Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Pahitnya Nasib Perantau di Cengkareng Jakarta Barat, Rela Jadi Pemulung Demi Makan Tapi Tak Berani Jujur ke Ortu di Kampung

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
6 Agustus 2024
A A
Pahitnya Nasib Perantau di Cengkareng Jakarta Barat, Rela Jadi Pemulung Demi Makan Tapi Tak Berani Jujur ke Ortu di Kampung.MOJOK.CO

Ilustrasi Pahitnya Nasib Perantau di Cengkareng Jakarta Barat, Rela Jadi Pemulung Demi Makan Tapi Tak Berani Jujur ke Ortu di Kampung (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Mengadu nasib di ibu kota tak pernah mudah. Perantau asal Jawa Tengah sudah membuktikan kerasnya kerja di Cengkareng Jakarta Barat. Ia bahkan rela menjadi pemulung demi bertahan hidup.

***

Lima tahun lalu, Ridwan (26) tiba di Cengkareng, Jakarta Barat. Kedatangannya ke ibu kota bukan tanpa alasan. Ia merantau karena ada tawaran pekerjaan di sebuah distribution center (DC) jasa ekspedisi.

Lelaki asal Jawa Tengah ini pun memutuskan resign dari pekerjaannya sebagai penjaga toko cat di kawasan Solo. Besaran gaji yang lebih besar menjadi alasannya menerima tawaran kerja di Jakarta.

“Di Solo, gajiku cuma 1,7 juta sebulan. Memang tidur di dalam karena disediain tempat tinggal, tapi ya tetap saja kecil,” kata Ridwan saat Mojok wawancarai Senin (5/8/2024) sore.

“Di DC Jakarta Barat gajinya 3,5 juta. Itu belum sama bonus sama uang lembur. Makanya jujur saja, saat itu saya tergiur,” tambahnya.

Bos menerima permintaan resign-nya. Orang tua pun juga merestuinya merantau ke Jakarta. Sebelum berangkat, ia bahkan juga menjanjikan akan segera menikahi kekasihnya yang ia kenal selama kerja di Solo.

“Gambaran awalnya ‘kan setahun kerja di Jakarta sudah bisa sukses,” kata Ridwan, mengingat kepercayaan diri yang ia rasakan sekitar 2019 lalu.

Baru sebentar kerja di Cengkareng Jakarta Barat, langsung kena PHK

Setiba di Cengkareng Jakarta Barat, Ridwan menatap masa depannya dengan penuh optimisme. Kerja enak, gaji besar, serta janji-janji ke ortu dan kekasihnya, kelihatan bakal ia dapatkan.

Awal-awal kerja di ibu kota, semua masih terlihat menjanjikan. Lingkungannya kondusif, gaji mumpuni, dan transferan ke orang tua juga lancar.

Sayangnya, bulan madunya ini hanya bertahan beberapa bulan saja. Pasalnya, awal 2020 pandemi menyerang. Banyak bisnis collapse. Banyak perusahaan pun terpaksa “merumahkan” banyak pegawainya, termasuk tempat kerja Ridwan.

“Sangat terpukul. Baru ngerasain hidup enak bentar, sudah harus balik ke masa-masa suram lagi,” keluhnya.

Namun, ia tak berani jujur ke orang tua di kampung. Ridwan memilih bertahan di Cengkareng Jakarta Barat dengan harapan mendapat pekerjaan lain.

Sisa gajinya bulan lalu ia gunakan buat bertahan hidup, setidaknya sampai dapat pekerjaan baru. Namun, mencari kerja saat pandemi Covid-19 ternyata tak semudah yang ia bayangkan.

Iklan

“Nyaris dua bulan nggak kerja. Padahal Jakarta masih ramai meskipun kasus Covid sudah terjadi di mana-mana. Tapi nggak ada satu pun tempat kerja yang berani buka lowongan.”

Bertahan hidup di Jakarta dengan cara memulung

Sebulan menganggur, Ridwan memutuskan pindah kos ke kawasan yang lebih murah. Ia pun memilih sebuah kos di daerah Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat. Alasannya, ada beberapa kenalannya yang sudah lama tinggal di sana.

Beberapa kenalannya bekerja sebagai pedagang di Pasar Cengkareng. Selain dapat kos yang biaya sewa lebih terjangkau, Ridwan juga berharap dapat tawaran pekerjaan dari kenalannya itu.

Sayangnya, ia tak mengira kalau pandemi juga mematikan geliat pedagang di pasar-pasar. Sejak pemerintah DKI Jakarta mulai membatasi aktivitas warga, kenalannya tadi juga stop berdagang.

“Jadi ya saya datang ke Kapuk itu ketemu para penganggur lain, Mas,” guraunya. “Kami sama-sama bingung, kudu ngapain setelah itu.”

Ridwan mengaku, kehidupan di Kapuk sebenarnya tak boros-boros amat. Biaya kosnya cuma Rp400 ribu sebulan. Tak terlalu bagus, tapi masih layak huni. Sementara harga makanan, asal tak terlalu pilih-pilih, masih cukup murah. Rp15 ribu sudah bisa makan sampai kenyang.

Namun, tetap saja, biaya hidup murah tanpa dibarengi penghasilan bakal membuat dia sengsara di perantauan. Alhasil, jalan ninja pun ia ambil. Bersama beberapa kenalannya, Ridwan menemukin pekerjaan yang saat pandemi pun belum terlihat layu, yakni menjadi pemulung.

“Saat awal mutusin mulung, nggak pernah terbayangkan seumur hidup saya di usia masih 21 tahun menjadi pemulung. Tapi nggak masalah, selama itu halal dan bisa buat hidup.”

2 tahun jadi pemulung di Cengkareng Jakarta Barat, cukup buat bertahan hidup

Kepada saya, Ridwan bercerita, kurang lebih dua tahun waktu yang ia jalani sebagai seorang pemulung di Cengkareng Jakarta Barat. Selama kurun 2020-2022 itu juga, kesehariannya amat monoton.

Pagi-pagi buta, ia menuju ke tempat pembuangan sampah dekat kosnya. Di sana ia harus memilah berbagai jenis sampah yang bisa diangkut. Biasanya sampah plastik dan besi. Setelah itu, sebelum pukul 6 pagi, ia sudah harus membawa sampah-sampah tersebut ke seorang penadah yang ia sebut juragan.

Setelah istirahat ngopi dan sarapan, mulai pukul 9 sampai pukul 2 siang ia berkeliling Cengkareng untuk mengais sampah. Namun, dirinya tak bisa sembarangan. Sebab, beberapa tempat sudah “dipatok” oleh pemulung lain.

“Kalau gacor, sehari bisa dapat 100 ribu lebih. Kalau seret ya mentok 50 ribuan, habis buat dua kali makan,” jelasnya, mengingat besaran penghasilannya kala itu.

Meski terhitung pas-pasan, Ridwan mengaku penghasilannya itu cukup buat menutup kebutuhan hariannya ditambah biaya sewa kos. Kalau rajin, hasilnya memang lumayan.

Menurutnya, di Cengkareng Jakarta Barat banyak pemulung yang kerjanya setengah hati. Dalam bahasa dia, “memulung cuma buat menarik simpati”, karena biasanya mereka lebih banyak meminta-minta atau mengemis di jalanan.

Menutup pekerjaan sebagai pemulung dari ortu dan sang kekasih

Pada lebaran 2022, ia mendapat kesempatan mudik gratis ke kampung halaman. Itu adalah pengalaman pertamanya pulang kampung setelah dua tahun merantau di Jakarta.

“Sampai rumah, aku nggak mungkin jujur kalau bertahan hidup dengan cara memulung. Aku ngakunya masih kerja di DC, cuma gajinya terpotong banyak karena pandemi,” ungkapnya.

“Di rumah, ya aku biasa saja. Pakai outfit orang kota, biar kelihatan jadi ‘orang beneran’ di Jakarta,” gurai lelaki ini.

Kini, Ridwan memutuskan bekerja di dekat rumahnya. Meski gajinya jauh dari yang dia pernah dapatkan di Cengkareng Jakarta Barat, setidaknya cukup buat menutup kebutuhan hariannya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA Kerasnya Hidup di Tambora Jakarta Barat, Perantau Berbagi Ruang dengan Tikus dan Kecoa di Kos Kumuh

Ikuti artikel dan berita Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 7 Agustus 2024 oleh

Tags: cengkarengcengkareng jakarta baratjakartaJakarta Baratkerja di jakartamerantau di jakarta
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO
Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Hadirkan Rasa Takut MOJOK.CO
Otomojok

Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Menghadirkan Rasa Takut tapi Ternyata Menjadi Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Diceritakan

7 Mei 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Kerja di Jakarta naik transum kereta KRL
Catatan

KRL adalah “Arena Perjuangan” Pekerja Jakarta: Tak Semua Orang Sanggup, Hanya Manusia Kuat yang Bisa

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

18 Mei 2026
Kos kamar mandi luar memang murah. Tapi mending cari kamar mandi dalam kalau tidak mau kena mental MOJOK.CO

Kos Kamar Mandi Luar Memang Lebih Murah, Tapi bikin Repot Sendiri karena Dipakai Bareng Penghuni Lain Tak Tahu Diri (Kemproh dan Pemalas)

14 Mei 2026
Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi MOJOK.CO

Catatan Lulusan S2 yang Jadi Driver Maxim: Mempraktikkan Ilmu Pemerintahan Tanpa Birokrasi

13 Mei 2026
buku remy sylado.MOJOK.CO

Mendobrak Fiksi Sejarah Jawa-sentris lewat Inani Keke dan Trabar Batalla, Harta Karun yang Sempat dianggap “Budaya Rendah”

15 Mei 2026
Lewat album "Jalan Kaki" - Hifdzi Khoir ceritakan perjalanan hidup, juga sebagai legacy dari mendiang Gusti Irwan Wibowo MOJOK.CO

Album “Jalan Kaki”: Cara Hifdzi Khoir Bercerita tentang Perjalanan Hidup, Jadi Legacy dari Mendiang Gusti

19 Mei 2026
Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.