Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Kerja Sesuai Hobi Bikin Menderita: Kita Jadi Tak Lagi Punya Tempat Menenangkan Pikiran Saat Muak dengan Pekerjaan

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
18 Mei 2026
A A
Pekerja Jakarta, WFH, kerja sesuai hobi.MOJOK.CO

Ilustrasi - Kerja Sesuai Hobi (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Konon, kerja sesuai hobi adalah kemewahan tertinggi yang dimiliki seseorang, terutama anak muda. Bayangannya, kita bisa kerja seperti sedang main, sesuai passion; melakukan hal yang disukai, tapi dibayar. 

Namun, kenyataannya, itu semua omong kosong. Bagi banyak orang, kerja sesuai hobi malah menyiksa. Mengapa demikian?

Hobi menggambar sejak kecil

Bagi Rida (29), menggambar adalah hidupnya. Sejak masih berseragam sekolah, buku-bukunya tak pernah selamat dari coret-coretan.

Baginya, menggambar adalah cara paling jujur untuk meluapkan emosi ketika kata-kata tak lagi cukup untuk menjelaskan apa yang sedang ia rasakan.

Kecintaannya pada seni visual terus berlanjut hingga bangku kuliah. Meski tak mengambil jurusan yang berhubungan dengan menggambar, Rida rajin nongkrong di UKM seni rupa. Ia juga bergabung dengan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM). 

Di ruang redaksi kampus inilah ia merasa benar-benar hidup. Sebagai ilustrator, ia bebas menggambar karikatur kritik sosial atau poster yang menyuarakan keresahan mahasiswa. 

Ketika lulus dan langsung diterima sebagai desainer grafis di sebuah agensi periklanan di Jakarta Selatan, Rida merasa hidupnya sempurna. 

“Akhirnya bisa kerja sesuai hobi, sesuai passion,” ujarnya, Sabtu (16/5/2026), menceritakan isi hatinya waktu diterima kerja dua tahun lalu. Ia membayangkan hari-harinya akan penuh dengan eksplorasi karya visual yang indah, apalagi ia dibayar untuk melakukan hal yang paling ia cintai.

Kerja sesuai hobi malah membuat kesenangan kita mati

Namun, bayangan manis itu rontok bahkan di bulan-bulan pertama. Bekerja di industri kreatif ternyata jauh dari kata “kebebasan”. Yang Rida rasakan, menggambar tak lagi soal ekspresi, tetapi memenuhi ego klien dan menuruti tenggat waktu yang seringkali tidak masuk akal.

“Kayak kita nggak bisa eksplor. Semuanya tergantung klien, meskipun menurutku selera mereka kadang harus dipertanyakan,” jelasnya.

Satu pengalaman yang paling “membunuh” idealismenya adalah saat ia pertama ditugaskan membuat poster promosi sebuah produk. Ia memutar otak dan merancang desain minimalis yang elegan. 

Pemilihan warnanya, tata letak hurufnya, benar-benar sesuai dengan teori desain yang mati-matian ia pelajari. Gaya “bercerita” poster itu juga sangat khas dirinya.

Namun, klien menolaknya mentah-mentah. Alasannya singkat: “terlalu sepi”.

Ia bercerita, revisi turun di jam delapan malam, dan Rida dipaksa merombak total karyanya. Klien meminta logo produk diperbesar hingga memakan setengah ruang poster. Warna pastel yang ia pilih disuruh ganti, meski menurut penilaiannya, justru menjadi “tabrakan”. 

Iklan

“Pokoknya bener-bener menabrak estetika deh. Aku juga nggak paham kenapa,” ungkapnya.

Malam itu, ia pun begadang semalaman demi sebuah poster yang ketika diunggah ke media sosial, dihujat habis-habisan oleh netizen.

“Karena memang sejelek itu,” kata Rida. “Di titik itu, aku sadar kalau aku bukan seniman. Cuma tukang yang disuruh gambar sesuai kemauan orang yang bayar.”

Jangan pernah kerja sesuai hobi

Sejak malam itu, Rida pelan-pelan kehilangan hobinya. Dulu, menggambar adalah tempatnya lari saat kepalanya sedang sumpek. 

Sekarang ia kehilangan “sense” itu. Di akhir pekan, buku sketsa dan alat gambarnya dibiarkan saja. Ia sama sekali tak sudi menyentuhnya, dan memilih melakukan hal lain.

“Pokoknya jangan coba deh kerja sesuai hobi. Karena kalau hobimu jadi kerjaan dan itu nggak asyik lagi, lu mau ngapain lagi coba?” tegasnya.

Apa yang menimpa Rida rupanya juga dirasakan banyak orang. Jika kita berselancar di Threads, keluhan senada juga banyak dijumpai. Banyak pekerja muda yang akhirnya sadar bahwa “kerja sesuai hobi” seringkali berakhir menjadi sesuatu yang sangat melelahkan.

Banyak netizen membagikan rasa frustrasi yang sama: menukar hal yang paling dicintai dengan gaji, lalu kehilangan ruang pelarian.

Hobi main game juga menghasilkan uang

Hobi yang berubah jadi beban ini ternyata tidak hanya memonopoli anak-anak desain atau pekerja seni. Pola yang persis sama juga mencekik mereka yang mencari uang di dunia hiburan digital. Alfian (24) adalah salah satu orang yang memutuskan nyebur kerja sesuai hobi.

Sama seperti Rida yang menjadikan gambar sebagai medium pelarian, bagi Fian, bermain game adalah cara terbaik untuk melupakan kerasnya realitas kehidupan. 

Setelah seharian kuliah atau kerja paruh waktu, masuk ke dunia game online dan bermain santai bersama teman-teman adalah hiburan yang paling manjur.

Merasa punya jam terbang tinggi, Fian iseng membuka jasa joki game pada 2025 lalu. Pikirannya saat itu sangat sederhana. Kapan lagi bisa main game kesukaan sambil tiduran di kamar, tapi saldo rekening terus bertambah.

“Pikiran awam kan gitu semau, ‘enak ya, ngelakuin hobi tapi dapat duit’,” kata Fian. 

Kesenangan main game jadi hilang seketika

Ekspektasi itu hancur berantakan dalam hitungan minggu. Ketika hobi diubah menjadi “kewajiban yang dibayar”, bermain game tak lagi terasa menyenangkan. 

Ia justru berubah menjadi tempat keringat diperas. Demi memenuhi pesanan klien yang menuntut akunnya cepat naik ke peringkat tertinggi, Fian terpaksa harus duduk menatap layar handphone selama sepuluh hingga dua belas jam dalam sehari.

“Padahal dulu ya, kuat-kuat aja. Sekarang rasanya berat banget. Mungkin sih karena dulu cuma buat having fun aja,” kata dia.

Alhasil, punggungnya sering encok, matanya merah karena terlalu sering begadang, dan jari-jarinya langganan kram. Namun, siksaan terberat kerja sesuai hobi justru ada pada mentalnya. Ia tidak lagi bermain untuk bersenang-senang. Ia bermain murni di bawah tekanan target orang lain.

Pernah suatu ketika, Fian sedang mengerjakan pesanan di jam tiga pagi. Matanya sudah sangat berat dan konsentrasinya buyar. Ia kalah tiga kali berturut-turut, membuat peringkat akun kliennya turun. 

Tak lama, pesan WhatsApp masuk bertubi-tubi. Klien tersebut memakinya dengan kata-kata kasar karena menganggapnya tidak becus. Ia hanya bisa menahan amarah.

“Dulu main game itu murni buat buang stres. Sekarang, game itu sendiri yang malah bikin stres makin numpuk,” keluh Reza.

Kini, Fian tak mau lagi masuk ke dunianya yang lama. “Seriusan mending kerja yang lain di luar hobi. Biar kalau kita sumpek, ya kita bisa mainin hobi kita.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kerja di Kebayoran Baru Jaksel: Cuma Kelihatan Elite tapi Work Life Balance Sulit, Resign Tak Selesaikan Masalah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 18 Mei 2026 oleh

Tags: desainer grafishobijoki game onlinekerjakerja sesuai hobikerja sesuai passionpassionpekerjaan idaman gen z
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Janji Bodong Revolusi Industri: Bagaimana Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO
Esai

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026
pekerja, gen z, kerja, PNS di desa lebih menyenangkan. MOJOK.CO
Mendalam

Dilema Gen Z: Resign Kerja Kena Mental karena Mulut Ortu dan Tetangga, tapi Bisa “Gila” Kalau Bertahan di Kantor yang Isinya Orang Toksik

4 Mei 2026
Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh MOJOK.CO
Esai

Sisi Lain Lagu “Kicau Mania” Ndarboy Genk: Berbahaya dan Bukan Perkara Remeh 

1 Mei 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co
Pojokan

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

KIP Kuliah.MOJOK.CO

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Tips hadapi teman toxic dalam pertemanan: tidak akrab tapi selalu datang kalau ada butuhnya MOJOK.CO

Lepas dari Teman Tak Akrab yang Selalu Merepotkan pas Ada Butuhnya, Dibenci tapi Perasaan Tidak Enakan Lebih bikin Rugi!

13 Mei 2026
Atmosfer kompetitif di Campus League 2026 – Basketball Regional Samarinda Season 1 MOJOK.CO

Meski Hanya Diikuti 4 Tim tapi Atmosfer Campus League Basketball Samarinda Tetap Kompetitif, Universitas Mulawarman Tak Terbendung

11 Mei 2026
Kos di Jogja, kos campur, dapur.MOJOK.CO

Kos Induk Semang: Tempat Terbaik buat Mahasiswa Irit dan Kenyang, tapi Menyimpan Sisi Lain yang Bikin Penghuninya Tak Nyaman

13 Mei 2026
bapak-bapak nongkrong.MOJOK.CO

Setelah Punya Anak Sadar “Nongkrong Basi-Basi” Itu Nggak Guna: Rela Dicap Suami Takut Istri, karena Urusan Keluarga Memang di Atas Segalanya

11 Mei 2026
Janji Bodong Revolusi Industri: Bagaimana Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal MOJOK.CO

Janji Bodong Revolusi Industri: Aplikasi AI Mulai Membantai Pekerja Kreatif Lokal

18 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.