Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Ketika Polemik Hak Sewa Tanah Bikin Diponegoro Balik Arah Melawan Kraton Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
26 Januari 2025
A A
jogja, kraton jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi Kala Kraton “Menghadiahi” Asing Hak Sewa Tanah yang Bikin Perpecahan di Jogja (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Siapa sangka, pemberian hak sewa tanah kepada asing oleh Kraton Jogja bisa bikin perpecahan. Harga yang harus dibayar pun sangat mahal. Sebab, perang besar terjadi setelahnya.

***

Buku sejarah mencatat, Kraton Jogja pernah dipimpin oleh sultan yang lembek dan mudah disetir. Banyak kebijakannya hanya menguntungkan segelintir elite dan asing. Rakyat pun dibikin sengsara jadinya.

Sultan lembek yang dimaksud adalah Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) III. Sialnya, ketika ia meninggal pada 1814, putra mahkota masih sangat belia. Gusti Raden Mas Ibnu Jarot, yang belakangan diangkat menjadi Sultan HB IV, naik takhta di usia 10 tahun.

Alhasil, ia tak punya power penuh. Sama seperti ayahnya yang lembek, kekuasaannya juga lebih banyak disetir oleh Patih Danureja IV. Puncaknya, secara kontroversial sang patih memberikan hak sewa tanah pada Belanda.

Keputusan ini menyulut emosi banyak pihak. Salah satunya paman dari Sultan HB IV, Pangeran Diponegoro. Perang Jawa, yang mahadahsyat itu, tak terelakkan lagi.

Raja tanpa kuasa

Cukup diwajari mengapa pada masa pemerintahan Sultan HB IV, Kraton Jogja sama sekali tak bertaji. Mengutip Suratmin dkk. dalam “Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Istimewa Yogyakarta” (1990), untuk sementara pada 1814 pemerintahan Jogja berada di bawah kendali Pakualam I lantaran Sultan HB IV masih bocah.

Sialnya, dari sudut pandang Kraton Jogja, Pakualam I ini sebenarnya adalah pemimpin yang culas. Ia naik takhta sebagai Pakualam I pun atas bantuan Inggris. Maka tak heran, kalau banyak yang menyebut raja ini sebagai “titipan penjajah”.

Selama menjadi pemimpin sementara, Pakualam I pun terkesan sibuk mengurus wilayah kekuasaannya, Kadipaten Pakualaman. Sehingga, friksi internal pun terjadi di Kraton Jogja. Dalam friksi ini, satu tokoh kunci muncul: Patih Danureja IV.

Pengaruhnya di lingkaran kraton seolah tak ada yang bisa dibendung. Boleh dibilang, Sultan HB IV telah berada digenggamannya. Alhasil, selama menjadi pemimpin Kraton Jogja, Sultan HB IV benar-benar menjadi raja tanpa kuasa karena kekuasaannya hanya dikendalikan oleh orang-orang terdekatnya.

Revisi Angger Sedasa, UU Agraria Kesultanan Jogja

Salah satu manuver Patih Danureja IV adalah merevisi Angger Sedasa. Sebagai informasi, Angger Sedasa merupakan undang-undang (UU) yang mengatur administrasi dan agraria di Kesultanan Jogja dan Kesunanan Surakarta. 

Nah, UU inilah yang pada saat itu dianggap menghambat pihak Belanda dalam menancapkan investasinya di vorstenlanden. Padahal, residen Hindia Timur Nahuys van Burgst, saat itu ingin sekali membawa para investor ke vorstenlanden mengingat perekonomian Belanda sedang lesu-lesunya akibat perang dan kehilangan koloni.

Masalahnya, sebagaimana dikutip dari jurnal yang ditulis Harto Juwono, “Pembatalan Sewa Tanah di Vorstenlanden Tahun 1823”, Angger Sedasa tak memuat soal aturan sewa-menyewa. Dari sudut pandang investor, tentu ini bermasalah karena bagaimana mau berinvestasi di sana sementara jaminan hukum saja tidak ada?

Akhirnya, Nahuys van Burgst pun mendekati Patih Danureja IV untuk mengubah ketentuan Angger Sadasa. Dan, seperti UU Cipta Kerja yang dikebut secepat kilat, revisi itu terjadi pada 4 Oktober 1818.

Iklan

Revisi atas Angger Sedasa memungkinan sistem sewa tanah antara pejabat pribumi dan investor Eropa. Sejak 1819 pun, investor berdatangan. Sebagai misal, tanah-tanah di lereng Gunung Merapi disewa oleh asing untuk perkebunan kopi.

Menyulut api perang

Sistem sewa tanah ini memang membuat keuntungan besar bagi para investor asing dan pejabat Kraton Jogja. Namun, Pangeran Diponegoro berpandangan, kehidupan rakyat malah tercekik akibat kebijakan ini.

Belum lagi, intervensi atas hukum kraton menjadi preseden buruk bagi kesultanan. Hukum mereka, sama saja sudah diinjak-injak dan disetir oleh pihak asing.

Dalam buku Takdir Riwayat Pangeran Diponegoro (2023), Peter Carey bahkan menyebut bahwa pejabat tinggi kesultanan diisi oleh orang-orang yang korup, penjilat, dan kerap membantu Belanda demi kepentingan pribadinya.

Keuntungan dari hasil sewa tanah ini, alih-alih untuk kemaslahatan rakyat, malah dipakai untuk hal-hal yang sifatnya hedon. Seperti membeli perabot meja kursi bergaya Eropa, kereta kuda, hingga permainan judi kartu. Ini yang ditentang Pangeran Diponegoro.

Sampai akhirnya, kondisi ini menguatkan faksi anti-Belanda dan anti-pejabat-pro-Belanda di tubuh Kraton Jogja. Situasi ini juga yang pada akhirnya bikin Pangeran Diponegoro memutuskan hubungan dan meninggalkan kraton pada Februari 1824.

Peter Carey menulis, Pangeran Diponegoro pada akhirnya mengumpulkan pengikut, dan mulai bersiasat untuk melawan pemerintah Hindia-Belanda beserta orang-orang Kraton Jogja yang patuh kepada kolonial, termasuk Patih Danureja IV.

Sisanya adalah sejarah. Perang Jawa terjadi begitu dahsyat. Selama kurang lebih lima tahun, 200 ribu penduduk Jawa tewas akibat perang itu.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jogja Krisis Air, Pemerintah Malah Bikin Proyek yang Menghambat Sumber Air atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2025 oleh

Tags: diponegoroJogjakeraton Yogyakartakraton jogjasri sultan hamengkubuwonoSultan Jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik MOJOK.CO
Pojokan

Konten “Ke Jogja tapi Nggak Ke Malioboro” Adalah Kabar Baik, Membuat Derak Roda Ekonomi Bergerak ke Seluruh Pelosok DIY

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya Mojok.co
Pojokan

Tips Makan Soto Bening Jogja bagi Para Pendatang yang Selalu Gagal Menikmatinya

24 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pelatihan skill digital IndonesiaNEXT Telkomsel berdampak bagi kesiapan kompetensi untuk terjun industri MOJOK.CO

Pelatihan SKill Digital IndonesiaNEXT Ubah Mahasiswa Insecure Jadi Skillfull, Bisnis Digital pun Tak Kalah Saing

1 Mei 2026
Ibu terpaksa menitipkan anak di daycare karena orang tua harus bekerja

Ibu Menitipkan Anak di Daycare Bukan Tak Tanggung Jawab, Mengusahakan “Aman” Malah Diganjar Trauma Kekerasan

26 April 2026
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh  MOJOK.CO

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
Kenaikan harga plastik bikin UMKM menjerit. MOJOK.CO

Solusi atas Jeritan Hati Para Pelaku UMKM yang Menderita karena Kenaikan Ekstrem Harga Plastik

30 April 2026
Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS

28 April 2026
Beri tip ke driver ojol. MOJOK.CO

Kasih Tip Rp5 Ribu ke Driver Ojol Tak Bikin Rugi tapi Bikin Hidup Lebih Bermakna di Tengah Situasi Hidup yang Kacau

28 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.