Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Orang Jakarta Nyoba Punya Rumah di Desa, Niat Cari Ketenangan Berujung Frustrasi karena Ulah Tetangga

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
7 April 2026
A A
Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga MOJOK.CO

Ilustrasi - Tinggalkan Jakarta demi punya rumah desa untuk slow living, berujung kena mental karena ulah tetangga. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tetangga julid dan suka gosip

Awal kepulangan mereka terasa sama seperti saat dua momen sebelumnya. Hangat dan penuh keakraban.

Akan tetapi itu tidak berlangsung lama. Sebab, watak asli orang-orang desa suaminya baru bisa Anjani lihat setelah dua bulan tinggal.

“Hidup seperti nggak punya privasi. Padahal waktu-waktu tertentu saya ikut ngumpul ibu-ibu. Tapi sekali aja nggak ikut, tiba-tiba kena nyinyir gini, ‘Mbok srawung. Hidup di desa itu harus srawung. Kalau nggak srawung itu sok kaya (istilah tetangga Anjani: semugih)’,” ucap Anjani mencoba menirukan ucapan para tetangga.

Anjani tentu saja syok. Padahal ia sendiri merasa tidak begitu. Kebiasaannya di Jakarta, kumpul dengan tetangga kontrakan tidak terjadi setiap waktu. Kalau toh ada, absen tidak ikut tidak jadi masalah. Sementara di desa, ngumpul ibu-ibu terasa amat sering dan seolah harus diikuti setiap saat.

“Dan saya tahu, ibu-ibu di desa suami ternyata punya watak berwajah dua. Di depan orang ngebaik-baikin, tapi pas di belakang, digosipin sejahat-jahatnya. Saya nggak bisa kalau gitu-gitu. Ngurusin hidup apalagi pribadi orang lain, saya nggak bisa,” kata Anjani. “Dan ternyata itu alasan suami nggak mau kalau punya rumah desa.”

Menyerah, hidup di Jakarta Pusat saja

Singkat cerita, banyak kejulidan dan kejahatan verbal yang ia dapati selama tinggal di rumah suaminya di sebuah desa di Jawa Tengah itu.

Bahkan Anjani sendiri mengaku menjadi sasaran. Terutama karena ia tak kunjung hamil. Belum lagi secara ekonomi ia dan suaminya tidak kaya-kaya amat.

“Bayangan mereka, kalau hidup atau kerja di kota seperti Jakarta itu harus kaya kali ya,” gerutu Anjani.

Setelah hampir satu tahun, pada 2021 ia memaksa suaminya untuk lekas kembali ke Jakarta. Kendati situasinya masih belum menentu akibat pandemi.

Dalam banyak aspek, Anjani sebagai orang Jakarta merasa bisa menerima kekurangan tinggal di pedesaan. Misalnya, fasilitas yang tidak sememadai di kota, aksesibilitas antar wilayah yang susah, dan sejenisnya.

“Kalau soal makan nggak bingung. Selain bisa ambil dari kebun sendiri, harga-harga juag cenderung lebih murah. Tapi soal satu itu (fakta kehidupan bertetangganya), saya nggak cocok,” tutur Anjani.

Selama ini Anjani merasa kalau kehidupan di Jakarta yang padat, serba terburu-buru, dan individualistik, adalah seburuk-buruk hidup yang harus dia jalani. Akan tetapi, setelah merasakan betapa ketenangan dan keramahan di desa suaminya hanya semu belaka dan penuh kepura-puraan, ia merasa hidup individualistik ternyata tidak buruk-buruk amat.

“Di TikTok aku juga nemu cerita serupa. Ada saja orang yang mengaku kalau hidup di desa itu nggak setenang dan seramah yang dikira. Di balik ketenangan ada kejahatan. Ramah-ramahnya palsu. Ramah di depan, menusuk di belakang,” tutupnya.

Sampai saat ini Anjani masih sesekali diajak suami pulang ke rumah suami di desa. Bedanya, jika dulu Anjani yang ngebet punya rumah desa, belakangan ini sang suami lah yang gantian ngebet. Ia capek menjadi perantau. Sang suami juga mulai kemakan bayangan-bayangan slow living di desa gara-gara konten-konten yang bertebaran di media sosial.

Iklan

Akan tetapi, masih sulit bagi Anjani untuk coba-coba hidup di desa. Suami Anjani tahu persis alasannya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Gaya Hidup Pemuda di Desa bikin Kaget Perantau Kota: Kerja demi Beli iPhone Lalu Resign, Habiskan Uang buat Maksa Sok Kaya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 8 April 2026 oleh

Tags: jakartajakarta pusatrumah di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Jogja berbenah saat Jakarta alami kemunduran. MOJOK.CO
Urban

25 Tahun Adu Nasib di Jakarta sebagai Orang Gila Kerja, Ternyata Hidup Lebih Waras Saat Pindah ke Jogja

20 Mei 2026
Anak Jakarta vs Anak Kabupaten.MOJOK.CO
Urban

4 Tahun Merantau di Jakarta Bikin Sadar, “Orang Kabupaten” Jauh Lebih Toksik dari Anak Jaksel: Sialnya, Susah di-Cut Off

19 Mei 2026
Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Hadirkan Rasa Takut MOJOK.CO
Otomojok

Yamaha Jupiter Z, Motor Sakral yang Menghadirkan Rasa Takut tapi Ternyata Menjadi Simbol Perjuangan yang Tak Pernah Diceritakan

7 Mei 2026
Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi
Urban

Menjadi Guru Honorer di Jakarta Tetap Sama Susahnya dengan di Daerah: Gajinya Cuma Seperempat UMR, Biaya Hidupnya 2 Kali Pendapatan

29 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siswa Katolik di Muhammadiyah Pekalongan. MOJOK.CO

Cerita Siswa Katolik Suka Otak-atik Motor hingga Lulus dari SMK Muhammadiyah dan Dapat Beasiswa Magang ke Jepang 

18 Mei 2026
Narasi optimisme pemerintah berjarak lebar dengan kenyataan kondisi tekanan ekonomi di bawah MOJOK.CO

Jarak Lebar Narasi Optimisme Pemerintah dengan Kondisi Riil Masyarakat: Katanya Ekonomi Baik-baik Saja, Padahal Sebaliknya

20 Mei 2026
Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja MOJOK.CO

Pesan President Jancukers Sujiwo Tejo untuk Mahasiswa Rojali di Jogja

17 Mei 2026
Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng MOJOK.CO

Kicau Mania Rp2 Triliun: Bukti “Ora Gantang Ora Mangan” Bukan Hobi Iseng

15 Mei 2026
Pemuda desa 19 tahun lulusan SMK nekat kerja jadi housekeeping di Dubai demi gaji 2 digit karena menyerah dengan rupiah MOJOK.CO

Pemuda Desa 19 Tahun Nekat Kerja di Hotel Dubai: Jaminan Gaji 2 Digit usai Nyerah dengan Rupiah dan 19 Juta Lapangan Kerja

18 Mei 2026
Pandeglang, Mati-matian Bertahan di Jogja Buat Apa? MOJOK.CO

5 Tahun Merantau, Sadar Kalau Pandeglang dan Jogja Itu Mirip: Tak Ramah Buat Cari Duit, Masyarakatnya pun Pasrah sama Nasib 

17 Mei 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.