Bermula dari resep majalah dan bakmi berformalin
Di balik sarapan yang ditemukan wisatawan melalui layar ponsel itu, terdapat perjalanan panjang Muna dan suaminya, Ardi (60). Sejak kecil, Ardi akrab dipanggil Icung. Panggilan tersebut kemudian dipadukan dengan nama istrinya menjadi Muna Cung.
Pagi itu, Muna tidak terlihat melayani pembeli.
“Hari ini Ibu tidak ke warung, sedang istirahat di rumah,” kata Ardi yang lebih sering dipanggil Pak Cung.
Nasi Kuning Muna Cung dirintis sekitar tiga dekade lalu. Sebelumnya, Muna berjualan makanan dengan berkeliling di dalam Pasar Pathuk. Ia kemudian menetap dan menjual bakmi, bihun, serta capcai.
“Saya masih ingat, satu bungkus waktu itu harganya Rp500,” ujar Pak Cung.
Dagangannya sempat laris. Namun, pada masa itu beredar kekhawatiran masyarakat mengenai penggunaan formalin pada sejumlah produk mi basah. Meskipun tidak berkaitan langsung dengan dagangan mereka, kabar tersebut membuat pembeli menjauh.
Pak Cung dan Muna kemudian mencari menu lain yang dapat mereka jual. Melalui sebuah majalah, mereka menemukan resep nasi kuning. Saat itu, menurut Pak Cung, belum ada pedagang nasi kuning di Pasar Pathuk.
Mereka menguji resep tersebut berkali-kali. Percobaan pertama tidak selalu berakhir memuaskan. Pak Cung masih mengingat pesanan besar pertama yang mereka terima.
“Dulu, awal-awal jualan kami pernah dikomplain karena perkedel buatan kami ambyar. Padahal, orangnya pesan 500 biji dan itu pesanan pertama kami,” katanya sambil tertawa.
Masukan dari para pembeli kemudian membantu mereka memperbaiki resep. Dari resep yang ditemukan di majalah, keduanya menemukan takaran yang dianggap paling sesuai.
Mereka juga menambah pilihan lauk, seperti empal, babat, iso, kering kentang, dan ayam suwir. Hanya sate ayam yang tidak mereka produksi sendiri.

Pasar Pathuk, bukan semata tempat mencari nafkah
Bagi Pak Cung dan Muna, Pasar Pathuk bukan sekadar tempat mencari penghasilan. Pasar tersebut menjadi bagian dari sejarah keluarga mereka. Orang tua dan kakek-nenek Pak Cung juga pernah berjualan di sana.
“Dulu mereka jualan bakmoy, laris dan terkenal. Namanya Bakmoy Mbah Kerto Beskalan. Namun, tidak ada yang meneruskan, termasuk saya,” katanya tertawa.
Pak Cung dan Muna memilih memulai usaha sendiri. Meski demikian, orang tua mereka tetap memberikan saran, salah satunya agar Muna tidak lagi berjualan keliling dan mulai menempati tempat tetap.
Kini, Pak Cung mengalami kegelisahan serupa dengan generasi sebelumnya. Dua anaknya belum menunjukkan keinginan untuk meneruskan usaha nasi kuning tersebut.
“Dua anak saya kelihatannya tidak ada yang mau meneruskan,” kata kakek dua cucu tersebut sambil tertawa.
Namun, ia bersyukur hasil berjualan nasi kuning mampu mengantarkan kedua anaknya menjadi sarjana. Keduanya merupakan lulusan Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Seorang anaknya kini bekerja dan berkeluarga di Malang, sedangkan seorang lainnya tinggal di Yogyakarta.
Penulis: Agung Purwandono
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA Sisi Magis Jalanan Maliboro Jogja Era 1960-an Bisa Jadi Renungan bagi Komunitas Sastra Hari ini














