Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Jalan Panjang “Pramoedya Ananta Toer” Menjadi Nama Jalan di Blora, Dan Semoga Tak Dirayakan Sebatas Itu

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
27 Desember 2024
A A
Nama Pramoedya Ananta Toer (Pram) jadi nama jalan di Blora MOJOK.CO

Ilustrasi - Nama Pramoedya Ananta Toer (Pram) jadi nama jalan di Blora. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nama sastrawan legendaris, Pramoedya Ananta Toer, tinggal menghitung waktu diresmikan menjadi nama jalan di Blora, Jawa Tengah, sebagai kota kelahirannya.

Usulan mengabadikan nama Pramoedya Ananta Toer sebagai nama jalan sebenarnya sudah mencuat sejak lama. Pengusulnya adalah adik kandung Pram sendiri: Soesilo Toer.

Mbah Soes, begitu saya memanggilnya, pertama kali mengusulkan gagasan tersebut kepada Bupati Blora peiode 2010-2015, Joko Nugroho.

Usulannya adalah mengganti nama Jalan Sumbawa menjadi Jalan Pramoedya Ananta Toer. Yakni jalan menuju arah rumah masa kecil Pram yang kini ditinggali oleh Mbah Soes sekaligus menjadi Perpustakaan PATABA (Pramoedya Ananta Toer Anak Blora Asli).

Pramoedya Ananta Toer: simbol “kekayaan” Blora

Bagi Mbah Soes, Pram adalah simbol “kekayaan” Blora. Bahwa Blora bisa melahirkan tokoh sastrawan sekaliber Pram, yang karya-karya sastranya seperti Bumi Manusia, telah mendunia.

Setidaknya hingga hari ini, Pram bahkan tercatat sebagai satu-satunya sastrawan Indonesia yang diusulkan masuk nominasi penerima Nobel Sastra.

Mbah Soes pun juga mengusulkan nama sang ayah, Mastoer, menjadi nama jalan di Blora. Menggantikan nama Jalan Halmahera (arah SMPN 5 Blora). Sebab, dulu, Mastoer diakui sebagai bapak pendidikan di Blora.

Sayangnya, tidak ada respons melegakan dari pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora di ere Joko Nugroho.

Hitungan hari Pramoedya Ananta Toer menjadi nama jalan di Blora

Nyaris di setiap peringatan haul Pram pada 6 Februari, Mbah Soes menyinggung perihal pengabadian nama Pram sebagai nama jalan.

Setelah bertahun-tahun tak mendapat respons melegakan, kini tinggal menghitung hari nama Pram resmi menjadi nama jalan di Blora, menggantikan nama Jalan Sumbawa, seperti yang Mbah Soes mau.

Bupati Blora 2019-2023 sekaligus Bupati terpilih untuk periode selanjutnya, Arief Rahman, tengah menyiapkan proses peresmiannya. Airef menyebut, pihaknya berencana meresmikan Jalan Pramoedya Ananta Toer pada Februari 2025 nanti, bertepatan dengan peringatan haul sebadab Pram.

Peringatan haul tersebut, kata Arief, akan digelar secara meriah selama tiga hari dalam rentang 6-9 Februari 2025.

“Putri Pram sudah bertemu dengan tim penyelenggara (haul). Semua (persiapan haul dan peresmian jalan) sedang dimatangkan,” terang Arief dalam wawancaranya bersama Radar Kudus belum lama ini.

Arief juga berencana mengundang Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, untuk menghadiri acara tersebut.

Iklan

Barangkali hanya formalitas

September 2024 lalu, Arief memang sudah meyakinkan akan merealisasikan nama Pramoedya Ananta Toer sebagai nama jalan di Blora. Meski belum diresmikan, waktu itu sempat ada plang nama bertuliskan nama “Pram”.

Sayangnya, penulisan nama Pram dinilai salah. Harusnya Pramoedya Ananta Toer (masih pakai ejaan lama). Tapi yang tertera justru “Pramudya Ananta” (pakai ejaan baru dan kurang “Toer”.

Mbah Soes sempat kesal dengan kekeliruan ini. Baginya, nama leluhur atau pahlawan harus ditulis lengkap dan secara benar. Sebab itu adalah wujud penghormatan.

“Barangkalai hanya formalitas. Bupati Arief hanya mendompleng nama Pram untuk keperluan kampanye politiknya. Biar terlihat dia sosok intelek dan peduli literasi,” ujar seorang pembaca karya-karya Pram asal Blora yang enggan disebut namanya.

Begitulah anggapan pembaca Pram itu waktu itu. Anggapan yang masih sama sampai sekarang, saat tinggal menghitung hari saja nama Pram akan resmi menjadi nama jalan.

“Bagi saya, Pram bukan semata simbol. Lebih dari itu, kalau pakai nama Pram, Pemkab Blora juga seharusnya sadar literasi. Bagaimana membuat program pertumbuhan literasi di Blora. Nyatanya mereka tidak serius di bidang ini,” sambungnya.

Nama sastrawan layak jadi nama jalan

Saya lalu mencoba menghubungi Janoary M. Wibowo. Pegiat literasi yang aktif mengelola Rumah Baca Cepu Baca Buku di Cepu, Blora.

“Blora sebagai tempat kelahiran Pram, saya pikir sah-sah saja apabila akan mengganti nama Jalan Sumbawa dengan nama Jalan Pramoedya Ananta Toer. Terlepas apa pun motif pemerintah di balik penggantian itu. Bagi saya tetap menjadi nilai positif,” ujarnya dalam sambungan telepon, Jumat (27/12/2024) pagi WIB.

Setidaknya, lanjut Janoary, ada sastrawan yang namanya dijadikan sebagai nama jalan. Menjadi “pembeda” di antara nama-nama jalan yang kebanyakan tokoh pergerakan, pemimpin, gunung-gunung, pulau-pulau, dan bunga-bungaan.

“Setidaknya, hal itu boleh optimistis dibaca sebagai—meskipun masih jauh dari sepantasnya—wujud kesadaran pemerintah terhadap pentingnya literasi di Indonesia secara keseluruhan,” tutur Janoary.

“Seru pastinya kalau tiap kota, setidaknya, punya satu jalan bernama sastrawan kelahiran kota tersebut,” imbuhnya.

Pram menjadi nama kesekian dari sedikit nama sastrawan yang namanya diabadikan sebagai nama jalan di tempat asalnya. Sebelumnya, ada nama H.M. Yamin yang menjadi nama jalan di Medan; Marah Roesli sebagai nama jalan di Padang; atau yang paling baru adalah Joko Pinurobo yang jadi nama jalan di kampungnya di Wirobrajan, Yogyakarta.

Nama-nama sastrawan patut diabadikan. Sebab, imbuh Janoary, bagaimana pun mereka lah yang merawat salah satu warisan kebudayaan tertua Indonesia: sastra.

Semoga tidak hanya merayakan nama

Janoary memang lega dengan pengabadian nama Pram sebagai nama jalan. Itu menjadi salah satu jalan agar orang Blora “ngeh” bahwa Blora pernah melahirkan sosok sastrawan kaliber. Karena, bagaimana pun, banyak orang Blora yang tidak begitu ngeh.

Dengan adanya nama Pram, siapa tahu mereka akan mencoba mencari tahu dan mempelajari siapa sebenarnya sosok bernama Pramoedya Ananta Toer itu?

“Pram sebagai simbol literasi semoga tidak hanya dirayakan namanya saja. Tapi juga membaca atau mendiskusikan karya-karyanya,” harap Janoary.

Pemerintah setempat—dalam hal ini Pemkab Blora—juga harus ambil bagian. Pemkab Blora harus sadar, kota kecil berjuluk Kota Mustika itu pernah melahirkan sastrawan sekaliber Pram. Maka, selanjutnya, bagaimana melahirkan “Pram-Pram baru”. Pemkab Blora perlu serius menumbuhkan kesadaran literasi di Blora.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Jika Pramoedya Ananta Toer Jadi Guru Sastra Indonesia

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

 

 

 

Terakhir diperbarui pada 27 Desember 2024 oleh

Tags: blorajalamn pramoedyapilihan redaksiPramoedya Ananta Toersastrawan indonesia
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

slow living, jawa tengah, perumahan, desa.MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
perumahan, tinggal di desa, desa mojok.co
Urban

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Catatan

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa Jogja nugas di coffee shop

Nugas di Kafe Dianggap Buang-buat Duit, padahal Bikin Mahasiswa Jogja Lebih Tenang dan Produktif

6 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Sisi Gelap Gudeg Jogja Harga Naik, Makin Dihina Orang Tolol MOJOK

Sisi Gelap di Balik Naiknya Harga Gudeg Jogja Langganan yang Membuat Stigma Buruk Semua Gudeg Itu Mahal Makin Dihina Orang Tolol

9 April 2026
Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung MOJOK.CO

Kerja di Pabrik, Kuliah S2, dan Dihajar Asam Lambung

6 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang

8 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.