Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
20 April 2026
A A
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO

Ilustrasi tinggal di desa. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagai anak yang lahir dan tumbuh besar di sebuah desa di wilayah selatan Wonogiri, saya sangat akrab dengan tradisi “bersih desa”. Di beberapa daerah lain di Jawa, tradisi ini sering juga disebut rasulan, sedekah bumi, atau merti desa. 

Niat awal dan konsep dasar acara ini sebenarnya sangat mulia dan sakral. Secara garis besar, bersih desa adalah wujud rasa syukur masyarakat kepada sang pencipta atas hasil panen yang melimpah. 

Iklan

Selain itu, kalau di tempat saya, tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur atau sosok pendiri desa yang sering disebut danyang. 

Bagi masyarakat desa, terutama di Wonogiri yang dikenal sebagai gudangnya kaum perantau, momen ini adalah waktu yang sangat penting untuk pulang dan berkumpul. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, tradisi sakral ini mulai bergeser maknanya.

Eksekusi di lapangannya pun kadang sangat ngaco dan justru membuat para perantau sengsara.

Bersih desa bikin pekerja bingung soal membagi waktu kerja

Penderitaan pertama biasanya dimulai dari penentuan jadwal. Tidak seperti orang kota yang menggelar acara besar di akhir pekan agar semua bisa datang, tetua desa menentukan hari pelaksanaan murni berdasarkan hitungan kalender Jawa. 

Mereka memakai pedoman weton dan hari pasaran. Hasilnya? Acara puncak bersih desa sangat sering jatuh di tengah hari kerja.

Parahnya lagi, rangkaian acara ini tidak cuma berlangsung satu hari. Kadang bisa tiga hari, bahkan sampai satu minggu penuh. Mulai dari acara kerja bakti bersih-bersih jalan, karnaval dan lomba, kenduri, sampai puncaknya menggelar hiburan wayang kulit atau campursari semalaman suntuk.

Jadwal yang padat ini jelas membuat pemuda desa atau perantau yang berstatus pekerja, karyawan, hingga buruh pabrik kebingungan. Hal ini diceritakan oleh salah satu narasumber Mojok, Wahid (21), seorang perantau asal Wonogiri yang kini bekerja di Solo.

Wahid mengaku serba salah. Kalau dia tidak ikut pulang, dia akan jadi bahan gunjingan satu desa dan dianggap lupa kampung halaman. Tapi kalau dia memaksakan diri pulang di hari kerja, dia harus rela mengambil cuti panjang, berisiko kena tegur atasan.

“Teman-temanku bahkan ada yang nekat bolos kerja berhari-hari, terutama yang kerjanya nggak ngerantau. Ya biar nggak diomongin tetangga aja,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).

Nominal patungannya nggak ngotak

Penderitaan kedua adalah urusan dana. Menyelenggarakan acara desa tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Masalahnya, panitia desa seringkali melihat perantau sebagai “lumbung uang”.

“Para perantau ini akan disuruh patungan untuk mendanai kelangsungan acara bersih desa. Bahasa alusnya, sponsor,” kata Wahid.

Tragisnya, patungan ini punya sistem tingkatan harga. Wahid menceritakan pengalaman pahitnya soal ini. 

Di desanya, pemuda yang baru merantau satu tahun, misalnya, akan dipatok iuran wajib sebesar Rp100 ribu. Bagi yang sudah merantau tiga sampai lima tahun, tagihannya naik menjadi Rp300 ribuan.

Bahkan, bagi mereka yang diketahui merantau di kota besar seperti Jakarta, bisa dipalak hingga Rp500 ribuan.

“Panitia biasanya pakai dalih srawung. Kadang bilang sukarela tapi nominalnya dipatok sejak awal.”

Sebagai orang desa, saya sebenarnya cukup relate dengan kebiasaan patungan ini. Bedanya, di desa saya sendiri sistemnya masih benar-benar sukarela dan nominalnya tergolong kecil sehingga tidak terlalu membebani. 

Iklan

Namun, melihat praktik patungan berjenjang seperti yang dialami Wahid dan banyak perantau lain, rasanya tradisi ini sudah melenceng jauh dari nilainya.

Baca halaman selanjutnya…

Masalah lain yang bikin menderita: (1) klaim “kualat” kalau nggak kontribusi, dan (2) denda ketidakhadiran sampai ratusan ribu.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 20 April 2026 oleh

Tags: bersih desabudaya desaDesakehidupan di desamerti desapemuda desaperantaupilihan redaksirasulansedekah bumitradisi di desa
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

S2, sarjana nganggur MOJOK.CO

Curhatan Lulusan Sarjana Lanjut Kuliah S2 Modal FOMO yang Justru Berujung Kesulitan Mencari Kerja

26 Agustus 2026
Yamaha Fazzio Cuma Sebatas Skutik Spek Orang Manja MOJOK.CO kredit motor yamaha

Fazzio, Motor “Anak Skena” yang Bikin Perjalanan Sejam Menembus Kemacetan buat Ngonser Tetap Terasa Chill

24 Agustus 2026
Nasib rentan warga pesisir Kabupaten Batang karena ancaman abrasi dan PLTU MOJOK.CO

Nasib Rentan Warga Pesisir Kabupaten Batang: Rumah Terancam Abrasi Sewaktu-waktu, Nafkah “Tersumbat” PLTU

19 Agustus 2026
Ta'awun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga.MOJOK.CO

Taawun, Takaful, dan Masjid Al Muharram Brajan yang Menebar Manfaat dari Sampah Sisa Warga

19 Agustus 2026
gaya rambut pria, barbershop, potong rambut mojok.co

Alasan Potongan Rambut Jadi “Jelek” setelah Pulang dari Barbershop, Tukang Cukur Sering Disalahkan meski Problemnya Ada di Pelanggan

18 Agustus 2026
Cuaca ekstrem, memanen air hujan.MOJOK.CO

Memanen Air Hujan Seperti Orang Desa Dianggap Budaya Jorok dan Terbelakang, padahal Bisa Menjadi Penyelamat Saat Kekeringan 

17 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak


Terpopuler Sepekan

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik MOJOK.CO

Dosen Penguji Bilang Tesis Saya Nggak Layak, Sejak Itu Saya Mengalami Trauma Akademik

26 Agustus 2026
Penyesalan mahasiswa kiri dan naif: tolak kerja (jadi budak) korporat karena melanggengkan kapitalisme, tapi sadar orang tua belum bahagia MOJOK.CO

Sesal Mahasiswa Sok Kiri Anti Kapitalisme dan Naif: Tolak Kerja Korporat, Tapi Sadar Belum Bantu Ekonomi Orang Tua

21 Agustus 2026
perubahan desil membuat penjual ayam potong menderita

Perubahan Desil Tak Masuk Akal Membuat Penjual Ayam Potong Menderita

21 Agustus 2026
UMKM, UKM.MOJOK.CO

Pemkot Jogja Buru “DNA” 18.000 Usaha Kecil untuk Basis Data Tunggal 2026 demi Kebijakan Tepat Sasaran

20 Agustus 2026
dukuh muda di kampung

Seni Menjadi Dukuh Muda di Tengah Gempuran Pemimpin Boomer: Kisah Dukuh Muda yang Rela Mengorbankan Masa Muda untuk Membuat Orang Tua Bangga

24 Agustus 2026
Peserta dalam ajang Klaten International Motocross di Sirkuit Bokong Semar, kawasan Rowo Jombor. MOJOK.CO

Anak Muda Asal Jawa Barat Kalahkan Crosser dari Australia di Ajang Klaten International Motocross

25 Agustus 2026

Video Terbaru

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Syukur

Menjadi Manusia Bersama Habib Jafar: Konsisten, Kehilangan, dan Bersyukur

20 Agustus 2026
Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

Abdur Arsyad: Dari Matematika sampai Memikirkan Masa Depan Negara

8 Agustus 2026
Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

Menguatkan Ketahanan Pangan Keluarga dari Kebun di Klaten

7 Agustus 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

🤖 PRAYIT AI ×
Salam dari Mojok! Aku Prayit AI. Ada yang bisa dibantu hari ini, Rek?
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.