Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Cerita Para Penikmat Promo Ojol yang Bertahan Hidup dari Potongan Harga

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Juli 2025
A A
promo ojol, driver ojol.MOJOK.CO

ilustrasi - promo ojol (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bagi banyak orang, promo ojol bukan sekadar tempelan banner di aplikasi. Ia adalah penolong. Potongan harga ini sangat membantu kelangsungan konsumen dan driver ojol.

***

Bagi Sasa (19), mahasiswi rantau asal Lampung yang kini kuliah di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ojol bukan sekadar transportasi. Ia adalah “teman yang akrab”. Ia sampai menyebut, barangkali dirinya lebih sering ketemu driver ojol ketimbang tetangga satu kosnya.

Padahal, pertemuannya dengan ojol itu baru setahun ke belakang. Mengingat desa asalnya itu amat pelosok, layanan ojek online belum sampai di sana. Adanya di pusat kota saja.

Awal mula dia mengenal ojol pun gara-gara pengalaman buruk kena omelan Pemandu Kedisiplinan PKKMB UNY. Gara-garanya ia datang terlambat 5 menit sampai di kampus. 

“Kosku di dekat GOR Klebengan, Mas. Kira 1,5 kilometer dari kampus. Dulu niatnya masih bisalah jalan kaki, lewat perkampungan kan dekat. Tapi karena PKKMB itu nuntut datang jam 5.30, aku telat sampai kampus,” ujarnya berkisah pada Mojok, Minggu (29/6/2025).

Gara-gara kejadian itu, ia pun trauma. Alhasil, sebagai mahasiswa yang tak membawa motor sendiri di perantauan, ia pun memanfaatkan ojol agar tak terlambat lagi sampai di kampus.

Makin diandalkan karena promo ojol melimpah

PKKMB selesai, Sasa merasa kalau dirinya bisa kembali ke niat awalnya jalan kaki ke kampus. Toh, jadwal kuliahnya tak sepagi saat PKKMB.

Ia juga berpikir, kalau sehari-hari harus mengandalkan ojol, uang sakunya bisa tekor. Apalagi ia cuma dijatah uang saku Rp500 ribu per minggu oleh orang tuanya.

“Biar sehat dan hemat, Mas. Dulu mikirnya gitu,” ungkapnya.

Namun, masalah baru muncul. Jarak 1,5 kilomter dari kos ke kampus, ternyata tak sedekat yang ia bayangkan. Apalagi, ketika pukul 7 pagi matahari Jogja panasnya sudah menyengat.

Walhasil, ketika sampai kampus ia sudah gobyos, keringat mengalir di sekujur badannya. Itu tak cuma membuatnya tak nyaman, tapi juga mengganggu fokus belajarnya.

Ia pun akhirnya coba-coba lagi pakai ojol. Sesekali tidak apa-apalah, pikirnya. Tapi lama-lama ketika ia hitung, biayanya tak semahal dugaannya.

“Tarif normalnya itu 9 ribu. Kadang kalau pakai promo ojol atau koin, bisa 7 ribu atau 8 ribu aja, Mas. Sehari nggak sampai lah 20 ribu buat pulang pergi,” ujarnya.

Iklan

Ketika ia tanya teman-temannya yang laju, biasanya uang bensin mereka Rp25 ribu sehari. Dengan demikian, ia merasa kalau biaya harian buat ojol yang ia keluarkan masih worth it. 

“Apalagi diskon-diskon juga sering pakai, jadinya makin murah, Mas.”

Motor sudah panas sejak azan Subuh selesai berkumandang

Sementara Sasa menikmati kemudahan dan kehematan diskon ojol, di sudut kota yang sama, Budi (32), seorang lelaki asli Sleman. Ia adalah seorang driver ojol yang sudah lima tahun mengaspal di jalanan Jogja.

Setiap harinya, Mas Budi memulai perburuannya sejak pagi-pagi buta. Setelah menunaikan salat Subuh, motornya sudah panas, jaket hijau sudah terpakai, tanda dirinya siap menjemput rezeki. 

“Pagi-pagi gini biasanya ngejar penumpang yang mau ke stasiun atau yang mau kuliah pagi ke UGM sama UNY, Mas,” cerita Budi, yang Mojok temui di Indomaret Point Colombo, dekat UNY, Minggu (29/6/2025) pagi.

Bagi Budi, orderan pagi adalah modal utama untuk mengejar target harian. Kata dia, “mengamankan pundi-pundi rupiah sebelum jalanan makin padat dan persaingan ketat.”

“Makin siang itu biasanya makin susah dapat orderan, Mas, soalnya banyak yang udah on. Kalau pagi begini, jam-jam saya gacor,” imbuhnya.

Tak masalah ada potongan gara-gara promo ojol, asal orderan gacor

Budi menjelaskan, dari setiap orderan diselesaikan, penyedia layanan ojol mengambil 20 persen sebagai komisi. Misalnya, jika tarif perjalanan Rp10 ribu (jarak dekat), ia hanya menerima Rp8 ribu.

Dalam sehari, Budi biasanya menyelesaikan 15 hingga 25 orderan. Sepuluh di antarnya biasanya sudah kepegang saat jam baru menunjukkan pukul 9 pagi. Dengan, penghasilan kotornya bisa mencapai Rp200.000 hingga Rp250.000 per hari. Setelah dipotong uang bensin, makan, dan komisi, uang bersih yang didapatnya rata-rata Rp100 ribu sehari.

“Jujur aja, Mas, awalnya ya berat. Angka 20 persen itu kayak sayang aja kalau dipotong ke rezeki kita,” ujarnya.

Kendati demikian, Budi mengaku mulai berpikir kreatif. Gara-gara potongan 20 persen itu, ia merasa mulai hafal dengan “algoritma” orderan yang masuk. Ia pun bisa “menyusun strategi” bagaimana dirinya bisa mengambil keuntungan dari komisi 20 persen yang dibebankan padanya.

“Karena potongan 20 persen, makanya lebih enak saya ambil trek dekat aja, Mas. Under 2 kilometer karena hemat juga di bensin. Memang nggak seberapa dapatnya. Tapi bisa sering dapat, dan kalau dihitung sama potongan, kerasa lebih ringan,” ujarnya.

“Saya ngerasa algoritma orderan saya dapatnya trek dekat terus, makanya milih ngebid (mangkal) di sekitaran kampus.

Kalau mau jujur, Budi mengaku menjadi driver ojol memang tak seenak dulu. Sebab, kini persaingan makin ketat. Namun, kata Budi, bedanya dulu sebelum ada promo segencar sekarang, kadang menunggu orderan bisa sangat lama.

Kini, begitu ada banyak promo ojol, orderannya mengalir terus. Sehingga, kata dia, walaupun dipotong tapi uang itu balik lagi dalam bentuk orderan yang stabil setiap hari. 

“Alhamdulillah, gacor terus, Mas.”

Pernah ditolong asuransi saat musibah menghampiri

Budi sempat terdiam, pandangannya beralih ke pergelangan tangan kirinya.

“Ada satu kejadian yang bikin saya merasa ditolong juga, Mas,” katanya, suaranya sedikit pelan. “Beberapa bulan lalu, pas lagi nganter penumpang malam-malam, saya kena senggol mobil dari samping. Enggak parah sih, cuma motor penyok sedikit dan tangan saya keseleo,” imbuhnya, menjelaskan.

Untungnya, saat itu Budi langsung lapor ke customer service ojol. Ia bermaksud mengklaim asuransi kecelakaan yang memang menjadi tanggung jawab aplikator.

“Alhamdulillah biaya pengobatan tangan sama perbaikan motor di-cover semua,” jelasnya.

Kemudahan yang dialami Sasa dan berkah yang didapat Budi, sebenarnya berakar dari hal yang sama. Keduanya merupakan hasil dari komisi 20 persen yang diambil penyedia layanan ojol.

Dalam keterangan resminya kepada Mojok, pihak Gojek menyebut bahwa potongan komisi 20 persen tidak semata-mata menjadi keuntungan perusahaan. Sebagian besar dari potongan tersebut diputar kembali ke dalam ekosistem ojol. 

Misalnya, dalam kasus Sasa dan Budi, komisi 20 persen digunakan untuk membiayai operasional, termasuk memberikan diskon bagi penumpang dan penyediaan asuransi bagi driver.

Hal ini sebagaimana pernah disampaikan Chief of Public Policy and Government Relations GoTo, Ade Mulya. Ia menyatakan, dana dari komisi 20 persen dialokasikan untuk berbagai inisiatif penting guna menjaga keberlangsungan order dan peluang pendapatan mitra driver. 

Termasuk di dalamnya adalah promosi dan diskon pelanggan, insentif tambahan bagi mitra, perlindungan asuransi perjalanan, serta biaya operasional lainnya. ***

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Melihat Ulang Komisi 20 Persen Ojol: Untuk Siapa dan Untuk Apa? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 7 Juli 2025 oleh

Tags: driver ojolojek onlineojolpromo ojol
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Menormalisasi memberi bintang 5 ke driveri ojek online (ojol) meski tidak memuaskan. Bintang 1 bikin rezeki mereka seret MOJOK.CO
Catatan

Ngasih Bintang 5 ke Driver Ojol meski Tidak Puas Tak Rugi-rugi Amat, Tega Hukum Bintang 1 bikin Sengsara Satu Keluarga

2 Mei 2026
kurir dan driver ShopeeFood. MOJOK.CO
Catatan

Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

28 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO
Sehari-hari

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026
Event bulu tangkis Daihatsu Indonesia Masters 2026 di Istora Senayan jadi berkah bagi driver obol Jakarta MOJOK.CO
Ragam

Berkah di Luar Arena: Ojol Jakarta Terciprat Bahagia dari “Pesta Rakyat” Indonesia Masters 2026 di Istora

20 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kos di Jogja, kos campur.MOJOK.CO

Tinggal di Kos Campur: Lebih Murah dan Layak, tapi Harus Kuat dengan Kelakuan Minus Penghuninya, Jorok dan Berisik

5 Mei 2026
Zero post di Instagram cara hidup tenang Gen Z. MOJOK.CO

Gen Z Lebih Tenang Tanpa Feed Instagram (Zero Post), Aslinya Bukan Misterius Cuma Capek Mengejar Validasi dan Ingin Melindungi Diri

7 Mei 2026
Kerja kantoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel): terlihat elite tapi Work Life Balance sulit MOJOK.CO

Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah

10 Mei 2026
Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa? MOJOK.CO

Gaji Dosen Belum Sejahtera, Sekarang Prodinya Mau Ditutup Pula. Negara Ini Sebetulnya Mau Apa?

6 Mei 2026
burung migrasi.MOJOK.CO

Menyusutnya Populasi Burung Migran Jadi Alarm Tanda Bahaya bagi Bumi

9 Mei 2026
Atmosfer kompetitif di Campus League 2026 – Basketball Regional Samarinda Season 1 MOJOK.CO

Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung

11 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.