Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Coba-coba Naik Bus Eksekutif Agra Mas: Semula Takut Naik Bus Malah Jadi Ketagihan, Merasa Katrok karena Fasilitas Melebihi Kereta Api

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
8 Juli 2025
A A
Bus luragung jaya.MOJOK.CO

Ilustrasi - Bus sensasi naik bus (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pernahkah kamu terbayang, bagaimana rasanya tiba-tiba “naik kasta” dalam urusan transportasi? Dari yang biasanya cuma akrab dengan kursi tegak kereta ekonomi, lalu tiba-tiba dijamu “fasilitas sultan” di atas bus eksekutif PO Agra Mas. 

Roni (23), mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), menjadi salah satu orang yang naik kasta itu. Selama ini, ia punya pakem sakral: pulang-pergi Jakarta-Jogja cuma mau pakai kereta api.

Alasannya sederhana. Ia takut naik bus karena membayangkannya saja sudah bikin perut mual dan kepala pusing. Sementara kereta api, selain tiket lebih murah, Roni rasakan lebih aman dan nyaman.

“Parno aja mungkin, ya. Soalnya tiap kali lihat berita isinya kecelakaan bus gitu, jadinya di kepala udah ada mindset kalau bus itu ugal-ugalan. Jadi takut,” ujarnya kepada Mojok, Minggu (6/6/2025).

Sementara kereta api, bagi dia, masih menjadi transportasi paling worth it sedunia. Harganya murah meriah, aman, dan bebas drama macet di jalanan. 

Apalagi kalau dia berhasil “war tiket” KA Bengawan yang harganya cuma Rp74 ribu. Rasanya seperti ketiban hoki berkali-kali.

Takdir membawanya ke PO Agra Mas

Meski punya “fobia naik bus” , takdir berkata lain. Waktu itu musim liburan semester. Kira-kira pertengahan 2024. Di kala Roni mencoba cari tiket kereta api untuk pulang ke Jakarta, ternyata tiket-tiket KA Bengawan sudah ludes tak bersisa. 

“Bahkan aku filter untuk dua minggu ke depan, juga udah ludes,” kata dia.

Sementara yang tersisa, tinggal tiket kereta api kelas premium dan eksekutif yang harganya lumayan bikin dompetnya menjerit. 

Bayangkan saja, harga tiket kereta api ekonomi lainnya bisa mencapai Rp200-300 ribu. Sementara tiket premium dan eksekutif KAI Jogja-Jakarta rata-rata di atas Rp350 ribu—bahkan ada yang menyentuh Rp400-600 ribu,  tergantung keretanya.

Di tengah kegalauan akut itu, entah semesta sedang menggodanya, tiba-tiba dia melihat promo bus eksekutif PO Agra Mas. Jika harga normal bus eksekutif Jogja-Jakarta berkisar Rp250-300 ribu, dengan promo itu, seingatnya dia hanya perlu membayar sekitar Rp125 ribu.

“Nggak beda jauh sama KA Bengawan,” pikirnya.

Roni, yang saat itu nyaris tak punya opsi lain, akhirnya memutuskan naik bus eksekutif tadi. Daripada naik bus Patas atau AKAP, paling tidak fasilitas kelas eksekutif lebih mendingan, pikirnya.

Tanpa pikir panjang, tiket promo kereta eksekutif PO Agra Mas ke Jakarta pun mendarat di tangannya. Ia sudah siap dengan semua risiko, termasuk jika harus muntah-muntah di jalanan.

Iklan

“Ya gimana lagi. Daripada nggak pulang kampung, ya kan.”

Terjebak di kemewahan kursi bus yang bikin asing

Saat hari H keberangkatan tiba, Roni melihat bus Agra Mas yang megah terparkir di kantornya. Katanya, ia seperti melihat bus-bus pariwisata yang siap membawa rombongan orang study tour.

Ketika masuk, ia lebih kaget lagi. Sesederhana kursi saja, ternyata melebihi ekspektasi yang ia bayangkan. Empuk, rapi, nyaman diduduki, dan bisa di-setting untuk tidur. Nggak seperti kereta ekonomi yang kursinya memaksa duduk tegak berjam-jam. 

Tak lupa juga ada sandaran kaki (leg rest) di sana.

Sesekali ia celingukan, merasa katrok. Sebab, ada juga bantal dan selimut yang disediakan oleh bus eksekutif PO Agra Mas ini.

“Ini mah kasur berjalan,” gumamnya kala itu, menceritakan ulang perasaannya kepada Mojok.

Baginya, itu adalah kemewahan ekstra yang jarang ditemukan di kereta ekonomi. Dia bahkan sempat mencoba menekan semua tombol di samping kursinya, khawatir ada yang terlewat, katanya. Sebelum akhirnya puas dengan posisi duduk nyaman. 

“Merasa katrok aja sih. Soalnya baru pertama kali tahu. Hahaha.”

Sensasi perjalanan tanpa mual, sebuah pencapaian

Ketika bus mulai mengaspal, baginya yang terpenting: jalannya bus terasa stabil dan halus, minim guncangan. Roni yang awalnya sangat cemas akan mabuk darat, jujur merasa terheran-heran. 

“Dulu aja waktu study tour SMA, baru naik belum jalan busnya, udah merasa mual duluan,” kata dia.

Kalau mengutip laman resmi PO Agra Mas, bus eksekutif ini memang menggunakan sasis premium dengan teknologi air suspension. Agra Mas menggunakan sasis dari merek-merek ternama dunia yang dikenal dengan kenyamanan superiornya, seperti Mercedes-Benz OH 1626 dan Hino R260.

Sistem air suspension ini jauh berbeda dengan suspensi pegas konvensional yang biasanya ditemukan di bus ekonomi, yang cenderung terasa lebih kaku dan memantul. Jadi, tak heran Roni yang langganan mabuk darat merasa anteng-anteng saja.

“Sebuah pencapaian sih. Di dalam bus aku bisa scroll TikTok sama nonton video Youtube tanpa pusing.”

Kaget karena PO Agra Mas juga ngasih makan gratis

Puncaknya, saat bus berhenti di rest area untuk makan malam. Roni yang sudah menyiapkan bekal camilan untuk mengganjal perut selama perjalanan, terkejut saat kondektur dengan ramah mengumumkan: “para penumpang bus eksekutif PO Agra Mas, silakan menikmati makan malam prasmanan yang telah kami sediakan di restoran di sebelah sana.”

Roni pun, dengan canggung, melangkahkan kaki ke area makan, mengambil nasi, lauk, sayur, dan bahkan buah. Jujur, ini pengalaman langka baginya. Benar-benar dilayani laiknya siswa-siswa yang sedang study tour.

Menu makanannya beragam, seperti resto-resto di rest area pada umumnya. Dia mengaku juga sempat melirik porsi penumpang lain, diam-diam memastikan apakah dia boleh nambah. 

“Ternyata boleh. Ya karena itu kelaparan banget, aku nambah dong,” ungkapnya.

Ketagihan naik bus eksekutif PO Agra Mas

Sepanjang perjalanan sampai Jakarta, karena perutnya sudah terisi full, Roni pun memutuskan untuk tidur pulas. Ia masih tak menyangka, bermodal harga promo Rp125 ribu, dirinya bisa mendapatkan fasilitas laiknya sultan selama satu malam.

Setibanya di Jakarta, Roni turun dari bus dengan senyum sumringah. Bukan cuma karena tiba dengan selamat dan tanpa mual, tapi juga karena perjalanannya jauh lebih nyaman dari yang dia bayangkan. 

Ia mengaku, biasanya merasa “katrok” kalau berada di lingkungan mewah, kini rasanya malah sedikit naik kasta—setidaknya untuk semalam.

“Gara-gara pengalaman itu, aku jadi sering naik bus eksekutif Agra Mas di lain-lain waktu. Buat mudik, atau balik Jogja,” ujarnya. “Ya meskipun lagi nggak ada promo, seenggaknya harganya worth it lah sama fasilitas selama perjalanan,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rosalia Indah Menjual Kemewahan, Bukan Rasa Aman. Sementara Agra Mas Sebaliknya, Fasilitas Sederhana tapi Keamanan Juara atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 8 Juli 2025 oleh

Tags: agra masbus eksekutifbus eksekutif po agra maspilihan redaksipo agra mas
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Romantisasi bunuh diri di Jembatan Cangar Mojokerto harus dihentikan MOJOK.CO
Catatan

Ironi Jembatan Cangar Mojokerto: Berubah Jadi Titik Bunuh Diri Gara-gara Salah Kaprah Diromantisasi hingga Menginspirasi

24 April 2026
mabar game online.MOJOK.CO
Catatan

Nongkrong Makin Membosankan dan Toksik Semenjak Teman Cuma Sibuk Main Game, Saya Dibilang Spaneng dan “Nggak Asyik” karena Tak Ikut Mabar

23 April 2026
Omong kosong berkebun untuk slow living di desa. Punya kebun di desa justru menderita karena tanaman dirampok warga MOJOK.CO
Catatan

Kena Mental Punya Kebun di Desa: Hasil Berkebun Tak Bisa Dinikmati Sendiri, Sudah Dirampok dan Dirusuhi Masih Digalaki

23 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Sesal pernah kasar ke bapak karena miskin. Kini sadar setelah ditampar perantauan karena ternyata cari duit sendiri tidak gampang MOJOK.CO

Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!

21 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Menormalisasi pakai jasa porter di stasiun kereta api MOJOK.CO

Pakai Jasa Porter di Stasiun meski Bisa Bawa Barang Sendiri: Sadar 50 Ribu Itu Tak bikin Rugi, Tapi Justru Belum Seberapa

23 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.