Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pertama Kali Naik Bus di Terminal Bungurasih Surabaya Langsung Bisa “Menaklukkan” Calo, Menjual Cerita Sedih adalah Kunci

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
3 Agustus 2025
A A
Terminal Bungurasih Surabaya.MOJOK.CO

Ilustrasi Terminal Bungurasih Surabaya (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Terminal Purabaya, atau lebih dikenal dengan nama Terminal Bungurasih Surabaya, bukanlah tempat yang ramah bagi orang asing. Salah satunya bagi Rian (22), mahasiswa perantau asal Jakarta yang “terpaksa” menginjakkan kaki di sana. 

Tiket kereta murah yang biasa ia beli, sudah dipesan habis. Kondisi dompetnya pun sedang menipis.

Belum lagi, sebuah pesan WhatsApp dari ibunya masuk. Mengabarkan bahwa orang tuanya tengah kesulitan membayar UKT yang bikin kuliahnya semester depan masih tanda tanya. 

Alhasil, dengan pikiran kacau, untuk pertama kalinya ia pulang kampung menggunakan bus dari Surabaya ke Jakarta. Sebenarnya, Rian sendiri sudah diperingatkan oleh teman-temannya bahwa di Terminal Bungurasih banyak calo.

Namun, karena tak punya pilihan lain buat pulang kampung, opsi naik bus tetap ia pilih.

“Ah, paling cuma beda-beda dikit,” pikirnya, kala menceritakan kisahnya tahun lalu itu kepada Mojok, Sabtu (2/8/2025). Ia yakin bahwa pengalamannya ke terminal kali ini tak ada bedanya dengan pengalaman di stasiun yang serba teratur.

“Daripada nggak pulang kampung ‘kan. So, nggak masalah aja pulang pakai bus.”

Merasa bingung karena pertama ke terminal

Sebagaimana kata Rian, ia yang terbiasa dengan stasiun kereta, dibuat bingung oleh sistem di terminal. Misalnya, begitu masuk Terminal Bungurasih, ia kesulitan menjumpai loket resmi buat beli tiket. 

Sistem pembelian tiket via aplikasi pun juga tak tersedia. Beda dengan kereta api yang pemesanan tiketnya bisa dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya via KAI Access.

“Mungkin karena ini pertama juga datang ke terminal gede begini, jadinya rada ngang-ngong ngang-ngong deh,” ungkap mahasiswa Surabaya ini.

Di tengah kebingungannya itu, seorang laki-laki berseragam PO bus ternama menghampirinya. Awalnya, Rian mengira laki-laki tersebut adalah petugas resmi terminal.

“Karena berseragam, ya ngiranya petugas terminal yang menjual tiket,” katanya, dengan polos.

Alhasil, tanpa berpikir panjang, ia pun mengikuti instruksi calo itu untuk membayar tiket ke Jakarta seharga Rp450 ribu. Rian begitu kaget, karena angkanya tak jauh beda dengan harga tiket kereta eksekutif. Padahal ‘kan, motivasinya naik bus biar ngirit.

“Aku bilang ‘nggak ada cash’, tapi ternyata bisa transfer lewat bank,” kata dia. “Aku clueless banget, makanya pas suruh transfer ya aku transfer. Sampai akhirnya memang aku diberi tiket naik bus ke Jakarta,”

Iklan

Harusnya cuma bayar Rp280 ribu, malah hampir dua kali lipat

Sejenak setelah duduk di dalam bus, Rian merasa bingung. Di satu sisi, ia lega karena mendapatkan tiket buat pulang ke Jakarta. Tapi di sisi lain, kata dia, “ini mah sama aja bohong, niat ngirit malah lebih mahal”.

Sambil menunggu bus yang masih berhenti, Rian pun memberanikan diri buat tanya-tanya ke penumpang lain. Salah satunya ke bapak-bapak yang sedang duduk di sampingnya, soal harga tiket bus ke Jakarta.

“Mas, tiketnya itu kok mahal banget? Biasanya Terminal Bungurasih ke Pulo Gebang cuma 280,” ujar Rian, mengingat keheranan bapak itu.

Rian pun serasa disambar petir. Bagaimana tidak, selisih Rp280 ribu dengan Rp450 ribu itu tak sedikit. Bahkan besar untuk mahasiswa yang lagi kere seperti dirinya.

“170 itu nggak cuma bisa buat jajan. Itu kalau pakai KA Airlangga mah bisa buat PP Surabaya-Jakarta,” ungkapnya. “Jujur aja waktu itu merasa bodoh banget, karena beli tiketnya ternyata di calo.”

Pilihan sulit antara melawan calo Terminal Bungurasih, atau merebut lagi haknya

Setelah mengetahui fakta itu, perasaan Rian makin campur aduk. Ada perasaan takut sekaligus putus asa menggelayuti benaknya. 

Di satu sisi, ia paham kalau melawan calo bukanlah pilihan yang aman. Apalagi, calo Terminal Bungurasih terkenal keras.

Namun, di sisi lain, ia juga sadar kalau uang Rp170 ribu tadi adalah haknya. Apalagi, ia juga sadar diri kalau orang tua sedang mengalami kesulitan ekonomi.

“Yang di bayanganku, ya, aku ini goblok. Ortu lagi susah, anaknya malah ketipu,” ujar Rian.

Akhirnya, ia pun merasa bahwa tak ada pilihan lain selain harus berani. Dengan jantung berdebar kencang, Rian bangkit dari kursinya dan kembali ke pintu bus, mencari sosok calo Terminal Bungurasih yang tadi menipunya.

Calo Terminal Bungurasih luluh dengan cerita sedih

Langkah Rian pun begitu mantap. Ia mengaku berusaha keras menyembunyikan tangannya yang bergetar saat menghampiri sang calo. Ia tak bisa bohong kalau perasaan takutnya seperti sedang menumpuk.

Kendati dalam perasaan yang takut setengah mati, kepalanya masih sedikit jernih. Dirinya sadar bahwa buat menghadapi calo Terminal Bungurasih, tidak bisa menggunakan kemarahan, tapi dengan cara lain.

“Pak, saya mahasiswa rantau. Uang itu buat bayar UKT. Bapak tega nipu saya?” kisah Rian, merekonstruksi caranya menghadapi calo.

Rian juga terus berbicara, menjelaskan kondisinya yang serba sulit. Ketika obrolan mereka makin menyita perhatian orang sekitar, ia bahkan mulai menaikan volume suaranya dan terus memohon.

“Bayangin kalau anak bapak yang ditipu gini. Bapak marah nggak?,” sambungnya.

Calo Terminal Bungurasih yang awalnya sinis, mendadak berubah air mukanya. Rian tak sepenuhnya tahu, apakah karena benar-benar kasihan atau merasa malu karena jadi pusat perhatian. Yang jelas, uangnya kembali meski tidak utuh.

“Gara-gara itu, dibalikin duit yang 150. Yah meskipun nggak full, tapi lumayan lah,” ujarnya.

Saat kembali ke tempat duduknya, Rian mengaku masih gemetaran. Untuk sekadar mengetik kalimat di ponsel saja, rasanya sulit. Namun, ia juga belajar bahwa menghadapi sesuatu tak selalu lewat gontok-gontokan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Bukan Calo, Tukang Gendam Adalah Ancaman Paling Mengerikan di Terminal Bungurasih Surabaya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 4 Agustus 2025 oleh

Tags: caloCalo terminal bungurasih surabayaCalo Tiketcalo tiket busSurabayaTerminal Bungurasihterminal bungurasih surabaya
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO
Urban

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Honda Scoopy membawa maut saat dipakai mudik Surabaya ke Lumajang. MOJOK.CO
Sehari-hari

Alasan Saya Bertahan Pakai Honda Scoopy untuk Mudik Surabaya-Lumajang, meski Tertipu dengan Tampang dan “Fitur” Biasa Saja yang Menyiksa

25 Februari 2026
Pekerja gila Surabaya yang melamun di Danau UNESA. MOJOK.CO
Urban

Danau UNESA, Tempat Pelarian Pekerja Surabaya Gaji Pas-pasan dan Gila Kerja. Kuat Bertahan Hanya dengan Melamun

24 Februari 2026
Siksaan naik bus ekonomi Surabaya Semarang seperti Indonesia dan Sinar Mandiri MOJOK.CO
Catatan

Siksaan di Bus Ekonomi Rute Surabaya Semarang bikin Frustrasi dan Kapok Naik Lagi: Murah tapi Harus Pasrah Jadi “Ikan Pindang” Sepanjang Jalan

22 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Dosa Indomaret yang Bikin Kecewa karena Terpaksa (Unsplash)

3 Dosa Indomaret yang Membuat Pembeli Kecewa tapi Bisa Memakluminya karena Keadaan lalu Memaafkan

21 Februari 2026
Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Bikin Orang Lupa Diri karena Ia Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas

25 Februari 2026
Motor Vespa Matic Primavera 150 warna hijau toska

Beli Vespa Mahal-mahal sampai Rp50 Juta, tapi Tak Paham Fungsinya, Dibeli karena Warnanya Lucu

19 Februari 2026
KA Airlangga, KA Taksaka, Pengalaman 22 Jam Naik Kereta Api Membelah Pulau Jawa MOJOK.CO

Pengalaman Nekat 24 Jam Naik Kereta Api Jogja-Jakarta, Cuma Habis Rp80 Ribuan tapi Berujung Meriang dan Dihina “Miskin”

19 Februari 2026
Kuliah online di universitas terbuka: meski tak ngampus tapi dirancang serius untuk mudahkan mahasiswa, meski diserang hacker MOJOK.CO

Kuliah Online di Universitas Terbuka (UT): Meski Tak Ngampus tapi Tak Asal-asalan, Sering Diserang Hacker tapi Tak Mempan

23 Februari 2026
Peserta beasiswa LPDP bukan afirmasi tidak diafirmasi

Derita Orang Biasa yang Ingin Daftar LPDP: Dipukul Mundur karena Program Salah Sasaran, padahal Sudah Susah Berjuang

21 Februari 2026

Video Terbaru

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026
Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

Rendra Agusta: Membaca Politik Indonesia dari Manuskrip Jawa Kuno

19 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.