Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Baru Satu Tahun Kerja di BUMN, Pilih Resign karena Nggak Kuat “Ugal-ugalan” di Jakarta sampai Temukan Peluang Karier Lebih Baik di Bali

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
6 Januari 2026
A A
Resign kerja di Jakarta pilih di Bali. MOJOK.CO

ilustrasi - jadi fotografer di Bali. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sebagian orang pasti pernah mengalami quarter life crises dalam hidupnya, bahkan bisa terjadi tak sekali, dua kali. Itulah yang dirasakan Abdi Nastiar. Laki-laki usia 22 tahun asal Solo ini sempat kebingungan mencari kerja usai lulus SMK, hingga diterima sebagai karyawan BUMN di Jakarta tapi akhirnya pilih kerja di Bali.

***

Quarter life crisis merupakan masa ketika manusia berusia sekitar 20 hingga 30-an mengalami bimbang akan kehidupan yang ingin ia tempuh. Dalam buku “Ramen Noodles, Rent and Resumes: An After-College Guide to Life”, Kristen Fischer menjelaskan quarter life crisis merupakan perasaan cemas terhadap relasi pribadi, hubungan sosial, atau pekerjaan.

Saat usia 20 tahun, perasaan cemas itu muncul menjelang Abdi Nastiar lulus SMK. Ketika teman-temannya yang lain sibuk memilih kampus dan jurusan, Abdi memilih langsung bekerja. Sebab ia sadar kalau biaya untuk kuliah itu tak sedikit.

“Mau kuliah pun bingung pilih jurusan apa. Takut sia-sia. Karena waktu SMK, aku bisa dibilang kurang dalam hal akademik. Jadinya aku nggak mau nerusin jurusan di bidang kesehatan dulu,” kata Abdi saat dihubungi Mojok, Jumat (2/1/2026).

Namun, ingin bekerja pun Abdi kebingungan. Sempat terbesit dalam pikirannya agar bisa kerja apa saja meski hanya part time sekalipun. Tapi hal itu sudah pernah ia lakukan saat SMK, mulai dari waiter, cook helper, hingga sales.

Sementara, ia ingin pekerjaan yang lebih mapan dengan gaji lebih oke. Oleh karena itu, setelah lulus SMK ia ingin mencoba pekerjaan lain.

Setelah mencari-cari, Abdi akhirnya mendapat informasi soal lowongan kerja di BUMN. Tepatnya sebagai pramugara di Kereta Api Indonesia (KAI). Berbagai tes ia ikuti hingga akhirnya diterima pada tahun 2021.

“Awal-awal aku ditempatkan di jalur Blitar, Bandung, Jakarta. Setahun kemudian aku dimutasi ke Solo agar nggak jauh dari tempat tinggal. Tapi tetap saja, aku harus bolak-balik dari Solo-Jakarta,” tutur Abdi.

Resign pertama meninggalkan Jakarta

Bolak-balik dari Solo-Jakarta ternyata bikin Abdi kelelahan. Terlebih, ia sempat menjadi ketua tim sehingga tak jarang harus begadang seharian. Belum lagi bertemu dengan macetnya Jakarta.

Pada awalnya, Abdi merasa masih biasa saja. Toh, gajinya lumayan yakni sekitar Rp3 juta hingga Rp5 juta. Tapi setelah beberapa bulan dijalani, fisik dan mental Abdi makin tak kuat. Apalagi ternyata, biaya hidup di Jakarta juga nggak murah. Sering kali tabungannya bahkan minus dan harus nombok.

“Akhirnya aku memutuskan resign tahun 2023 dan mencari kerja lain,” kata Abdi.

Siapa sangka, tak lama setelah resign, rezeki Abdi masih di KAI. Ia diterima sebagai passenger service di commuter line (KRL) dan diterima di jalur Solo-Jogja.

“Sebagai passenger service kami nggak terlepas dari banyak komplain penumpang, aku harus belajar menerima dan menangani berbagai macam masalah,” kata Abdi.

Iklan

Meski begitu, ia pernah akrab dengan seorang penumpang yang sering menggunakan KRL Solo-Jogja.

“Aku pernah ketemu ibu-ibu yang langganan naik KRL. Dia sering bawain makanan aku. Kita sering mengobrol dan menyapa karena setiap jam 07.00 WIB kita selalu papasan. Saking ramahnya, aku jadi tahu ibu itu kerja di mana dan dia juga ingat aku,” tutur Abdi.

Mengejar mimpi sampai ke “Surga di Bumi”

Masalahnya, akrab dengan seorang penumpang KRL, tak cukup membuat Abdi betah hingga merasa bermakna dalam pekerjaannya baik di Solo maupun Jakarta. Ia merasa ada kejenuhan yang melanda, hidup “gini-gini” saja, alias stuck di tengah-tengah.

“Aku merasa jenuh dan nggak berkembang, seperti hampa dan kehilangan sesuatu dalam diri sejak dari Jakarta,” ujar Abdi. 

Sampai akhirnya Abdi memilih resign pada Juli 2025 lalu. Saat itulah masa quarter life crisis Abdi berangsur-angsur kembali. Di tengah kebingungannya itu, Abdi memutuskan liburan ke Bali. Provinsi yang juga dijuluki “Surga di Bumi”. Di sana, ia hanya ingin “istirahat” dari hiruk-pikuk dunia.

“Aku juga bingung kenapa waktu itu memutuskan Bali padahal terakhir aku sana pas SMP. Cuman aku nggak menyesal, karena ternyata di sana aku bisa kenalan dengan banyak orang bahkan dari berbagai penjuru dunia,” kata Abdi.

Sekitar satu minggu di sana, Abdi mulai merefleksikan diri. Mulai dari kegalauan hatinya memutuskan kerja setelah lulus SMK, menjadi frontliner di KAI Blitar, Solo, hingga Jakarta. Ia pun membuat daftar keinginannya sendiri, termasuk impian yang selama ini ia pendam. Dalam petualangannya itulah, rezeki datang menjemput.

“Tabunganku udah mulai menipis jadi aku cari kerja sampingan. Coba-cobalah aku jadi fotografer,” kata Abdi.

“Awal-awal ya dapat proyek biasa seperti foto wisuda tapi lumayan buat portofolio. Sampai akhirnya aku dapat klien dari orang Singapura. Dari situ aku kaget karena satu kali job bisa dapat Rp2,5 juta untuk foto dan video,” kata Abdi.

Meski begitu, pengalaman tersebut tak membuat Abdi puas diri. Ia terus melatih kemampuannya hingga bisa editing dan mengoperasikan beragam jenis aplikasi. Selain mendapat income yang lumayan (sekitar Rp15 juta dalam sebulan), Abdi juga merasa senang karena bisa berkenalan dengan orang baru.

“Ada satu klienku yang sekarang jadi partner bisnisku. Jadi sekarang selain jadi fotografer aku kerja di start up bareng dia. Bisnis ini semacam mem-branding berbagai restauran yang ada di Bali. Walaupun belum ramai, kami ingin bisnis ini bisa berguna nanti. Lebih dari itu, aku juga ingin selalu bertumbuh.” 

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Resign Kerja Kantoran di Jakarta, Milenial Ini Putuskan Side Hustle di Klaten yang Hasilkan Ratusan Juta per Bulan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 Januari 2026 oleh

Tags: alasan resignBaliBUMNjakartakaikerja di balikerja di jakartalulus SMKquarter life crisisresign
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta, Purwokerto, KRL.MOJOK.CO
Urban

Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto

13 Maret 2026
KA bengawan, KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO
Catatan

User KA Bengawan Merasa Kesepian Saat Beralih ke Kereta Eksekutif KA Taksaka, “Kereta Gaib” Harga Rp74 Ribu Tetap Juara Meski Bikin Badan Pegal

9 Maret 2026
Pantai Drini, Gunungkidul kehilangan keasrian dan identitas. Korban wisata Jogja yang dimirip-miripkan dengan Bali MOJOK.CO
Catatan

Pantai Drini Gunungkidul Kehilangan Identitas dan Keasrian Alami, Korban Wisata Jogja yang Dimirip-miripkan Bali

5 Maret 2026
lulusan s2 pilih slow living agar siap hadapi perang dunia 3. MOJOK.CO
Sosok

Lulusan S2 IT, Rela Tinggalkan Gaji 2 Digit demi Jadi Peternak di Desa agar Siap Hadapi Perang Dunia 3

3 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Pamitan ke Perantauan

6 Maret 2026
Lepas status WNI dan paspor Indonesia, hidup lebih mudah usai pindah kerja di Jerman MOJOK.CO

Lepas WNI karena Hidup Serba Susah dan Nelangsa di Indonesia, Hidup Jadi Lebih Mudah usai Pindah ke Jerman

10 Maret 2026
Kucing peliharaan anak kos Jogja

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis Itu Mojok.co

Sate Klatak Kasta Tertinggi Makanan Khas Jogja, Jauh Mengungguli Gudeg dan Bakmi Jawa yang Sering Dikeluhkan Manis

12 Maret 2026
Dihina dan dijauhi tongkrongan hanya karena naik motor Honda BeAT. Tidak memenuhi standar sinematik ala Yamaha Aerox, NMax, dan Vario MOJOK.CO

Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik

12 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.