Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Suara Hati Orang Madura yang Didiskriminasi di Surabaya, Tapi Lebih Dihargai Orang Jogja

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
5 Februari 2025
A A
Suara Hati Orang Madura yang Didiskriminasi di Surabaya, Tapi Lebih Dihargai Orang Jogja.MOJOK.CO

Ilustrasi - Suara Hati Orang Madura yang Didiskriminasi di Surabaya, Tapi Lebih Dihargai Orang Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Orang Madura sudah kenyang dengan diskriminasi yang mereka terima di perantauan. Namun, setidaknya di antara mereka merasa lebih dihargai saat berada di Jogja ketimbang di Surabaya.

Salah satu orang yang merasakan hal tersebut adalah Tulah (26). Pria yang baru saja menyelesaikan studi S2-nya di Jogja ini merasa ada perlakuan berbeda yang ia alami selama di perantauan.

Tulah sendiri menghabiskan empat tahunnya di Surabaya untuk kuliah S1. Sementara sejak tiga tahun lalu, ia menetap di Jogja buat lanjut S2 dan bekerja. 

“Jogja dan Surabaya itu ibarat bumi dan langit. Silakan dibantah. Tapi itu yang aku rasakan,” kata Tulah, saat Mojok temui pada Selasa (4/2/2025) malam.

Dianggap berwatak keras dan kriminal oleh orang Surabaya

Dalam buku Dialektika Madura dalam Pusaran Stigma (2023), dosen IAIN Madura Saiful Hadi menjelaskan bahwa diskriminasi yang kerap dialamatkan kepada orang-orang Madura di perantauan adalah labeling.

Labeling ini muncul akibat budaya pop yang menampilkan orang-orang Madura ke dalam karakteristik tertentu. Misalnya, dianggap keras karena ada budaya Carok, atau dianggap kriminal karena satu-dua pemberitaan. Akibatnya, label itu diamini banyak orang orang, termasuk Surabaya, dan menjadi cara pandang yang umum.

Selama kuliah di Surabaya, Tulah pun mengaku bahwa pandangan sebagai karakter keras dan kriminal inilah yang membuatnya kesulitan bergaul. Alhasil, ia pun memilih bergaul dengan mahasiswa sesama Madura yang kuliah di kampusnya.

“Serba salah. Saat bergaul, kita kerap dihina-hina dengan cara pandang mereka yang rasis. Tapi kalau kita memilih gaul sesama suku, dianggapnya eksklusif, pilih-pilih,” ujarnya.

“Sampai di titik kalau ada berita kriminalitas yang viral, kita orang-orang Madura selalu dibawa-bawa. Kesannya kalau kita ini sumber dari segala sumber kejahatan. Sampai ada yang nyebut ‘Meksiko’ buat menganalogikan Madura.”

Bias-etnosentrisme

Mojok pun berbincang dengan Guru Besar Antropologi Universitas Airlangga (UNAIR), Mohammad Adib, untuk membahas fenomena ini. 

Dalam kajian antropologi, kata Adib, ada istilah “bias-etnosentrisme”. Ia merupakan cara pandang masyarakat terhadap kelompok tertentu berdasarkan latar belakang sukunya. Dalam bias-etnosentrisme, umumnya terdapat suku tertentu yang dianggap lebih inferior ketimbang suku lain.

“Fenomena ini dalam skala luas juga terjadi di berbagai tempat. Umumnya, suku mayoritas bakal menganggap minoritas sebagai kelompok yang bisa didominasi. Oleh karena itu, jika terjadi gesekkan, biasanya itu langsung dihubungkan dengan latar belakang kesukuannya,” jelas Adib, Rabu (5/2/2025).

Ia juga menambahkan, dalam bias-etnosentrisme berlaku konsep sentral-periferal alias pusat dan pinggiran. Dalam konsep ini, kelompok masyarakat yang berada di pusat, bakal memandang rendah orang-orang yang berada di pinggiran.

Adib pun menduga, dalam konteks diskriminasi terhadap Madura, mereka dianggap periferal karena lokasinya jauh dari pusat kota atau keramaian, seperti Surabaya.

Iklan

“Konsep sentral-periferal ini, juga kita temui, misalnya cara pandang orang Jogja ke orang Gunungkidul. Dalam banyak kasus, orang Jogja merasa lebih superior karena berada di kota, sementara Gunungkidul pinggiran,” ungkap Adib.

“Orang-orang di kota merasa mereka lebih berpendidikan dan beradab ketimbang orang pinggiran, sampai muncullah stigma-stigma negatif tadi.”

Madura tidak tunggal

Kendati demikian, menurut Adib, sebagai sebuah wilayah Madura itu tidak tunggal. Di Pulau Madura terdapat empat kabupaten, yakni Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep.

Suku yang mendiami pun juga beragam. Ada Suku Madura, Jawa, Tionghoa, Arab, bahkan Bugis dan Sunda.

Adib, yang bertahun-tahun menghabiskan waktu melakukan riset antropologi di Madura, mengaku paham betul tentang karakteristik masyarakatnya.

Ia mengaku, Madura bagian Timur diisi oleh orang-orang halus, baik secara logat maupun sikap. Sementara Madura bagian Barat lebih beragam, dan logat yang dipakai pun terkesan lebih keras.

“Saya menduga, orang-orang yang mendiskriminasi ini hanya melihat Madura sebagai entitas tunggal. Mungkin, yang mereka lihat hanya Madura bagian Barat karena memang secara logat agak keras.”

Orang Madura mendapatkan tempat nyaman di Jogja

Setelah empat tahun hidup dalam pusaran diskriminasi di Surabaya, Tulah pun memutuskan pindah ke Jogja. Awalnya, ia merasa kalau dua kota ini tak bakal ada bedanya dalam hal memperlakukan orang-orang Madura.

Namun, setelah tiga tahun tinggal di Jogja, ia menyadari betul bahwa Jogja adalah tempat yang nyaman bagi orang Madura.

“Seenggaknya cara pandang bias dan rasis, nggak pernah aku jumpai di sini,” kata dia.

Lebih jauh, berkaca dari banyaknya Warung Madura di Jogja, Tulah beranggapan bahwa orang sepertinya malah disambut baik di sini. Malahan, tak jarang ia mendengar bahwa Warung Madura dianggap sebagai “pahlawan” bagi orang Jogja dan anak-anak kos karena stand by 24 jam.

“Bahasa glorifikasinya, kita dipandang hero di sini. Hahaha.”

BACA JUGA: Apesnya Pengendara Motor Plat P di Surabaya, Ikut Diseret kalau Plat M Berulah karena Dianggap Sama-sama Madura atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2025 oleh

Tags: JogjaMaduraorang maduraorang surabayaSurabaya
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co
Pojokan

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO
Catatan

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)
Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

9 April 2026
Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nasib pekerja gen Z dicap lembek oleh milenial

Gen Z Jadi Kambing Hitam Generasi Senior, Dicap Lembek dan Tak Bisa Kerja padahal Perusahaan yang “Red Flag”

16 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

13 April 2026
Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Derita tak punya motor dan tidak bisa naik motor di tongkrongan laki-laki MOJOK.CO

Derita Tak Punya Motor Sendiri dan Tak Bisa Nyetir di Tongkrongan Laki-laki: Dianggap Beban hingga Ditinggal Diam-diam

16 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.