Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Bagi Lulusan UNY, Kerja Sampingan jadi Guru Les Privat Lebih Menjanjikan: 10 Kali Upah Honorer

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
12 Maret 2025
A A
Sarjana Pendidikan Ogah Jadi Guru Honorer, Lebih Memilih Jadi Guru Les karena Gajinya Jauh Lebih Masuk Akal.MOJOK.CO

Bagi Lulusan UNY, Kerja Sampingan jadi Guru Les Privat Lebih Menjanjikan: 10 Kali Upah Honorer(Mojok.com/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Masa depan lulusan UNY boleh dibilang suram. Apalagi penyandang gelar S.Pd; kalau jadi guru honorer upahnya amat kecil, sementara mau kerja di bidang lain terhambat ijazah. Oleh karena itu, tak sedikit dari mereka memilih kerja sampingan sebagai guru les privat.

Jangan salah, meski hasilnya tidak pasti–karena termasuk freelance, upah sebagai guru les privat jauh lebih besar ketimbang guru honorer. Kalau ditelateni, bahkan bisa 10 kali lipatnya.

Lulusan UNY jadi guru honorer, cuma diupah Rp300 ribu sebulan 

Tahun berganti, tapi ada satu hal yang pasti: upah Annisa (25) yang nominalnya tak seberapa. Mengabdi sebagai guru honorer sejak pertengahan 2023 lalu, penghasilannya tak beranjak dari angka Rp300 ribu sebulan.

Annisa sendiri merupakan lulusan program studi Pendidikan IPS UNY. Gelarnya cumlaude. Namun, baginya, pencapaian gemilang itu sia-sia karena di dunia kerja ijazah S.Pd-nya terlalu lemah buat bersaing.

“Kami seperti nggak dikasih opsi selain menjadi guru. Mau diangkat (PPPK) pun sulit, jadi ya terima saja nasib sebagai guru honorer,” kata Annisa saat dihubungi Mojok, Minggu (9/3/2025).

Bahkan, ia malah bercerita kalau “nasib digaji Rp300 ribu sebulan”  masih jauh lebih baik ketimbang kawan-kawan seprofesi. Beberapa dari mereka, yang juga lulusan UNY, bahkan ada yang cuma diupah Rp150-200 ribu per bulan.

“Buat bensin saja kurang,” kesalnya.

Bisa hidup berkat kerja sampingan sebagai guru les privat

Berharap hidup dari upah guru honorer jelas tak masuk akal. Untungnya, pada pertengahan 2024 lalu Annisa bisa menghela nafas lega. Kakak alumni di UNY menawarinya kerja sampingan sebagai guru les privat.

Awalnya, ia berpikir kalau pekerjaan itu lumayan sekadar buat tambah-tambah. Toh, jam kerjanya juga fleksibel. Bisa di sore atau malam hari setelah mengajar di sekolah, atau saat weekend.

“Nah, itu dia. Awalnya cuma mikir ‘ah, lumayan buat tambah-tambah’. Tapi setelah dijalani, hasilnya jauh lebih menjanjikan. Malah pekerjaan sampingan ini udah seperti pekerjaan utama,” paparnya.

Bayangkan saja, untuk sekali mengajar les privat, ia diupah Rp75 ribu per jam. Jumlahnya bisa lebih kecil atau lebih besar, sesuai kesepakatan dengan orang tua siswa.

“Tapi bare minimumnya Rp50 ribu. Nggak mungkin di bawah itu. Kalau kita dapat siswa anak orang kaya, ada yang mau bayar sampai Rp100. Cuma memang jarang.”

Belum lagi kalau mengajar lebih dari satu siswa, hasilnya bisa jauh lebih banyak. Lulusan UNY ini mengajar les privat di dua tempat dalam sehari. Rata-rata waktu mengajarnya empat hari dalam seminggu.

“Sebulan bisa dapat Rp2,5 juta. Itu 10 kali gaji honorer, Bro. Belum lagi kalau orang tua lagi baik, masih dikasih makan setelah ngajar,” tukasnya.

Iklan

Kalau nggak ambil kerja sampingan, nggak bisa hidup

Annisa pun mengakui, kerja sampingan sebagai guru les privat adalah berkah tersendiri. Profesi itu bisa menjadi alternatif bagi lulusan UNY lain, khususnya sarjana kependidikan, yang kesulitan mendapat penghasilan layak.

“Kalau pengalaman pribadiku, jelas aku akui kalau misalnya nggak ngajar les, aku nggak bakal bisa hidup. Apa sih yang diharapin dari Rp300 ribu sebulan?,” ungkapnya.

Namun, ia juga menegaskan kalau tak semua orang seberuntung dia. Ada juga yang hidupnya apes: bertahun-tahun menjadi honorer karena tak setiap orang punya kesempatan mengajar les.

“Namanya saja cuma alternatif, artinya itu pilihan kalau sudah mentok kan. Harusnya itu jadi kritik buat sistem pendidikan kita, gimana menjamin para guru ini hidup layak sehingga tak perlu cari alternatif lagi,” jelasnya.

“Pemerintah jangan kebiasaan nuntut guru buat terbiasa hidup susah, nyuruh struggle sendiri-sendiri.”

Memang, opsi kerja bagi lulusan UNY amat terbatas

Mau bagaimana pun, pilihan itu sudah diambil Annisa. Termasuk pilihannya buat kuliah di UNY, mengambil jurusan kependidikan, lengkap dengan gambaran masa depannya bakal seperti apa.

“Yah, udah terlanjur. Gimana lagi. Mau menyesal sudah nggak bisa,” kata Annisa, getir. “Cuman aku tegasin sekali lagi, aku termasuk yang masih beruntung karena mendapat alternatif pekerjaan, jadi guru les privat.”

Selain Annisa, ada banyak lulusan UNY lain yang hidupnya masih struggle. Seperti Hana, lulusan PGSD UNY yang harus rela bertahun-tahun menjadi honorer, atau Salma yang memilih pekerjaan di bidang nonkependidikan karena paham betapa suramnya menjadi guru di Indonesia.

Bagi lulusan UNY, opsi mendapatkan pekerjaan memang terbatas. Apalagi bagi yang menyandang gelar S.Pd. Menjadi guru honorer bakal dikoyak-koyak gaji kecil, sementara kalau mencari pekerjaan lain bakal kepentok ijazah.

“Mari kita nikmati saja, ya,” kata Annisa, menutup obrolan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Hidup Sebagai Alumni UNY Itu Berat, Menjadi Guru ataupun Bukan Tetap Sama Suramnya atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan.

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2025 oleh

Tags: guru honorerguru les privatkerja sampinganlulusan unymahasiswa UNYunyuny jogja
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Stres menyeimbangkan pekerjaan sampingan dan pekerjaan kantoran karena side hustle
Urban

“Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja

1 April 2026
PGPAUD, Guru PAUD.MOJOK.CO
Edumojok

Nekat Kuliah di Jurusan PGPAUD UNY demi Wujudkan Mimpi Ibu, Setelah Lulus Harus ‘Kubur Mimpi’ karena Prospek Kerja Suram

19 Februari 2026
guru, stem, guru honorer, pns.MOJOK.CO
Edumojok

Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM

31 Januari 2026
guru BK.MOJOK.CO
Ragam

Menjadi Guru BK Capek Mental dan “Tak Menghasilkan”, Memilih Resign dan Kerja Kantoran Meski Harus Mengubur Cita-Cita

29 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Derita S2 karena Dipaksa Ibu, kini Bahagia Menanam Cabai Rawit MOJOK.CO

Menyesal Kuliah S2 karena Dipaksa Ibu, kini Lebih Bahagia Menanam Cabai Rawit dan Berkebun

15 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Meninggalkan Jogja demi Mengejar Financial Freedom di Jakarta, Berhasil Dapatkan Gaji Besar meski Harus Mengorbankan Kesehatan Mental

13 April 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja, parkir liar, desa.MOJOK.CO

Tukang Parkir di Desa Lebih Amanah Ketimbang Jukir di Kota, Tak Ada Drama Getok Harga apalagi Makan Gaji Buta

14 April 2026
Arif Prasetyo, alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta penerima LPDP. MOJOK.CO

Kerap Didiskriminasi Sejak Kecil karena Fisik, Buktikan Bisa Kuliah S2 di UIN Sunan Kalijaga dengan LPDP hingga Jadi Sutradara

13 April 2026
Grup WhatsApp (WA) laki-laki di FH UI cerminkan tongkrongan toxic

Topik Grup WA Laki-laki “Sampah”, Isinya Info Link Menjijikan dan Validasi Si Paling Jantan

15 April 2026
Tidak bisa jadi PNS/ASN kalau tidak mau terima gaji buta sebagai CPNS

PNS Dianggap Pekerjaan Mapan karena Bisa Makan Gaji “Buta”, tapi Aslinya Mengoyak Hati Nurani

16 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.