan. Kendati demikian, Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menegaskan bahwa di balik pelabelan hoaks tersebut, ada fakta yang tercermin terkait dengan nasib guru di negeri ini.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Pandemic Talks (@pandemictalks)


“Inti dari narasi yang beredar tersebut, yakni ‘negara menganggap guru sebagai beban’, adalah fakta yang didukung oleh kebijakan pemerintah selama ini,” ujar Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, dalam keterangan tertulisnya kepada Mojok, Kamis (21/8/2025).

Dalam video asli yang menjadi sumber hoaks, Sri Mulyani menyoroti gaji dan tunjangan guru sebagai tantangan bagi keuangan negara. Ia bahkan mempertanyakan, “Apakah semuanya harus dari keuangan negara ataukah ada partisipasi dari masyarakat?”

Pertanyaan tersebut dipandang Ubaid telah mencerminkan tiga masalah utama yang menunjukkan bahwa negara, melalui kebijakan anggarannya, memang memandang guru sebagai beban.

Alasan (fakta) guru dianggap beban anggaran

Ubaid memandang, setidaknya ada tiga alasan mengapa pemerintah, setidaknya melalui kebijakan anggarannya, menganggap guru sebagai beban. Pertama, karena pemerintah tidak paham kewajiban konstitusional.

Gaji dan tunjangan guru adalah amanat Undang-Undang Dasar 1945, yang mewajibkan pemerintah mengalokasikan 20 persen anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk pendidikan. Dana tersebut mencakup alokasi untuk gaji para pendidik.

“Pertanyaan (Sri Mulyani) tentang partisipasi masyarakat dalam pembiayaan ini sama saja dengan melepaskan tanggung jawab negara,” tegas Ubaid. “Pemenuhan hak guru adalah sebuah keharusan, bukan pilihan, dan seharusnya tidak dibebankan kepada masyarakat.”

Pola pikir keliru tersebut, pada akhirnya melahirkan masalah kedua, yakni kebijakan tidak tepat sasaran—yang pada akhirnya menjadi beban anggaran.

Masalahnya, kata Ubaid, kalau negara merasa terbebani masalahnya bukan pada jumlah guru. Melainkan pada “alokasi anggaran pendidikan yang tidak tepat sasaran dan praktik korupsi yang masif”. 

Ia mencontohkan, dalam rancangan APBN 2026, pemerintah justru memprioritaskan program-program non-pendidikan yang kontroversial seperti program makan gratis (MBG), ketimbang fokus pada peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru.

Kondisi ini berakibat fatal. Banyak guru, termasuk guru madrasah, harus menunggu antrean hingga lebih dari 50 tahun untuk mendapatkan sertifikasi dan tunjangan profesi. 

Iklan

“Ini fakta ironis di tengah klaim pemerintah tentang perhatiannya pada pendidikan,” ujarnya.

Beban sebenarnya adalah korupsi, bukan para pendidik ini

Masalah ketiga, Ubaid menekankan bahwa beban nyata bagi negara bukanlah guru yang menjadi ujung tombak pendidikan, melainkan para pejabat yang tidak memiliki integritas dan melakukan korupsi. Mereka yang seharusnya menjadi teladan justru menghabiskan uang rakyat.

“Mereka sudah mendapatkan fasilitas mewah, tapi tetap saja melakukan korupsi,” kata Ubaid. “Anggaran pendidikan yang seharusnya dialokasikan untuk meningkatkan kesejahteraan guru dan kualitas pengajaran, justru habis karena praktik korupsi. Ini membuat negara sulit memenuhi kewajiban konstitusionalnya.”

Atas dasar itu, JPPI pun mendesak pemerintah untuk segera mengubah cara pandangnya yang menganggap guru sebagai beban, bahkan seperti komoditas yang bisa “dimurah-murahkan.” 

Menurut JPPI, gaji para pendidik ini harus dipandang sebagai hak yang wajib dipenuhi oleh pemerintah, bagian dari kewajiban konstitusional.

“Sudah saatnya pemerintah berhenti mencari kambing hitam dan fokus pada perbaikan sistem anggaran yang adil dan transparan,” kata dia. 

“Guru bukanlah beban negara. Melainkan jantung dari investasi bangsa dan pembangun peradaban, yang pantas dihargai dan disejahterakan. Bukan hanya secara finansial tetapi juga secara martabat,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Anggaran Pendidikan “Disunat” demi MBG, Pemerintahan Prabowo Abaikan Konstitusi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 21 Agustus 2025 oleh

Tags: anggaran pendidikangaji guruguruguru beban negaraguru honorerjppipilihan redaksisri mulyani
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

buku remy sylado.MOJOK.CO
Seni

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO
Esai

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Kopi starling dan kopi keliling: cuma Rp5 ribu tapi beri suntikan kekuatan pekerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel) untuk survive kerja tanpa Work Life Balance MOJOK.CO
Urban

Kopi Starling Cuma 5 Ribu tapi Beri Kekuatan Pekerja Jaksel Survive Tanpa Work Life Balance, Ketimbang 50 Ribu di Coffee Shop Elite

14 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasihat rezeki dan keuangan dari ibu-ibu penjual angkringan di Jogja yang bisa haji 2 kali MOJOK.CO

Wejangan Rezeki dan Uang dari Ibu Penjual Angkringan, Membalik Logika Ekonomi Anak Muda yang Anxiety in this Economy

11 Mei 2026
Atmosfer kompetitif di Campus League 2026 – Basketball Regional Samarinda Season 1 MOJOK.CO

Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung

11 Mei 2026
Joki UTBK SNBT di Surabaya raup cuan Rp700 juta demi kebutuhan hidup. Kedokteran jadi incaran MOJOK.CO

Joki UTBK SNBT Bisa Raup Rp700 Juta: Buat Kebutuhan Hidup karena Keterbatasan, Cuan Gede dari Jurusan Kedokteran

10 Mei 2026
bapak-bapak nongkrong.MOJOK.CO

Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

11 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
lulusan unesa dapat beasiswa dan langsung kerja. MOJOK.CO

Lulus Sarjana Dapat Tawaran Beasiswa S2 dari Rektor, Elpanta Pilih Langsung Kerja sebagai Pegawai Tetap di Unesa

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.