Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Enaknya Lebaran di Perumahan Kota yang Tak Dirasakan Pemudik di Desa, Dianggap Kesepian padahal Lebih Tenang

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Maret 2026
A A
Ilustrasi mudik lebaran, perumahan.MOJOK.co

Ilustrasi mudik lebaran (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Nyatanya, merayakan lebaran di perumahan kota lebih enak daripada mudik ke desa. Privasi lebih terjaga, energi tak habis, kantong pun aman.

***

Ada pemandangan yang selalu sama setiap kali musim mudik lebaran tiba: antrean panjang kendaraan di jalan tol, rest area yang penuh sesak, dan linimasa media sosial yang isinya foto kumpul keluarga besar di kampung halaman.

Mudik seolah jadi kewajiban mutlak. Namun, di balik senyum seragam keluarga itu, ada realitas yang jarang diakui, meski dirasakan banyak orang.

Mulai dari badan yang pegal linu dihajar kemacetan belasan jam, rumah yang mendadak jadi “asrama dadakan”, hingga energi yang habis terkuras untuk menjawab pertanyaan berulang, “Kapan nikah?, “Kapan lulus?, “Kapan nambah anak?”, atau “Gajinya berapa sekarang?”.

Dulu, saya selalu mendapat tatapan iba dari teman-teman setiap kali berkata, “Tahun ini aku lebaran di kota saja, pulang paling H+3”. Mereka mengira saya akan menangis kesepian menatap tembok kos yang sepi.

Padahal, yang tidak mereka sadari, berdiam diri di kos saat kota sedang kosong melompong adalah sebuah kemewahan. Ini bukan soal kesepian, tapi menjaga kewarasan.

Lebaran di desa nggak ada privasi

Pengalaman ini diamini oleh Rias (27). Sejak menikah, Rias dan suaminya tinggal di sebuah perumahan di kawasan Tangerang. Awalnya, ia adalah penganut tradisi mudik yang rutin. Tiap tahun, ia selalu pulang ke kampung halamannya di Solo.

Namun, titik baliknya terjadi menjelang Lebaran tahun 2025 lalu. Saat itu, Rias baru saja punya bayi. Membayangkan bayinya harus terjebak di dalam mobil selama lebih dari delapan jam dalam perjalanan membuat Rias memutar otak.

“Aku begitu kasihan kalau harus melihat bayi kami kelelahan di jalan,” ungkapnya, Rabu (11/3/2026) sore.

Akhirnya, ia memutuskan untuk tidak mudik. Sebagai gantinya, ia membiayai perjalanan keluarganya dari Solo untuk datang ke rumahnya di Tangerang.

Dari keputusan terpaksa itu, Rias justru menemukan kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Jika di desa rumah orang tua biasanya akan penuh sesak oleh kerabat yang datang silih berganti, di perumahannya sendiri Rias memegang kendali penuh.

“Sesederhana punya privasi saja sudah senang,” kata dia. “Di sini, saya bebas menyusui bayi tanpa harus mencari kamar kosong. Kalau di desa mana bisa, tetangga bisa keluar masuk tanpa ada privasi.”

Bahkan, ia bisa dengan santai memakai daster seharian dari pagi sampai malam tanpa takut dihakimi oleh keluarga jauh yang tiba-tiba masuk ke ruang tamu. Rumahnya benar-benar menjadi wilayah tempatnya berkuasa penuh.

Iklan

Energi habis buat basa-basi

Selain privasi yang terjaga, Rias juga merasakan keuntungan lain dari kultur perumahan: energi sosialnya tetap utuh.

Di kampung halamannya, Lebaran identik dengan tradisi keliling dari satu rumah ke rumah lain. Menutup pintu rumah saat hari raya bisa dianggap sombong atau tidak mau bersilaturahmi.

“Kalau gitu ya mau nggak mau harus siap mental ketemu dengan puluhan orang, meladeni basa-basi tetangga. Belum lagi jika ada yang mulai kepo bertanya soal hal-hal pribadi,” ujarnya.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan kehidupan di perumahan kota. Karakter warga perumahan yang cenderung individualis dan menjaga batas justru menjadi pelindung tersendiri saat Lebaran tiba.

Karena antar tetangga seringkali hanya kenal sekadarnya, tidak ada kewajiban atau beban moral untuk menggelar open house besar-besaran.

Silaturahmi di perumahan terasa sangat “praktis”. Kata dia, mengirim ucapan maaf lewat stiker di grup WhatsApp RT sudah dianggap cukup. Kalaupun kebetulan bertemu fisik, paling hanya saat berpapasan sebentar. Tinggal tersenyum, mengangguk sopan, dan selesai.

“Karena di perumahan saya merasa nggak ada gangguan, saya dan keluarga inti yang datang ke Jakarta malah benar-benar menikmati waktu bersama dengan obrolan yang jauh lebih berkualitas dan intim.”

Mudik di musim lebaran bikin boncos

Kenyamanan Lebaran di perumahan tidak hanya soal mental, tapi juga soal hitung-hitungan uang. Hal ini sangat dirasakan oleh Jonathan (26).

Perjalanan Jonathan memutuskan “pensiun” dari rutinitas mudik berawal dari tuntutan hidup. Pada Lebaran tahun 2022, ia baru saja lulus kuliah dan diterima kerja. Karena statusnya masih karyawan baru, ia tidak bisa seenaknya mudik di hari raya.

Waktu itu, Jonathan mengaku sempat menangis di kamar karena rindu rumah. Ia baru bisa pulang ke kampung halamannya sekitar H+7 setelah Lebaran demi menyelesaikan pekerjaannya.

“Tapi setelah bertahun-tahun menjalani ritme kayak gitu, malah terbiasa. Ternyata mudik di luar musim libur Lebaran itu jauh lebih santai dan murah,” kata lelaki asal Makassar ini, Rabu (11/3/2026) sore.

Puncaknya pada Lebaran 2025 lalu, ia memutuskan untuk benar-benar menetap di perumahan bersama istrinya dan resmi menepi dari arus mudik tahunan.

Bagi Jonathan, mudik saat hari raya seringkali bergeser menjadi “panggung gengsi” yang menghamburkan banyak uang. Di perumahan, karena tetangga tidak saling pamer kesuksesan, ia merasa terbebas dari tuntutan finansial tersebut. Tidak perlu beli baju seragam keluarga yang mahal, dan tidak ada keharusan membagi-bagikan uang (THR) ke belasan anak tetangga demi menjaga nama baik sebagai anak rantau yang sukses.

Dua kali lebih hemat

Jonathan bahkan membuat simulasi hitung-hitungan kasar yang membandingkan pengeluaran mudik dengan berdiam diri di perumahan.

Jika memaksakan mudik di puncak Lebaran, inilah bayangan biayanya:

  • Tiket pesawat untuk dua orang: Rp3.500.000
  • Uang THR untuk belasan keponakan dan sepupu: Rp2.500.000
  • Beli baju seragam keluarga dan hampers: Rp1.500.000
  • Dana darurat selama di jalan: Rp1.000.000
  • Total Pengeluaran Mudik: Rp8.500.000

Sementara selama Lebaran di perumahan, ia paling-paling hanya perlu belanja stok makanan ringan dan transfer uang THR khusus untuk orang tua inti di kampung. Tiket pesawat di luar masa libur mudik lebaran pun bisa setengah lebih murah.

“Dengan memilih bertahan di perumahan, saya bisa menghemat lebih dari separuh pengeluaran,” kata dia. “Intinya kan pulang, mau kapan pun. Soal maaf-maafan, kan nggak selalu harus pas hari H lebaran.”

Pada akhirnya, mudik ke desa memang tradisi mulia yang akan terus hidup. Bertemu orang tua, mencium tangan mereka di hari yang fitri, dan bernostalgia di tanah kelahiran adalah momen berharga yang tak bisa digantikan oleh apa pun.

Namun, memilih untuk menghabiskan hari raya di perumahan kota bukanlah sebuah nasib buruk yang patut dikasihani. Seperti yang dialami Rias dan Jonathan, di balik sunyinya jalanan kompleks dan pagar rumah yang tertutup rapat, ada kenikmatan yang luput dari perhatian banyak orang.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mudik Lebaran Jadi Ajang Sepupu Minta Kerjaan, tapi Sadar Tak Semua Orang Layak Ditolong atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 11 Maret 2026 oleh

Tags: Lebaranlebaran 2026lebaran di desalebaran di kotalebaran di perumahanMudikmudik 2026perumahanperumahan di kotapilihan redaksisisi lain perumahan
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Catatan

Nongkrong di Usia 30 Terasa Tak Sama Lagi: Teman Makin Jompo, Obrolan Kian Membosankan, tapi Saya Berusaha Memahami

22 April 2026
Derita anak pintar dan siswa berprestasi yang hidup dalam kemiskinan di desa. Tak dapat dukungan pendidikan dari orang tua MOJOK.CO
Sehari-hari

Jadi Anak Pintar di Desa Tanpa Privilege Sia-sia: Ortu Tak Dukung Pendidikan karena Kemiskinan, Lulus Sekolah Dipaksa Nikah dan Bekerja

22 April 2026
Ilustrasi punya rumah megah di desa.MOJOK.CO
Catatan

Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga

21 April 2026
Ilustrasi tinggal di desa.MOJOK.CO
Sehari-hari

Bersih Desa, Tradisi Sakral yang Kini Cuma Jadi Ajang Gengsi: Bikin Perantau dan Pemudanya Sengsara, Buang-Buang Waktu dan Uang

20 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak (Unsplash)

3 Ciri Nasi Goreng di Jogja yang Biasanya Nggak Enak: Cobain, deh, Kalau Kamu Nggak Percaya

22 April 2026
Ezra, alumnus UGM umur 25 tahun, yang lanjut kuliah S2 dan ikut ekspedisi ke Antartika, nggak peduli quarter-life crisis

Umur 25 Tahun Nggak “Level” dengan Quarter-Life Crisis, Alumnus UGM Kuliah S2 di Australia dan Ekspedisi Ilmiah di Antartika

17 April 2026
Orang Jogja Syok Merantau ke Jakarta karena Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak Mojok.co

Orang Jogja Syok Nggak Bisa Sarapan Soto Bening yang Enak di Jakarta

16 April 2026
Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran MOJOK.CO

Gagal Paham Pejabat Soal Pantura: Tanggul Laut adalah Proyek Berbahaya yang Memboroskan Anggaran

22 April 2026
iPhone 6 dan 7 lebih diminati gen Z

iPhone Jadul Bangkit Kembali Berkat Gen Z, Kualitas Foto “Tak Sempurna” Malah Dianggap Unggul daripada Keluaran Terbaru

20 April 2026
Mahasiswa S2 PAUD UNJ, WNA Malaysia

Cerita Mahasiswa Malaysia Nekat Kuliah S2 di UNJ karena Dosen “Unik”, Bahagia Meski Tiap Hari Diceng-cengin

21 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.