Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

3 Siasat Perantau Asal Jogja Bertahan Hidup di Jakarta Berbekal 2 Juta Sebulan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
15 Agustus 2024
A A
Menteng Jakarta Pusat, Saksi Bisu Perantau “Diinjak-injak” Orang Kaya.MOJOK.CO

Ilustrasi - Menteng Jakarta Pusat, Saksi Bisu Perantau “Diinjak-injak” Orang Kaya: Meninggalkan Kota Kecil demi Mengubah Nasib, Malah Diupah Tak Wajar (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kata banyak orang, kenekatan adalah modal yang penting untuk menghadapi kerasnya Jakarta. Namun, nekat yang tak dibarengi siasat jitu, hanya bakal bikin para perantau hidup menderita.

Sebelumnya, Mojok sendiri telah menuliskan banyak liputan terkait para perantau yang modal nekat ke Jakarta, dan berakhir sengsara. Ada yang yang 6 bulan tak dapat kerja, hidup di kosan kumuh, mengonsumsi makanan sisa, hingga rela jadi pemulung buat bertahan hidup.

Nova (26), perantau asal Jogja yang sudah dua tahun merantau di Jakarta, membagikan pengalamannya bertahan hidup modal Rp2 juta sebulan. Padahal, nominal itu jauh dari nominal kebutuhan yang ideal dikeluarkan untuk hidup di ibukota.

Berdasarkan Survei Biaya Hidup tahun 2022 yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan biaya hidup rumah tangga di Jakarta mencapai Rp 14,88 juta per bulan. Biaya hidup ini merupakan yang tertinggi di Tanah Air.

Survei merujuk pada biaya rumah tangga beranggotakan 2-10 orang dengan minimal satu orang yang bekerja. Survei Biaya Hidup 2022 berlangsung pada 240.000 rumah tangga dan 847 komoditas di 150 kabupaten/kota.

Sementara bagi perantau seperti Nova, paling tidak dibutuhkan uang Rp5 juta per bulan untuk memenuhi kebutuhannya. Ini termasuk biaya pangan, papan (sewa kos), dan gaya hidup.

Ada beberapa siasat yang ia lakukan agar uang Rp2 juta cukup buat hidup selama sebulan.

#1 Kos murah tapi tak kumuh

Pada 2022 lalu, Nova memilih merantau ke Jakarta. Setelah lulus dari salah satu PTS di Jogja, ia memutuskan meninggalkan kampung halamannya itu demi penghidupan yang lebih baik.

Bagi Nova, tetap bertahan di Jogja tak menjamin masa depan yang cerah. Terlebih, beberapa tempat kerja yang sebetulnya berniat ia masuki, menawarinya gaji kurang layak.

“Makanya, pas dapat tawaran kerja di Jakarta dengan gaji Rp4,2 juta sebulan, aku langsung gas aja,” ungkapnya, saat Mojok wawancarai pada Selasa (13/8/2024) kemarin.

Jujur, Nova sangat bahagia dapat gaji yang mumpuni. Apalagi, bidang kerja yang ia tempati sesuai passionnya, yakni desain grafis. Namun, sebagai seorang sandwich generation, tentu uang bulanan yang dia terima tak bisa dinikmati secara utuh.

“Transferan ke orang tua, karena dua-duanya sudah tak bekerja. Sama ngasih uang saku ke adik, masih kuliah sama SMP. Kalau musim bayar UKT, aku juga ngusahain,” kata Nova.

“Pokoknya saldo yang aku terima bersih di rekening ya mentok 2 juta aja,” imbuhnya.

Mau tak mau, cara pertama untuk menyiasati pengeluarannya menjadi seminim mungkin adalah dengan mencari kos-kosan murah. Paling tidak, jangan sampai di atas Rp500 ribu.

Iklan

Namun, di Jakarta Selatan, ia kesulitan menemukan kos murah. Apalagi yang dekat kantor. Kalaupun ada yang di bawah Rp500 ribu, kondisinya sangat memprihatinkan dan menyatu dengan pemukiman kumuh.

“Untungnya di Lenteng Agung aku dapat kos-kosan 400 ribu. Memang lingkungannya cukup kumuh. Tapi ya kembali lagi, pinter-pinteran kita ngatur dan bersihin kosan kita biar nyaman huni aja.”

#2 Memanfaatkan transportasi umum, maksimal habis 10 ribu per hari

Sejak awal, Nova memang sengaja tak membawa sepeda motor sendiri ke Jakarta. Selain alasan motornya dipakai adik-adiknya, ia merasa tak akan kuat menghadapi macetnya Jakarta. 

“Sama macetnya Jogja aja stres, apalagi sama macet Jakarta,” ujarnya.

Makanya, ia mencari kos-kosan yang dekat kantor agar cukup berjalan kaki tiap hari. Namun, apa daya, kos murah yang tersedia lokasinya cukup jauh dari tempat kerja. Kira-kira 30-45 menit waktu tempuhnya.

Untungnya Nova sangat beruntung, akses transportasi publik dari kos ke kantornya sangat mudah. Untuk mendapatkan transportasi umum, ia cukup berjalan kaki 3-5 menit.

Tiap hari, ia rutin menggunakan TransJakarta dari Lenteng Agung ke pusat kota Jagakarsa, tempat kerjanya. Terkadang ia juga beberapa kali menggunakan mikrotrans saat busway tadi belum juga melintas.

“Sekali naik 3.500, kalau pakai mikro 5.000. Sekali jalan itu. Ya, jadinya nyiapin uang 10 ribu aja sudah cukup buat ongkos PP.”

#3 Warteg andalan, “paling murah se-Jakarta”

Bagi Nova, tak ada masalah dalam hal pengeluaran sewa kos dan transportasi. Yang menjadi tantangan dia adalah tersedianya makanan murah yang memang langka.

Nova mengatakan, paling tidak uang Rp20-25 ribu harus disiapkan buat sekali makan di Jakarta. Memang, ada yang sedikit lebih murah. Namun, menurutnya, “nggak enak dan nggak bikin kenyang”.

Awal-awal ngekos, ia mengaku masih kesulitan menemukan warung makan yang ramah di kantongnya. Untungnya, dia menemukan “hidden gem” dalam bentuk warteg.

Menunya beragam. Harganya juga terjangkau. Dan, yang paling disyukuri, salah satu pegawainya adalah orang Jogja. Tak butuh waktu baginya buat akrab dan menjadi langganan warteg tersebut.

“Makan nasi telur es teh 15 ribu. Kadang kalau lagi nggak males, bikin nasi sendiri lauknya beli 10 ribu sekali makan,” kata Nova.

“Kayaknya warteg di situ emang nggak nyari untung. Sedekah lebih tepatnya. Soalnya harga makanan jauh banget murahnya ketimbang warung lain. Hahaha.”

Kalau dikalkulasi, rata-rata dalam sehari Nova menghabiskan uang Rp35-40 ribu. Jika dikalikan sebulan (30 hari), pengeluarannya rata-rata hanya Rp1,2 juta. Ditambah pengeluaran Rp400 ribu buat kos, artinya ia masih punya sekitar Rp400 ribu lagi buat dana darurat maupun pemenuhan gaya hidup.

Pada intinya, Rp2 juta yang Nova kantongi per bulannya, dengan kedisiplinan dan siasat yang jitu, ternyata cukup buat “menaklukan” kejamnya Jakarta yang serba mahal.

“Tapi jangan tanya tabunganku berapa, karena emang belum kepikiran bisa nabung. Hahaha,” pungkasnya, dengan tertawa.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Rez

BACA JUGA 3 Kawasan di Jakarta Barat yang “Paling Keras” Bagi Perantau, Saksi Bisu Kuatnya Mental Para Pendatang Melawan Rasa Lapar dan Preman

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 15 Agustus 2024 oleh

Tags: biaya hidup jakartajakartakerja di jakartamerantau ke jakartaperantau jakartaUMR Jakarta
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
Kompetisi Campus League 2026 - Basketball Regional Bandung Season 1 menjadi saksi terjalinnya kerja sama antara Campus League dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang bertujuan untuk membangun ekosistem olahraga jangka panjang dan pembentukan karakter mahasiswa MOJOK.CO
Kilas

Campus League Basketball Season 1 Regional Jakarta: Jadi Ajang Pembuktian Diri di Level yang Berbeda

25 Mei 2026
Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jawa Tengah dan Bappenas bersinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur di Pantura dan Pansela MOJOK.CO

Pembangunan Infrastruktur Pantura dan Pansela Jadi Prioritas karena Jateng Punya Banyak Potensi Ekonomi

9 Juni 2026
Hasil riset FEB UGM: workaholic alias kera berlebihan tidak selalu merusak kebahagiaan MOJOK.CO

Riset: Kerja Berlebihan (Workaholic) Tidak Selalu Merusak Kebahagiaan, Asalkan Dapat 2 Situasi Ini di Lingkungan Kerja

6 Juni 2026
Edi Dimyati. MOJOK.CO

Kisah Pustakawan Menyulap Rumahnya di Pinggir Sungai Jakarta Timur agar Bisa Nongkrong Kalcer sambil Baca Buku

8 Juni 2026
Dompet digital selamatkan pedagang UMKM. MOJOK.CO

4 Kiat Pedagang Es Campur dan Roti Kukus yang Tetap Laris di Tengah Situasi Pelik

3 Juni 2026
Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja MOJOK.CO

Nestapa Anjing di Jogja: Dibuang Sarjana yang Baru Wisuda atau Jadi Sengsu di Atas Meja

8 Juni 2026
Tempat kerja, Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

Standard Good Looking dan Berpenampilan Menarik yang Diskriminatif dan Merugikan Pekerja Perempuan

3 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.