Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Rasanya Magang di Instansi Pemerintahan Jogja: Duit Seret, Pengalaman pun Nggak Dapet! Gambaran Kusutnya Birokrasi Negara

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
7 Juli 2024
A A
Rasanya Magang di Instansi Pemerintahan Jogja: Duit Seret, Pengalaman pun Nggak Dapet! Gambaran Kusutnya Birokrasi Negara.MOJOK.CO

Ilustrasi - Rasanya Magang di Instansi Pemerintahan Jogja: Duit Seret, Pengalaman pun Nggak Dapet! Gambaran Kusutnya Birokrasi Negara (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Konon, kalau ingin melihat watak asli seseorang, caranya adalah dengan mendaki gunung. Sementara kalau ingin melihat bobroknya birokrasi negara, maka magang di instansi pemerintahan adalah jalannya. Seperti itulah kalimat yang diungkapkan Berta* (26), saat kami bertemu di sebuah warung kopi pada Minggu (7/7/2024) malam. Enam bulan magang di sebuah instansi pemerintahan Jogja, perempuan ini tahu betul betapa inkompentennya orang-orang yang bekerja di sana.

Perempuan ini mengaku beruntung hanya enam bulan kerja magang di kantor tersebut. Kata dia, lebih lama sedikit saja, mungkin dia bakal menjadi gila.

Iklan

“Jangan ekspektasi apa-apa deh, nggak stres aja udah bagus,” katanya kepada Mojok. “Udah duit seret, pengalaman pun juga nggak dapet.

Sebenarnya, sekitar tiga bulan lalu Berta sempat membagikan ceritanya ini di Twitter (X). Namun, saat itu ada banyak orang yang memintanya menghapus. Kebanyakan dari orang-orang kantor tempatnya pernah magang.

Sempat mengabaikannya, akhirnya Berta terpaksa menghapus utasnya karena mulai ada ancaman. “Udah kinerja nggak jelas, masih juga antikritik,” kata Berta, dengan sisa-sisa kejengkelan yang masih ia rasakan.

Menyaksikan pejabat habiskan Rp200 ribu untuk sekali makan

Lulus dari UGM pada akhir 2022 lalu, Berta belum memutuskan untuk mencari pekerjaan tetap. Alasannya, ia ingin kerja di luar Jogja. Makanya, sebelum memutuskan merantau, Berta ingin memperbaiki CV terlebih dahulu dengan magang di beberapa tempat, termasuk instansi pemerintahan–sesuai dengan ijazahnya.

Sejak akhir 2022 hingga awal 2024 lalu, total ia kerja part time dan magang di tiga tempat. Salah satunya di instansi pemerintahan Jogja, yang menurutnya lebih banyak kesan negatifnya daripada baik-baiknya.

Berta magang di instansi tersebut dari pertengahan hingga akhir 2023. Selama itu juga, cerita-cerita miring soal pejabat yang selama ini cuma bisa didengarnya via gosip, ia saksikan secara langsung.

“Paling sederhana aja soal omongan kalau pejabat itu sering buang-buang anggaran, boros. Nah, itu valid,” kata Berta. “Pernah aku nyusunin anggaran makan mereka untuk suatu acara. Dan, gila banget sekali makan bisa 200 ribu, coy!,” imbuhnya terheran-heran.

Lebih menyebalkan lagi, kata Berta, di acara yang sama audiens umum rata-rata hanya dipatok anggaran makan Rp25 ribu. Itupun pada realitasnya, peserta acara tak benar-benar dapat makanan seharga tersebut.

Itu baru soal makan. Belum lagi kalau mereka mendapat undangan acara di luar kota, budget yang dikeluarkan bisa berkali-kali lipat dari kebutuhan yang seharusnya.

“Kayak misalnya ada undangan nih ya, ke Solo katakanlah. Itukan bisa dilaju ya, paling pakai mobil sejam. Tapi mereka minta anggaran nginep hotel dan tetek bengek lain yang jumlahnya besar banget. Biasanya sih sekalian dipake liburan bareng keluarga.”

Ada pejabat yang mengoperasikan word dan ppt saja tidak bisa

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, mengapa banyak pejabat punya asisten yang tugasnya menuliskan catatan pribadi buat mereka, membuatkan materi, hingga menyusun power point untuk keperluan acara. Tak sedikit yang menduga kalau mereka terlalu sibuk atau memang malas bikin sendiri, padahal aslinya memang tak bisa.

Perangkat lunak sederhana semacam Microsoft Word saja mereka gagap, apalagi yang lebih rumit. Kata Berta, ini kejadian di para pejabat yang umumnya sudah berumur.

Iklan

“Makanya nggak usah heran, di kantor segala pekerjaan yang berurusan dengan word aja, itu dikerjain asisten. Anak magang kayak aku, pernah handle juga,” kata Berta.

“Mereka dapat lho padahal, laptop mahal dari kantor. Ya tapi itu dipake sama anak-anak mereka buat kuliah, kayak gitu-gitu.”

Alhasil, pekerjaan sesederhana apapun para pejabat ini tak bisa menyelesaikan. Paling absurd, Berta pernah diminta mengubah file dari format pdf ke excel. “Padahal kalau tahu teknologi dikit aja, itu bisa dikerjain nggak sampe 5 menit. Zaman sekarang AI buat convert-convert gitu tinggal cari di Google, Pak, Bu!”

Magang di instansi pemerintahan, duit dan pengalaman yang didapat sama kecilnya

Meski orientasinya adalah mencari pengalaman dan memperbaiki CV, Berta tetap tak memungkiri kalau uang tetap ia kejar. “Apalagi aku statusnya kan ya sama-sama tenaga kerja juga, masa nggak berharap duit, sih,” ujarnya.

Sayangnya, enam bulan magang di instansi pemerintahan Jogja, uang yang dia dapatkan sangat kecil. Bayaran yang diterima Berta lebih kecil dari tenaga honorer di sana, yang rata-rata cuma diupah Rp1,5 juta per bulan. Padahal, di kantor tersebut banyak juga PNS yang mendapat gaji pokok dan tunjangan besar.

Apalagi, saat Berta masuk, ada juga mahasiswa yang ikut menjalani magang. Parahnya, karena mereka dianggap “masih mahasiswa”, tak ada upah yang diberikan.

“Itungannya aku masih beruntung. Dapat kecil banget, tapi ternyata ada yang sama sekali nggak dibayar,” kata dia.

Duit nggak dia dapat, apalagi pengalaman. Jujur, Berta mengaku punya ekspektasi tinggi saat pertama masuk magang. Minimal, relasinya jadi luas, kenalan-kenalannya dengan orang-orang tersohor makin banyak.

Sayangnya, di selama magang di instansi pemerintahan itu, Berta lebih banyak mengerjakan hal-hal sepele–yang idealnya bisa dikerjakan sendiri oleh pejabat. Sementara hal-hal penting, tak pernah sekalipun dia kerjakan.

“Jadi, ya, nggak dapat apa-apa. Duit enggak, pengalaman apa lagi!,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Pengalaman Mahasiswa Magang di DPR RI, Ternyata Tidak (Selalu) Seburuk Omongan Orang

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2024 oleh

Tags: instansi pemerintahan jogjaJogjamagangmagang di instansi pemerintahanmagang di instansi pemerintahan jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon.MOJOK.CO
Eksplor

Untuk Jogja Menjadi Kota Wisata Rendah Emisi Karbon

15 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO
Urban

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Evakuasi anjing terbuang dari tangan para jagal di Jogja MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Evakuasi Anjing Terbuang dari Operasi Senyap Para Jagal di Jogja, Kebal Intimidasi dan Caci Maki

10 Juni 2026
Sanksi untuk Jagal Anjing di Daerah Istimewa Yogyakarta yang Tertunda Realisasinya. MOJOK.CO
Suara Bawah Tanah

Jalan Terjal Menghentikan Operasi Jagal Anjing karena Dianggap Kurang Penting

9 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran.MOJOK.CO

Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran

22 Juni 2026
Angkringan di Stasiun Lempuyangan Jogja jadi tempat meleram kegelisahan MOJOK.CO

Angkringan Lempuyangan Jogja Berisi Rindu, Kegagalan, dan Beban Finansial Para Pejuang Perantauan

22 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah (Jateng) pastikan pengurusan dokumen izin untuk nelayan gratis MOJOK.CO

Nelayan Kecil di Jateng Kini Bisa Urus Izin Kapal Gratis, Tinggal Lapor kalau Kena Pungli

22 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
dosen.MOJOK.CO

Butuh Biaya Puluhan Juta Demi Ijazah S2-S3, tapi Negara Malah “Melegalkan” Dosen Digaji di Bawah UMR

23 Juni 2026
Gubernur Jawa Tengah imbau warga Jateng terbuka saat Sensus Ekonomi 2026 MOJOK.CO

Imbauan buat Warga Jateng saat Sensus Ekonomi 2026: Harus Terbuka karena Penting, Data Pribadi bakal Dijaga Kerahasiaannya

18 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.