ADVERTISEMENT

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Tetangga julid dan suka gosip

Awal kepulangan mereka terasa sama seperti saat dua momen sebelumnya. Hangat dan penuh keakraban.

Akan tetapi itu tidak berlangsung lama. Sebab, watak asli orang-orang desa suaminya baru bisa Anjani lihat setelah dua bulan tinggal.

“Hidup seperti nggak punya privasi. Padahal waktu-waktu tertentu saya ikut ngumpul ibu-ibu. Tapi sekali aja nggak ikut, tiba-tiba kena nyinyir gini, ‘Mbok srawung. Hidup di desa itu harus srawung. Kalau nggak srawung itu sok kaya (istilah tetangga Anjani: semugih)’,” ucap Anjani mencoba menirukan ucapan para tetangga.

Anjani tentu saja syok. Padahal ia sendiri merasa tidak begitu. Kebiasaannya di Jakarta, kumpul dengan tetangga kontrakan tidak terjadi setiap waktu. Kalau toh ada, absen tidak ikut tidak jadi masalah. Sementara di desa, ngumpul ibu-ibu terasa amat sering dan seolah harus diikuti setiap saat.

“Dan saya tahu, ibu-ibu di desa suami ternyata punya watak berwajah dua. Di depan orang ngebaik-baikin, tapi pas di belakang, digosipin sejahat-jahatnya. Saya nggak bisa kalau gitu-gitu. Ngurusin hidup apalagi pribadi orang lain, saya nggak bisa,” kata Anjani. “Dan ternyata itu alasan suami nggak mau kalau punya rumah desa.”

Menyerah, hidup di Jakarta Pusat saja

Singkat cerita, banyak kejulidan dan kejahatan verbal yang ia dapati selama tinggal di rumah suaminya di sebuah desa di Jawa Tengah itu.

Bahkan Anjani sendiri mengaku menjadi sasaran. Terutama karena ia tak kunjung hamil. Belum lagi secara ekonomi ia dan suaminya tidak kaya-kaya amat.

“Bayangan mereka, kalau hidup atau kerja di kota seperti Jakarta itu harus kaya kali ya,” gerutu Anjani.

Setelah hampir satu tahun, pada 2021 ia memaksa suaminya untuk lekas kembali ke Jakarta. Kendati situasinya masih belum menentu akibat pandemi.

Dalam banyak aspek, Anjani sebagai orang Jakarta merasa bisa menerima kekurangan tinggal di pedesaan. Misalnya, fasilitas yang tidak sememadai di kota, aksesibilitas antar wilayah yang susah, dan sejenisnya.

“Kalau soal makan nggak bingung. Selain bisa ambil dari kebun sendiri, harga-harga juag cenderung lebih murah. Tapi soal satu itu (fakta kehidupan bertetangganya), saya nggak cocok,” tutur Anjani.

Selama ini Anjani merasa kalau kehidupan di Jakarta yang padat, serba terburu-buru, dan individualistik, adalah seburuk-buruk hidup yang harus dia jalani. Akan tetapi, setelah merasakan betapa ketenangan dan keramahan di desa suaminya hanya semu belaka dan penuh kepura-puraan, ia merasa hidup individualistik ternyata tidak buruk-buruk amat.

“Di TikTok aku juga nemu cerita serupa. Ada saja orang yang mengaku kalau hidup di desa itu nggak setenang dan seramah yang dikira. Di balik ketenangan ada kejahatan. Ramah-ramahnya palsu. Ramah di depan, menusuk di belakang,” tutupnya.

Sampai saat ini Anjani masih sesekali diajak suami pulang ke rumah suami di desa. Bedanya, jika dulu Anjani yang ngebet punya rumah desa, belakangan ini sang suami lah yang gantian ngebet. Ia capek menjadi perantau. Sang suami juga mulai kemakan bayangan-bayangan slow living di desa gara-gara konten-konten yang bertebaran di media sosial.

Akan tetapi, masih sulit bagi Anjani untuk coba-coba hidup di desa. Suami Anjani tahu persis alasannya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh .

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.