Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Keluarga Melarat bikin Hidup Pas-pasan Selama Kuliah di ISI Jogja, meski Dapat Beasiswa KIP tapi Hanya Cukup untuk Biaya Nugas

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
22 September 2025
A A
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO

ilustrasi - KIP Kuliah (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pada umumnya, kehadiran KIP Kuliah membantu mahasiswa dari keluarga kurang mampu agar tetap bisa menempuh pendidikan tinggi. Begitu pula yang dirasakan Al Barr (19) pada mulanya. Namun, mahasiswa ISI Yogyakarta itu mengaku beasiswa kuliah tersebut tak sepenuhnya membantu, terutama untuk hidup di perantauan.

***

Al Barr bukannya tak bersyukur bisa lolos seleksi beasiswa, sehingga menjadi mahasiswa penerima KIP Kuliah. Dulu, orang tuanya sempat pesimis mendukung mimpi anaknya kuliah, apalagi di perantauan. Alasannya tak jauh dari kondisi ekonomi keluarga.

“Aku dan ibu tinggal di rumah ayah tiriku. Ayah tiriku ini seorang buruh tani yang gajinya sekitar Rp500 ribu per bulan. Sedangkan, ibuku guru bakti yang gajinya Rp500 – Rp600 per bulan,” jelas Al Barr kepada Mojok, Senin (25/8/2025).

Sontak, pendapatan orang tuanya tersebut tak dapat mencukupi kebutuhan biaya kuliahnya di perantauan. Boro-boro kuliah, untuk mencukupi sandang dan pangan saja susah. Bahkan, ibu Al Barr sering lembur membuat kue dan menjualnya ke warung-warung guna menambah penghasilan.

Namun, keinginan Al Barr untuk kuliah tak bisa diredam. Sejak SMK ia ingin mengembangkan bakat dan minatnya di dunia pefilman. Oleh karena itu, setelah lulus SMK perempuan asal Aceh itu mendaftar ke Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja lewat jalur SNBT. Agar orang tuanya tidak khawatir, Al Barr berujar bakal mencari beasiswa kuliah. 

KIP Kuliah tak cukup penuhi kebutuhan biaya hidup

Saking banyaknya informasi beasiswa kuliah di internet, Al Barr jadi kelabakan sendiri. Ia bingung harus mendaftar yang mana. Hal itu berdampak pula pada pengumpulan berkas. Beruntung, Al Barr dapat informasi soal KIP Kuliah nyaris di akhir deadline.

“Aku daftar di akhir, tepat H-6 jam sebelum pendaftaran ditutup karena aku nggak tahu sama sekali terus diingetin temanku kalau ada beasiswa itu,” ucap perempuan asal Aceh tersebut.

“Akhirnya aku submit jam 23.00 WIB malam itu,” lanjutnya.

Beruntung, Al Barr tak terlalu kesulitan memahami syarat pengumpulan berkas karena ia bekas siswa multimedia. Untuk surat-suratnya juga sudah ada, sehingga tinggal mengunggah saja.

Beruntung untuk yang kedua kalinya, Al Barr diterima sebagai mahasiswa KIP Kuliah. Namun, bukan berarti masalah Al Barr langsung terselesaikan. Mengacu pada hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), bantuan biaya hidup per bulan untuk mahasiswa dibagi menjadi 5 klaster wilayah yakni Rp800 ribu, Rp950 ribu, Rp1,1 juta, Rp1,25 juta, dan Rp1,4 juta.

Sementara, Ketua Pusat Studi Ekonomi Keungan dan Industri Digital (PSEKUIN) UPN Veteran Yogyakarta, Ardito Bhinadi mencatat, rata-rata pengeluaran hidup mahasiswa DIY pada tahun 2024 sebesar Rp2,96 juta per bulan.

Artinya, KIP Kuliah yang diterima Al Barr tak cukup mampu memenuhi biaya hidup dia sepenuhnya. Al Barr tetap harus memutar otak dengan mencari biaya tambahan jika ingin bertahan di perantauan. 

Apalagi dana KIP Kuliah tidak langsung cair pada semester pertama, sehingga ia tetap harus punya modal awal. Al Barr juga sempat menemui jalan buntu saat berdiskusi dengan orang tuanya.

Iklan

Nyaris gagal kuliah di ISI Yogyakarta

“Ayah tiri aku tidak mendukung sama sekali, hanya ibu yang ikut membantu meski hanya dengan doa,” kata Al Barr.

Doa ibu yang terus mengiringi dan mimpi Al Barr yang masih menggebu, membuatnya makin bertekad untuk kuliah. Kalau KIP Kuliah belum cukup, Al Barr harus mencari jalan lain. Maka, muncullah ide untuk berjualan online.

Al Barr mulai menjual tas hasil dari kerajinan tangannya, tapi karena tidak banyak yang beli ia beralih membuat kue kering. Tak berhenti sampai di situ, Al Barr juga mengembangkan usahanya menjual buket balon hingga aksesoris gelang. 

Dari bisnis terakhirnya itu, Al Barr akhirnya bisa mengantongi uang dua digit untuk modal kuliah dan merantau ke Jogja. Bisnis itu pun masih ia teruskan saat kuliah di ISI Yogyakarta.

“Aku harus ekstra putar otak untuk cari biaya hidup sendiri, mulai dari makan, biaya tugas, uang kos, dan sebagainya. Di sisi lain, aku juga harus rajin kuliah agar nilaiku tinggi dan aman untuk kategori penerima KIP Kuliah,” jelas Al Barr.

Harus kuliah sambil kerja demi bertahan hidup

Namun, berjualan online saja ternyata tidak cukup memenuhi kebutuhan hidup Al Barr saat kuliah di ISI Yogyakarta. Ada kalanya keuntungan bisnis Al Barr merosot karena sepinya pelanggan. Sementara, dana KIP Kuliah sudah habis untuk biaya penugasan film.

Di tengah kebingungannya mencukupi kebutuhan hidup, Al Barr kemudian dapat ide untuk berjualan bunga hanya dengan modal Rp200 ribu.

“Itu beneran uang terakhir. Kalau jual bunga masih gagal, otomatis ya, entahlah huhuhu,” kata Al Barr. 

Ternyata doa Al Barr berhasil terkabul. Bisnis jualan bunganya laris manis terutama saat Hari Girlfriend Day. Sampai-sampai, keuntungannya bisa ia sisihkan untuk membeli iPhone second seharga Rp7 juta.

Namun, saat kisah itu ia bagikan di media sosial, Al Barr justru mendapat banyak nyinyiran. Sebagian netizen menganggap Al Barr tak bijak menggunakan uangnya dengan membeli barang mahal apalagi ia adalah mahasiswa penerima KIP Kuliah. Cerita selengkapnya bisa dibaca di sini.

Padahal, kata Al Barr, iPhone itu ia gunakan sebagai investasi membangun usahanya di masa depan. Bukan untuk gaya-gayaan semata. Bukan juga karena kastanya sudah naik kelas.

“Sebagai orang yang punya bisnis kecil, foto produk yang bagus itu jadi bagian paling penting. Selain aku gunakan untuk memfoto, iPhone juga barus untuk membuat video promosi. Selain itu, masih banyak lagi manfaatnya,” jelas Al Barr.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Mahasiswa Unair Makan Sehari Sekali hingga Cari Sisa untuk Hidup di Surabaya, Uang KIP Kuliah Ludes buat Bantu Orangtua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 September 2025 oleh

Tags: beasiswa kuliahbiaya hidup di jogjabiaya hidup mahasiswaISI Yogyakartakip kuliahKuliah di jogja
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Rasyiid, mahasiswa penerima Beasiswa KIP Kuliah UMSURA yang sisihkan uang untuk modal usaha MOJOK.CO
Sekolahan

Sisihkan Uang Beasiswa KIP Kuliah buat Modal Usaha, Kuliah Sambil Topang Ekonomi Keluarga hingga bikin Ibu Bangga

2 Juni 2026
Mahasiswa dapat beasiswa KIP Kuliah bohongi orang tua demi uang saku dobel MOJOK.CO
Sekolahan

Dapat Beasiswa KIP Kuliah Jalur FOMO, Bohongi Ortu biar Dobel Uang Saku karena Gaya Hidup Tak Cukup Rp750 Ribu

20 Mei 2026
KIP Kuliah.MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswa Pura-Pura Miskin demi Dapat KIP Kuliah Memang Ada, Uang Beasiswa Habis buat Hedon agar Diakui di Tongkrongan

14 Mei 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO
Sekolahan

Tinggalkan Mimpi Jadi Dokter karena Merasa Bodoh dan Miskin, Lulus dari Jurusan Kebidanan Unair Malah Bikin Hidup Lebih Bermakna

6 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

papua.MOJOK.CO

Masyarakat Adat di Tengah Krisis Iklim: Hak-Hak Dijegal Birokrat, Hutan Dibabat demi Konglomerat

15 Juni 2026
Sunflower Angel di Candi Prambanan saat pagi. MOJOK.CO

Simbol Perjalanan Cinta Sepasang Kekasih asal Jakarta-Jogja dalam Karya Seni “Sunflower Angel” di Candi Prambanan

11 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
kambing yang tergencet dan gagal dalam upaya perlindungan hewan. MOJOK.CO

Ekspor Hewan Ternak Jarak Jauh Sama dengan Menyiksa Hewan Secara Perlahan hingga Mati

15 Juni 2026
Santri asal Sumatra masuk Jurusan Arsitektur di Universiti Malaya, Malaysia. MOJOK.CO

Kisah Aisyah, Gadis Sumatra yang Nekat Merantau untuk Raih Gelar Sarjana “Jurusan Seni” di Kampus Top Pertama Malaysia

11 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.