Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 April 2026
A A
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Ilustrasi - Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Punya rumah di desa pada awalnya adalah impian Anjani (32) setelah merasa sumpek di Jakarta Pusat. Ia membayangkan kehidupan yang tenang dan guyub, sebagaimana gambaran hidup di pedesaan yang kerap dia dengar dan lihat di media sosial dengan narasi slow living.

Namun, hanya satu tahun mencicipi punya rumah di desa, Anjani menyerah. Gambaran kehidupan yang tenang dan guyub itu buyar ketika akhirnya menghadapi realita “jahatnya” kehidupan bertetangga di desa.

Iming-iming slow living punya rumah di desa

Anjani asli Jakarta. Sehari-hari bekerja di sebuah Wedding Organizer milik temannya.

Pada 2018, di usianya yang terbilang masih muda, ia menikah dengan laki-laki kenalannya yang bekerja di bidang pemasaran digital.

“Karena suami nggak mau tinggal bareng mertua, kami ngontrak di Jakarta Pusat. Waktu itu sebenarnya baru dua kali diajak pulang ke desa suami. Pas habis nikah sama lebaran,” ungkap Anjani.

Dari dua momen yang sebenarnya singkat itu, Anjani merasa nyaman tinggal di desa suaminya di Jawa Tengah itu. Sanak saudara tampak saling peduli satu sama lain. Para tetangga pun tampak guyub. Hidup di desa, dari yang terlihat, kok terasa slow living sekali.

Dari situ, Anjani sering memancing-mancing suaminya, “Kenapa nggak nyoba punya rumah di desa saja? Tinggal di desa? Toh ngejar hidup layak di Jakarta Pusat juga terlampau berat.”

Dengan kemampuan suami di bidang pemasaran digital, bayangan Anjani mereka bisa merintis usaha jualan online. Atau Anjani juga bisa merintis WO sendiri di kabupaten. Anjani cuma memikirkan bayangan hidup slow living dan secukupnya. Tapi sang suami bergeming.

Kesempatan tinggalkan Jakarta Pusat untuk punya rumah di desa

Pada 2020, gelombang pandemi menghantam Indonesia. Pekerjaan suami Anjani beralih ke WFH. Sementara WO tempat kerja Anjani sepi permintaan.

Saat mendengar kabar bahwa akan ada pembatasan skala nasional, sang suami tiba-tiba mengajak Anjani pulang ke desa. Situasi di Jakarta Pusat sangat mencekam dan serba tidak pasti.

Maka, daripada terjebak dalam mencekamnya Jakarta, mending pulang saja. Setidaknya kalau hidup di desa dan rumah sendiri, tidak akan takut kelaparan karena bahan pangan tersedia di ladang dan kebun.

Anjani menyebut momen itu sebagai kesempatan aklimatisasi sebelum kelak ia benar-benar bisa punya rumah di desa (Walaupun saat itu masih pulang ke rumah mertua. Bukan rumah suaminya sendiri). Siapa tahu pula, setelah agak lama di rumah, suaminya berpikir tidak akan lagi kembali ke Jakarta Pusat: memilih menjalani hidup slow living di desa sebagaimana yang Anjani cita-citakan.

Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…

Menyerah karena ulah busuk tetangga

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh

Tags: jakartajakarta pusatrumah di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO
Sehari-hari

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Saya Setuju Orang Jakarta Tajir Tak Betah Slow Living di Desa (Unsplash)
Pojokan

Orang Tajir Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Desa karena Menolak Srawung Itu Omong Kosong Kebanyakan Gagal Betah karena Ulahnya Sendiri

7 April 2026
Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO
Urban

Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

6 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO
Sehari-hari

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kerja WFH untuk ASN bukan solusi. MOJOK.CO

WFH 1 Hari dalam Seminggu Cuma Bikin Pekerja Boncos dan Nggak Produktif, Lalu Di Mana Efisiensi Pemakaian Energinya?

6 April 2026
Bangun rumah bertingkat 2 di desa pelosok Grobogan gara-gara sinetron MOJOK.CO

Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan

10 April 2026
Kuliah soshum di PTN merasa gagal karena tak jadi wong untuk orang tua

Lulusan Soshum Merasa Gagal Jadi “Orang”, Kuliah di PTN Terbaik tapi Belum Bisa Penuhi Ekspektasi Orang Tua

6 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
#NgobroldiMeta jadi upaya AMSI dan Meta dukung pelaku media memproduksi jurnalisme berkualitas di era AI MOJOK.CO

#NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

10 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.