Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Kapok Suka Menolong Orang Lain usai Ketemu 4 Jenis Manusia Sialan, Benar-benar Nggak Layak Ditolong meski Kesusahan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 Maret 2026
A A
Sesal suka menolong orang lain usai ketemu lima jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang MOJOK.CO

Ilustrasi - Sesal suka menolong orang lain usai ketemu 4 jenis orang yang tidak layak ditolong meski kesusahan. Dari tukang judi slot hingga orang susah bayar utang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Suka menolong orang lain memang bagian dari ajaran Tuhan dan para utusan-Nya. Namun, menjadi orang baik memang ada saja ujiannya. Di antaranya bertemu orang-orang tidak tahu diri yang membuat menyesal telah menolongnya. Karena kelakuannya memang tidak layak untuk ditolong. 

Kapok suka menolong orang lain gara-gara teman tukang judi slot

Awalnya, setiap seorang teman dekatnya menghubungi untuk meminjam uang, Murtadlo (26) dengan senang hati akan mengirim sejumlah uang yang dipinjam. Pasalnya, pertemanan mereka sudah terjalin sejak kelas 1 SMA. 

Iklan

Mereka baru benar-benar terpisah sejak lulus. Murtadlo merantau untuk bekerja. Sementara temannya tersebut tengah melanjutkan kuliah di sebuah kampus negeri di Jawa Tengah. 

“Tapi sesekali masih ketemu kalau sama-sama sedang pulang kampung,” ungkap Murtadlo, Rabu (11/3/2025). 

Sudah teramat sering Murtadlo menjadi penolong bagi temannya tersebut. Terutama jika urusannya meminjam uang. Alasannya macam-macam: kehabisan sebelum waktu kiriman, tapi sungkan minta orang tua. Bahkan tak jarang pula dengan alasan untuk keperluan kuliah. 

“Sampai aku tahu lah, ternyata dia tukang judi slot. Uangnya habis buat itu. Utangnya ternyata ada di mana-mana, di teman-teman lain juga. Semua wanti-wanti agar aku nggak bantu dia lagi,” ujar Murtadlo. 

Sudah jadi tukang judi slot, susah bayar utang lagi!

Di titik ini, Murtadlo mengaku menyesal telah menjadi orang yang suka menolong orang lain. Sebab, jutaan uang yang telah masuk ke rekening temannya itu—yang kemudian digunakan untuk depo judi slot—pada akhirnya tidak kembali pada dirinya. Temannya terkesan lupa kalau ia punya utang yang harus dibayar. 

“Aku sih milih, ya udah lah ya. Tapi ada temanku yang sudah muak banget. Dia sampai menagih yang bener-bener menagih. Ya walaupun nggak balik juga,” kata Murtadlo. 

Saat teman Murtadlo tukang judi slot tersebut ditagih, ada saja ngelesnya. Kalau mentok tidak bisa ngeles, paling mentok memberi harapan palsu: “Nanti pasti kubayar. Masa nggak percaya aku?”

Taek! kalau kata teman Murtadlo yang menagih utang. Sampai-sampai, teman Murtadlo itu mengirim pesan WhatsApp yang singkat, padat, dan beringas: “Uang bisa kucari. Temanku masih banyak. Jadi terserah mau kamu balikin atau nggak. Jadi putus pertemanan dengan orang kayak kamu, nggak masalah!”

“Tukang judi slot, apalagi susah bayar utang, itu orang yang memang nggak layak buat ditolong,” tegas Murtadlo. 

“Pokoknya, kalau ada teman utang pertama kali, nggak apa-apa kasih pinjam. Tapi dari situ catat, dia tipikal suka menepati komitmen (bayar utang tepat waktu) atau tipikal orang yang kalau ditagih utang malah mencak-mencak. Kalau sudah ketauan begitu, seterusnya jangan kemakan dengan apapun rayuannya kalau minta utang lagi,” tutupnya. 

Suka menolong orang lain, tapi nggak dulu ke orang yang suka merendahkan

Jika Murtadlo  Amal (25) punya cerita yang agak sentimentil dalam urusan menolong orang lain. 

Amal mengaku, sepanjang masa sekolah (dari SD-SMA), ia selalu jadi korban bullying. Tidak hanya di kalangan teman sekolah, di kalangan saudara-saudara sendiri pun begitu. 

Iklan

“Aku pendek, hitam, dan wajahku kelihatan sayu. Itu jadi modal mereka buat membully dan merendahkanku,” tutur Amal. 

Oleh karena itu, ketika taraf hidup dan karier Amal terus membaik, ia punya tekad “balas dendam” dalam konteks positif. Ia mau menjadi orang yang suka menolong orang lain. Ia mencoba menjadi orang yang selalu terbuka terhadap orang yang dikucilkan dan direndahkan dalam lingkaran tertentu hanya karena berbeda. 

“Tapi aku bukan manusia suci. Jadi kutandai orang-orang yang dulu pernah merendahkanku. Nasib mereka nggak lebih baik dariku. Bahkan yang bernasib buruk pun banyak. Apakah aku menertawakan itu? Nggak. Tapi aku menolak menolong mereka,” kata Amal. 

Sebab, teramat sering ada teman atau saudara (pembully Amal di masa lalu) yang tiba-tiba menghubungi atau bersikap amat baik kepada Amal. Amal jelas tidak termakan. Karena ia bisa menebak ujungnya: minta pertolongan. 

Sementara Amal sudah memasukkan orang-orang semacam itu pada kategori orang yang tidak layak ditolong sebagaimana tukang judi slot versi Murtadlo. 

Sebab, dalam teori Amal, orang semacam itu hanya bersikap baik kalau ada maunya doang. Tidak disertai ketulusan. Kalau hidup mereka lebih baik, orang seperti Amal pasti akan diinjak-injak juga. 

“Pinternya mereka, kalau aku nggak mau menolong, mereka langsung bangun narasi kalau aku sombong, kikir, dan deretan sebutan buruk lain. Lucu ya? Playing victim. Mereka nggak sadar, luka mental yang kualami dulu pas selalu dibully, direndahkan, hingga dikucilkan,” kata Amal emosional. 

Pemalas nggak layak ditolong!

Selain itu, meski suka menolong orang lain, Amal juga memegang prinsip: jangan susah-susah menolong pemalas.

Di masa sekolah dulu, Amal mengaku punya seorang teman baik. Paling tidak, si teman tidak pernah membully Amal. Mereka terpisah sejak lulus SMA karena terpisah kampus yang berada di daerah berbeda. 

“Mungkin pengaruh pergaulan semasa kuliah, orang ini malas banget. Kayak nggak mau diajak berkembang. Itu membuatku akhirnya membatasi diri untuk nggak nolong-nolong dia lagi,” kata Amal. 

Misalnya begini: Semasa kuliah, si teman kerap curhat di media sosial kalau hidupnya terasa berat. Amal tahu persis kesusahannya karena memang si temannya tersebut dari keluarga ekonomi bawah. 

Masalahnya, aktivitas si teman—setidaknya dari yang tampak di media sosial—cuma kelihatan ngopa-ngopi, ngopa-ngopi. Padahal, bagi Amal, si teman harusnya bisa melakukan apa yang juga Amal lakukan dulu: kuliah sambil kerja. 

“Pas aku sudah kerja, dia juga termasuk salah satu orang yang sambat ke aku. Konteksnya bukan utang, tapi minta dicarikan lowongan kerja. Aku serius waktu itu buat mencarikan. Tapi malah mengecewakan,” kata Amal. 

Sudah susah-susah dicarikan, tapi ketika daftar lowongan kerja itu Amal kirim, respons si teman benar-benar membuat Amal kesal: 

“Duh, posisinya kayaknya aku nggak passion.” 

“Wah, sik, kayaknya aku belum bisa kalau merantau ke kota itu.”

“Bahkan pernah, ada satu lamaran kerja dia yang nyantol. Tapi pas diminta datang interview, tiba-tiba nggak lanjut,” kata Amal. 

“Aku menilainya sih pemalas aja ya. Karena nggak mau keluar dari zonanya. Padahal di kondisi lagi sangat butuh kerjaan. Ujung-ujungnya juga jadi tukang judi slot karena iming-iming dapat uang besar secara instan,” pungkasnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Anak Perempuan Pertama Mengorbankan Masa Muda demi Hidupi Orang Tua Miskin dan Adik Tolol, Tapi Tetap Dihina Keluarga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2026 oleh

Tags: dalil menolong orang laindalil tolong menolongjudi slotmenolongmenolong orang lainslotsuka menolongsusah bayar utangtukang juditukang judi slotutang
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Tips Membuat Utang Tidak Lagi Menjadi Beban Kehidupan MOJOK.CO
Cuan

Nggak Semua Utang Itu Buruk: Cara Mendeteksi Utang yang Baik dan Tidak Menjadi Beban

15 Juni 2026
Gaji 2 juta hasil kerja di Jogja habis buat ngasih makan naga (judi slot) karena ilusi jackpot MOJOK.CO
Urban

Gaji 2 Juta Jogja Selalu Lenyap buat Ngasih Makan Naga: Rela Kelaparan dan Susahkan Ortu-Teman demi Jackpot, Tapi Tak Mau Sadar

14 Juni 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO
Catatan

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada MOJOK.CO
Tajuk

Jebakan Ilusi PayLater: Anak Muda Pilih Bayar Gengsi dengan Pendapatan yang Belum Ada

11 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha Terbaik Idola Orang Jambi MOJOK.CO

Setelah Melakukan Pengamatan, Saya Menemukan Fakta Bahwa Jupiter Z1 Adalah Motor Yamaha yang Menemukan Habitat Alaminya di Jambi

25 Juni 2026
Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai MOJOK.CO

Malang Santai Sayang, tapi Kritik Tak Lagi Santai 

26 Juni 2026
Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal MOJOK.CO

Masalah Orang Dewasa: Dana Darurat, Skincare, dan Kecemasan yang Sama-sama Mahal

24 Juni 2026
Piala Dunia, Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib.MOJOK.CO

Joachim Klement yang Tak Pernah Salah Ramal dan Skenario-Skenario Ajaib Pildun

25 Juni 2026
Kisah pengusahaan binaan program UMiMAX dari Pertamina. MOJOK.CO

Kisah Para Ibu Jual Kopi Keliling usai Suami Kena PHK, Relakan “Cincin Terakhir” agar Anak Bisa Sekolah

26 Juni 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO

Punya WiFi di Rumah Desa Bikin Bocil Tetangga Jadi Kurang Ajar dan Hilang Adab, Saya yang Bayar Tagihan Cuma Dapat Emosinya

25 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.