Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Hitung Mundur Menuju Matinya Bus Purwo Widodo, Satu-satunya Andalan Rute Wonogiri-Jogja yang Terancam Gulung Tikar Meski Tak Punya Saingan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Maret 2024
A A
Mendahului Purwo Widodo, Bus Tuyul Andalan Penglaju Jogja-Kulonprogo Lebih Dulu Almarhum Meski Tak Punya Saingan.mojok.co

Ilustrasi Mendahului Purwo Widodo, Bus Tuyul Andalan Penglaju Jogja-Kulonprogo Lebih Dulu Almarhum Meski Tak Punya Saingan (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Purwo Widodo merupakan bus legendaris yang menjadi andalan masyarakat Wonogiri untuk bepergian ke Kota Jogja. Namun, setelah 40 tahun lebih mengaspal, bus ini berada di “ambang kematiannya”. Padahal, mereka tak memiliki pesaing yang mengancam eksistensinya.

Bagi Alifia (29), sinyal kematian bus Purwo Widodo bikin dia merasa sedih. Sebab, bus ini adalah teman setia selama dia kuliah di Jogja pada 2014-2017 lalu. 

“Bahkan pas udah lulus dan kerja di Jogja pun kalau pulang kampung masih beberapa kali pakai Purwo,” kenang Alifia, saat Mojok hubungi, Kamis (7/3/2024).

Perempuan asal Baturetno, Wonogiri, ini merupakan alumnus Universitas Gadjah Mada (UGM). Ibu rumah tangga yang akrab disapa Fia ini mengaku kalau dulunya dia adalah mahasiswa yang sering mengalami homesick. Buat mengobatinya, ia pun selalu memanfaatkan libur akhir pekan untuk pulang ke rumah.

Dan, satu-satunya moda transportasi yang menyelamatkannya dari perasaan rindu rumah itu adalah Purwo Widodo. Bahkan, saat dia wisuda, sanak familinya memilih buat menggunakan Purwo Widodo alih-alih sewa mobil sebagaimana mahasiswa kebanyakan.

“Soalnya dulu Purwo emang merakyat banget. Busnya orang Wonogiri. Selain mie ayam bakso, orang Jogja tahu Wonogiri gara-gara Purwo.”

Purwo Widodo mulai sepi penumpang sejak pandemi Covid-19

Sejak menikah dan menetap di Jogja, Alifia mengaku sudah jarang naik Purwo Widodo. Seingatnya, terakhir kali saat libur lebaran 2018 lalu. Kini, bersama suami dan anaknya, Alifia lebih suka pulang kampung dengan mobil.

Namun, ia mengaku orang tuanya terkadang masih sering menggunakan Purwo Widodo ketika mengunjungi cucu mereka yang berada di Jogja. “Kata bapak, sih, sekarang sepi, udah banyak kursi kosong. Keberangkatan juga enggak jelas waktunya,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan Mojok pada Jumat (8/3/2024) pagi sekitar pukul 8.30 WIB, tak ada armada Purwo Widodo yang terparkir di Terminal Giwangan. Lokasi ini merupakan tempat pemberhentian terakhir bus dari arah Wonogiri, sekaligus mengambil penumpang untuk rute sebaliknya.

Biasanya, Purwo Widodo biasa ngetem bersama bus-bus lain yang berada rute Jogja-Wonosari-Baturetno. Sebelum pandemi Covid-19, setidaknya ada 8-10 waktu keberangkatan dari Terminal Giwangan. Paling pagi pukul 4.30 WIB, sementara paling malam pukul 20.00 WIB.

Sayangnya, menurut agen bus Purwo Widodo yang Mojok temui, Wardiman, kini jumlah waktu keberangkatannya tak menentu. Paling banyak bahkan hanya tiga kali saja dari terminal.

“Paling pagi jam-jam subuh, kemudian jam 10, dan paling sore jam 2,” kata Wardiman. “Bahkan momen-momen tertentu cuma jalan dua kali, jam 10 sama jam 2 saja,” sambungnya. Ini menjelaskan mengapa saat datang ke Terminal Giwangan, Mojok tak menjumpai keberadan bus tersebut.

Armada reyot dan tarif mahal jadi alasan penumpang meninggalkan Purwo Widodo

Wardiman mengakui, saat tiba di terminal, ia kerap melihat banyaknya kursi kosong di dalam bus. Armada yang biasanya mengangkut 50-60 penumpang ini kerap hanya terisi setengahnya saja. Terkadang malah kurang.

Pria asal Baturetno ini sebenarnya cukup sangsi mengapa banyak penumpang meninggalkan bus ini. Namun, jika boleh menerka, salah satu alasannya karena armada bus yang mulai tak prima lagi. Seingatnya, dalam sepuluh tahun terakhir saja, Purwo Widodo hanya sekali memperbarui armadanya.

Iklan

Alhasil, armada-armada lama yang sudah tak layak jalan tetap dipaksa mengaspal. Tak jarang sering kejadian bus tak kuat naik tanjakan bahkan mogok di jalan yang sudah tentu bikin dongkol penumpang. “Udah gitu harganya juga lumayan [mahal] sekarang, Mas. Hampir tiap tahun naik,” katanya.

Untuk informasi, saat terakhir Alifia naik Purwo Widodo (2018) tarif Jogja-Wonogiri sekitar Rp25 ribu. Pada 2021 kemarin (semasa pandemi) tarif naik lagi menjadi Rp40 ribu. Sedangkan per hari ini tarifnya sudah di angka Rp60 ribu. Sebagai perbandingan, PO Bus Ramayana untuk rute Jogja-Semarang saja hanya punya tarif Rp70 ribu sekali jalan. 

“Kalau pakai motor Wonogiri-Jogja bensin 30 ribu aja masih sisa. Makanya malas pakai bus,” ujar Wardiman.

Mojok juga menemui pasangan pasutri yang kelihatan sedang menunggu bus Purwo Widodo di Terminal Giwangan. Agustian, nama sang lelaki, mengaku kalau dia masih setia menggunakan bus tersebut karena memang tak ada opsi transportasi umum lain yang menghubungkan Jogja dengan Wonogiri. “Pakai travel lebih mahal,” ungkapnya.

Baca halaman selanjutnya…

Busnya para tukang bakso. Eksis sejak 1981.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 Maret 2024 oleh

Tags: Jogjapilihan redaksipo buspo bus purwo widodopurwo widodowonogiri
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co
Urban

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

kuliah di jurusan sepi peminat.mojok.co

Nekat Kuliah di Jurusan Sepi Peminat PTN Top: Menyesal karena Meski Lulus Cumlaude, Ijazah Dianggap “Sampah” di Dunia Kerja

2 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.