Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Homesick Ternyata Bisa Memicu Gangguan-gangguan Serius bagi Para Perantau

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
13 November 2024
A A
Mahasiswa merantau yang rindu rumah alias homesick. MOJOK.CO

ilustrasi - mahasiswa homesick di perantauan. (Ega Fansuri/Mojok.co) MOJOK.CO

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Homesick menjadi salah satu tantangan tersendiri bagi perantau. Biasanya homesick dialami bagi mereka yang rindu akan kampung halaman. Mereka bisa sedih, cemas, putus asa, maupun nostalgia. Jika tidak diatasi, dampaknya bisa bertambah buruk.

***

Saya mengikuti diskusi soal fenomena homesick dalam acara Pesta Buku Jogja 2024. Bazar buku itu digelar oleh Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) DIY bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (APMD) DIY.

Saya mendatangi bazar tersebut pada hari pertama, yakni Senin (11/11/2024). Acaranya sendiri berlangsung selama 10 hari. Tak hanya bazar, acara itu juga menghadirkan talkshow, stand up comedy, kuliner, dan lain sebagainya.

Pada hari pertama, saya mendengarkan bedah buku homesick healing, karya delapan mahasiswa magang di Buku Mojok. Di sanalah saya bertemu Christini Letania Pratami (21), sebagai salah satu penulis buku tersebut. Di sana, Leta (sapaan akrabnya) menceritakan pengalamannya tinggal jauh dari rumah, demi menempuh pendidikan tinggi.

Kehidupan pertama masuk kuliah

Leta merupakan mahasiswa semester enam di Universitas Diponegoro, Semarang. Dia berasal dari Kalimantan Tengah. Baginya, kuliah di Semarang adalah momen pertama dia merantau. Saat itulah, Leta merasa hari-harinya sepi dan tak jarang merindukan rumah. 

Acara talkshow Pesta Buku Jogja 2024. MOJOK.CO
Acara talkshow Pesta Buku Jogja 2024. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sebelum orientasi pengenalan kampus, dia sudah mempersiapkan diri untuk mencari kos. Satu minggu pertama dia merasa biasa-biasa saja, bahkan merasa senang karena masih ada ayahnya yang menemani.

Namun, perasaan sedih muncul ketika hari terakhir ayahnya balik ke Kalimantan usai mengantar Leta. Saat itulah, dia merasa sepi dan harus bisa hidup mandiri. 

“Ternyata ada banyak hal yang aku belum tahu sebelumnya, nah aku baru tahu tuh pas kuliah ini,” ucap Leta di acara bedah buku Homesick Healing di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (11/11/2024).

Karena sudah memutuskan jauh dari rumah, mau tidak mau Leta harus bisa beradaptasi. Mulai dari berkenalan dengan orang baru, sampai menghafalkan tempat-tempat di sekitar kos maupun kampus. Meskipun dia sendiri malas keluar rumah, karena tidak punya kendaraan pribadi.

“Jadi aku lebih sering diam di kos. Terus paling jalan-jalan tuh nyari makanan. Nah dari situ aku merasa risih, kayak aduh, kenapa ya sepi banget? Biasanya kalau di rumah ada yang ngajak ngomong atau apa,” kata dia.

Homesick mulai melanda

Rasa sepi hilang ketika kehidupan kampus dimulai. Kegiatan orientasi pengenalan kampus lebih banyak menyita waktu Leta ketimbang merindukan rumah. Di semester-semester awal, dia mulai mencari kesibukan dengan mencoba hal-hal baru bersama teman-temannya.  

Namun, perasaan sedih kerap muncul ketika dia sudah semester lima. Dia mengaku homesick karena merasa lelah dengan rutinitasnya.

“Aku mulai merasa kehidupan merantau itu sangat berat, apalagi pas lagi capek-capeknya. Ada tugas organisasi, tugas kuliah, terus pasti ada aja problem lain. Nah, pas kayak gitu kadang langsung ingat Mama,” ucapnya. 

Iklan

Ketika di rumah, ibu Leta menjadi sosok yang paling perhatian. Misalnya, saat Leta lupa dan meninggalkan suatu barang penting di rumah. Kalau tidak diingatkan ibunya, Leta pasti lupa. Dia juga kerap rindu masakkan ibunya.

Homesick juga muncul ketika kondisi tubuh Leta mulai tidak sehat. Biasanya keluarganyalah yang akan mengantar dia ke klinik, membeli obat, atau sekedar membuatkan teh hangat. 

Buku homesick healing dalam acara Pesta Buku Jogja 2024. MOJOK.CO
Buku homesick healing dalam acara Pesta Buku Jogja 2024. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bahkan, ibu Leta sering mengingatkannya untuk minum obat jika Leta mulai menunjukkan tanda-tanda sakit, seperti batuk-batuk kecil. Kenangan itu yang membuat Leta menjadi rindu. 

Homesick membuat cemas akan masa depan

Alih-alih menghubungi orang rumah ketika homesick, Leta lebih memilih melakukan hobinya seperti membaca buku, mendengarkan lagu, atau menceritakan masalahnya ke teman-teman terdekat. 

“Soalnya kalau aku hubungin orang tua, aku malah jadi kayak makin mau pulang. Sedangkan aku kan nggak bisa sering pulang,” ucapnya. 

Akhir-akhir ini, Leta mengaku mulai cemas akan masa depannya. Pertanyaan tentang menjadi manusia seperti apa dia nanti? Bekerja di mana setelah lulus? Apakah pekerjaan itu sesuai minatnya? selalu terngiang dalam pikirannya.

Saat ini, dia memang belum menemukan jawaban pasti. Namun, Leta mencoba membuat jaringan yang positif dan lebih luas dengan orang lain. Dari sana dia mencoba mempelajari pengalaman mereka. 

“Setelah mendengar cerita dari banyak kenalan dan curahan hati orang-orang di media sosial, aku percaya semua orang memang punya jalan dan timeline masing-masing,” ucapnya.

Mengurangi homesick

Berdasarkan jurnal berjudul Analisa Struggle Homesick saat Menjadi Mahasiswa Baru Prodi Psikologi UNNES 2023, homesick merupakan keadaan distres yang bisa muncul ketika individu berpisah dari tempat tinggalnya. 

Individu yang mulanya dekat dengan keluarga, teman, sahabat, akhirnya merasa kesepian dan rindu akan dukungan sosial mereka. Sebab setelah merantau, mereka jadi jarang mendapatkan itu semua. 

Homesick dapat mengganggu konsentrasi dan motivasi belajar mahasiswa. Dampak yang lebih parah, mahasiswa dapat mengisolasi diri, depresi, gangguan ingatan, penurunan imun tubuh, bahkan diabetes.

Penelitian berjudul Homesickness and Adjustment in University Students mengungkapkan bahwa dukungan sosial bisa mengurangi homesick. Dukungan itu bisa diperoleh dari teman, keluarga, kekasih, atau  organisasi. 

Christopher A Thurber dan Edward A Walton selaku peneliti membuktikan bahwa mahasiswa  yang  memiliki  teman  baik cenderung  tidak  terlalu homesickness karena dapat mencurahkan  isi  hatinya. Dukungan sosial bisa membantu orang yang homesick merasa nyaman dan diperhatikan. 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Achmad Aly Reza

BACA JUGA: Perantau Wonogiri di Jogja Bela-Belain 3 Tahun Tak Mudik Demi Nonton Bioskop di Hari H Lebaran, Tak Pedulikan Ratapan Ibu yang Rindu Ingin Bertemu

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

 

Terakhir diperbarui pada 13 November 2024 oleh

Tags: homesickmahasiswa barumahasiswa merantauperantaurindu rumah
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Gaya hidup pemuda desa bikin tak habis pikir perantau yang merantau di kota. Gaji kecil dihabiskan buat ikuti tren orang kaya. MOJOK.CO
Sehari-hari

Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

iPhone 6 dan 7 lebih diminati gen Z

iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru

20 April 2026
Campus Leagu: kompetisi olahraga kampus untuk masa depan atlet mahasiswa MOJOK.CO

Campus League Musim 1: Kompetisi Olahraga Kampus untuk Fondasi Masa Depan Atlet Mahasiswa, Menempa Soft Skills Krusial

22 April 2026
Tidak install game online seperti Mobile Legend (ML) buat mbar di tongkrongan dianggap tidak asyik dan tidak punya hiburan MOJOK.CO

Tak Install Mobile Legend untuk Mabar di Tongkrongan: Dicap “Tak Gaul” dan Kosong Hiburan, Padahal Hiburan Orang Beda-beda

25 April 2026
Tongkrongan gen Z di coffee shop

Tongkrongan Gen Z Meresahkan, Mengganggu Kenyamanan dari Yang Bisik-bisik sampai Berisik

23 April 2026
Merintis Jastip ala Mahasiswa Flores Cuan Jutaan Tiap Bulan MOJOK.CO

Belajar dari Mahasiswa Flores yang Merantau di Jogja Merintis Usaha Jastip Kecil-kecilan Hingga Untung Jutaan Rupiah Setiap Bulan

23 April 2026
Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja MOJOK.CO

Alasan Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan Mudah Dapat Kerja

20 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.