Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Aktual

Anggaran Pendidikan “Disunat” demi MBG, Pemerintahan Prabowo Abaikan Konstitusi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
19 Agustus 2025
A A
efisiensi anggaran, anggaran pendidikan indonesia.MOJOK.CO

Ilustrasi - Anggaran Pendidikan Disembelih (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) melayangkan kritik keras terhadap Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026. Alih-alih memprioritaskan amanat konstitusi untuk pendidikan dasar tanpa biaya, pemerintah justru mengalihkan porsi terbesar anggaran pendidikan, hampir separuh atau setara 44,2 persen, untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

JPPI menilai kebijakan ini sebagai pelanggaran serius terhadap kewajiban konstitusional negara.

Menurut data yang dirilis pemerintah, total alokasi anggaran pendidikan dalam RAPBN 2026 mencapai Rp757,8 triliun. Jumlah ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah dan memenuhi mandat konstitusi sebesar 20 persen dari APBN. 

Namun, Koordinator Nasional JPPI Ubaid Matraji menyebut, angka fantastis ini tidak sebanding dengan peruntukannya.

“Ini bukan soal besaran anggaran, tapi soal prioritas. Konstitusi kita, Pasal 31 UUD 1945, secara eksplisit mengamanatkan pemerintah untuk membiayai pendidikan dasar,” kata Ubaid, dalam keterangan tertulisnya kepada Mojok, Selasa (19/8/2025).

“Tidak ada satupun pasal yang memerintahkan negara untuk membiayai program makan gratis. Tapi mengapa MBG ini sangat diprioritaskan, bahkan dengan dana yang naik berlipat-lipat hingga mencapai Rp335 triliun?”

Abaikan Putusan MK dan UU Sisdiknas

Kritik JPPI tidak hanya bersandar pada konstitusi, tetapi juga pada putusan Mahkamah Konstitusi (MK). Ubaid Matraji menegaskan, Presiden RI Prabowo Subianto telah mengabaikan dua putusan MK yang memerintahkan implementasi sekolah tanpa pungutan biaya. 

Putusan tersebut, kata Ubaid, yaitu perkara nomor 3/PUU-XXII/2024 (27/5/2025) dan perkara nomor 111/PUU-XXIII/2025 (15/8/2025). Dua putusan ini secara jelas mewajibkan negara untuk menjamin pendidikan dasar, baik di sekolah negeri maupun swasta, bebas dari biaya.

Putusan MK ini seharusnya menjadi sinyal darurat bagi pemerintah untuk menata ulang anggaran agar sejalan dengan amanat hukum. Namun, alokasi anggaran yang condong ke program MBG justru menunjukkan prioritas yang salah. 

“Pemerintah seolah memilih memenuhi janji kampanye, sementara kewajiban konstitusional yang telah ditegaskan MK malah diabaikan,” tambah Ubaid.

makan gratis, pendidikan krisis. MOJOK.CO
Banner makan gratis, pendidikan gratis dalam aksi. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Selain itu, JPPI juga menyoroti kejanggalan dalam alokasi anggaran untuk sekolah kedinasan yang kembali disisipkan dalam pos anggaran pendidikan. Ubaid menjelaskan bahwa hal ini bertentangan dengan UU Sisdiknas Pasal 49 yang mengamanatkan. bahwa alokasi anggaran pendidikan wajib diprioritaskan untuk pemenuhan pendidikan dasar hingga menengah.

“Sekolah kedinasan yang diselenggarakan oleh kementerian atau lembaga seharusnya memiliki pos anggaran tersendiri, bukan dari alokasi 20 persen pendidikan yang seharusnya fokus pada pemenuhan hak dasar anak-anak Indonesia,” tegas Ubaid.

JPPI menuntut adanya transparansi penuh terkait besaran anggaran sekolah kedinasan yang disisipkan dalam RAPBN 2026 tersebut.

Tinjau Ulang Anggaran Demi Kualitas Pendidikan

Kesenjangan antara alokasi anggaran dan kebutuhan riil pendidikan di Indonesia juga menjadi sorotan. Meskipun Indonesia memenuhi alokasi 20 persen APBN, kualitas pendidikan masih jauh tertinggal. 

Iklan

Laporan Bank Dunia menunjukkan, meskipun alokasi anggaran Indonesia sama besarnya dengan Vietnam, peringkat pendidikan Indonesia jauh di bawah Vietnam. Hal ini mengindikasikan bahwa masalah pendidikan bukan hanya soal uang, tetapi juga efektivitas dan tepat sasaran dalam pengelolaannya.

Oleh karena itu, JPPI mendesak pemerintah untuk segera meninjau ulang alokasi anggaran yang dianggap “ngawur” ini. Pemerintah harus kembali ke jalur konstitusi, menempatkan prioritas pada pembiayaan pendidikan dasar yang berkualitas untuk seluruh anak Indonesia, baik di sekolah negeri maupun swasta.

“Sudah saatnya pemerintah menyadari dan memahami: mana saja kewajiban konstitusional yang harus didahulukan untuk ditunaikan, mana pula janji-janji kampanye yang dipenuhi kemudian,” pungkas Ubaid. 

Kritik ini diharapkan menjadi pemicu bagi perdebatan publik dan legislatif untuk memastikan bahwa anggaran negara, khususnya di sektor pendidikan, benar-benar digunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan sekadar untuk memenuhi janji politik.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pemprov Jabar “Jalan Sendiri”: Pendidikan Amburadul, Anak Jadi Korban, dan Cetak Rekor Memalukan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 19 Agustus 2025 oleh

Tags: anggaran pendidikanmakan bergizi gratisMBGPendidikanpendidikan indonesiaPrabowo Subianto
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Aktual

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Mencoba Menghabiskan Makanannya MOJOK.CO
Esai

Niat MBG Itu Mulia: Cerita Guru Wali Kelas yang Harus Memastikan Siswa Mau Menghabiskan Makanannya

1 April 2026
Jalan rusak di Taniwel, Maluku. MOJOK.CO
Sehari-hari

Ratusan Anak Sekolah di Kabupaten Seram Bagian Barat Dibiarkan Menderita dari Tahun ke Tahun oleh Maluku

30 Maret 2026
MBG untuk sahur dan berbuka di bulan Ramadan
Sehari-hari

Sahur dengan MBG, Nilai Gizinya Lebih Cocok untuk Mahasiswa ketimbang Anak Sekolah

24 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Beasiswa MEXT U to U di Jepang lebih menguntungkan daripada LPDP. MOJOK.CO

Tolak Daftar LPDP untuk Kuliah di LN karena Beasiswa MEXT U to U di Jepang Lebih Menguntungkan, Tak Menuntut Kontribusi Balik

6 Mei 2026
Lulusan UNJ berkebun di Bogor. MOJOK.CO

Alumnus UNJ Jurusan Pendidikan Bahasa Perancis, Pilih Berkebun di Bogor sekaligus Ajak Warga Keluar dari Jurang Kemiskinan

8 Mei 2026
Vakum 6 Tahun, LA INDIE MOVIE Hadir Kembali Cari Talenta Perfilman Indonesia MOJOK.CO

Vakum 6 Tahun, LA INDIE MOVIE Hadir Kembali Cari Talenta Perfilman Indonesia

7 Mei 2026
Merasa terkecoh saat kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) gara-gara ulah mahasiswa organisasi ekstra hingga dosen cabul MOJOK.CO

Kuliah di UIN dengan Ekspektasi Tinggi: Berujung “Terkecoh” karena Fakta Tak Sesuai Tampilan Luar dan Menyimpang

7 Mei 2026
Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
modus kekerasan seksual.MOJOK.CO

Jejak Digital Kekerasan Seksual Bikin Trauma Anak Berkepanjangan, Pemulihan Korban Tak Cukup Hapus Konten

9 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.