Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kampus

Lulus IPK 3,6 Berakhir Jadi Sarjana Nganggur karena Lebih Menuruti “Wangsit” Guru BK dan Abaikan Kata Hati

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
31 Juli 2025
A A
Sarjana nganggur, ptn.MOJOK.CO

Ilustrasi sarjana nganggur (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

IPK 3,6. Lulusan PTN. Sarjana nganggur.

Bagi Dita (27), tiga kata di atas seperti kutukan. Bagaimana tidak: angka dan status akademis yang semestinya jadi tiket emas menuju masa depan cerah, kini malah bikin dia menderita. 

Iklan

Dita, seorang lulusan Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dengan predikat cumlaude, harus menelan kenyataan pahit. Sudah dua tahun ia menyandang gelar sarjana, tapi belum juga mendapatkan pekerjaan.

Sialnya, kalau kata dia, nasib buruk ini bukan karena kemalasan. Namun datang karena sebuah keputusan krusial di masa lalu: “lebih mendengarkan wangsit guru BK, alih-alih menuruti kata hati”.

Cita-cita jadi seniman terpental oleh “wangsit” guru BK

Sejak bangku sekolah dasar, yang ada di kepala Dita sebenarnya cuma satu: nggambar. Ya, ia bermimpi menjadi seniman, sarjana seni, perupa, atau setidaknya berkecimpung di bidang kreatif yang ada hubungannya dengan visual. 

Saat di bangku SMA, bayangannya sudah jelas: kuliah seni rupa di kampus kenamaan dan bergelut dengan kanvas serta cat. Namun, sialnya, di kelas tiga SMA, muncul sosok yang dianggap paling bijak seantero sekolah: guru BK. 

Guru BK-nya, yang ia tahu bukan lulusan Bimbingan Konseling (melainkan Hukum) itu, langsung menggelengkan kepala saat Dita menyampaikan minatnya. 

“Seni Rupa itu nanti lulusnya bingung mau jadi apa. Masa depan seniman di Indonesia itu abu-abu,” tiru Dita, Rabu (30/7/2025), menirukan “fatwa” guru BK itu.

Sang guru menyarankan Dita untuk kuliah di jurusan kependidikan saja. Dengan pertimbangan: masuknya mudah, prospek kerja pun juga menjanjikan, kemungkinan diangkat PNS juga besar.

Mengingat saran itu keluar dari guru BK yang bukan lulusan BK, Dita pun merasa itu sebagai sebuah “wangsit” alih-alih rekomendasi berbasis data. Namun, anehnya, Dita tetap saja menuruti saran dari gurunya.

“Ya namanya anak SMA. Kami serasa nggak ada power, kalau guru BK bilang A rasa-rasanya harus juga ikut A,” ungkapnya.

Gayung bersambut. Ia pun lolos SNBT (dulu SBMPTN) 2019 di jurusan kependidikan salah satu PTN kenamaan Jogja. Namun, dari sinilah jalan sebagai sarjana nganggur dimulai.

Penghasilan ortu pas-pasan, tapi UKT Rp4,7 juta per semester

Kalau boleh mengaku, sebenarnya Dita tak ada masalah dengan perkuliahannya. Ia bisa mengikuti mata kuliah dengan baik. Ilmu yang didapat, nggak masuk kuping kanan keluar kuping kiri.

Teman-teman kuliahnya juga menyenangkan. Bahkan, ia bertemu dengan pacarnya (yang kini masih jadi pacarnya) di jurusan yang sama dengannya, hanya beda angkatan.

Iklan

Namun, ada satu yang mengganggunya: biaya kuliah mahal. Bayangkan, per semester ia harus mengeluarkan duit paling tidak Rp4,7 juta untuk membayar UKT. Angka yang besar untuk dirinya yang berasal dari keluarga pas-pasan.

“Bapak itu serabutan. Sementara ibu buruh pabrik. Penghasilan juga pas-pasan,” cerita Dita. 

Setiap semester bayar segitu, Dita tahu betul orang tuanya pasti pontang-panting. Entah harus lembur atau pinjam ke tetangga.

“Makanya setiap kali aku merasa salah jurusan, aku selalu ingat kalau uang kuliahku 4,7 juta. Sayang banget kalau harus mundur, sementara orang tua sudah telanjur pontang-panting,” ungkap sarjana nganggur ini.

Makanya, Dita mengaku kuliah dengan sungguh-sungguh, tidak neko-neko, hanya demi nilai. Dan hasilnya? Setelah kuliah tiga setengah tahun, ia berhasil lulus cumlaude dengan IPK 3,6 pada akhir 2022.

Baca halaman selanjutnya…

Habis puluhan juta buat kuliah, malah jadi korban “inflasi IPK”.

Halaman 1 dari 2
12Next

Terakhir diperbarui pada 31 Juli 2025 oleh

Tags: 6Cumlaudeguru BKipk 3lulusan ptnlulusan sarjanapilihan redaksiPTNsarjana nganggur
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO
Sekolahan

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Sekolah, Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri MOJOK.CO
Esai

Saya Hanya Ingin Kuliah, tetapi Crab Mentality di Desa Menganggap Saya Lupa Diri

23 Juli 2026
Curhat kasir Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di jalanan desa sepi. Sepi pembeli, sekali ada pembeli bukan karena butuh tapi iseng dan bikin kesel MOJOK.CO
Sehari-hari

Derita Kasir Kopdes di Desa Pelosok: Hari-hari Sepi, Pembeli Datang Bukan karena Kebutuhan tapi Sengaja Bikin Kesal

21 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Alasan seorang ibu tak ragu kuliahkan anak di Universitas Terbuka (UT). Perjalanan dan pencapaian anak jadi jawabannya MOJOK.CO

Saat Ibu Dukung Anak Kuliah di Universitas Terbuka (UT): Berbuah Pencapaian Membanggakan

30 Juli 2026
Titi terendah perempuan: bawa bocil saat naik kereta api MOJOK.CO

Titik Terendah Ibu saat Naik Kereta Api Bawa Bocil: Mental Terguncang Bukan karena Bocil Tantrum tapi Mulut Jahat Sesama Perempuan

27 Juli 2026
Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian.MOJOK.CO

Kos 150 Ribu di Jogja Saksi Perjuangan Lolos SNBT, Rela Mandi Air yang Bikin Gatal Demi PTN Impian

29 Juli 2026
Elang Jawa terbang bebas di Gunung Gede Pangrango, tapi masih berada dalam ancaman MOJOK.CO

SRAK 2026-2036 Resmi Disusun, Komitmen Lintas Sektor Selamatkan Elang Jawa dari Kepunahan

27 Juli 2026
Ratusan anak di Sidoarjo terpapar HIV AIDS dan pentingnya periksa kesehatan sebelum menikah MOJOK.CO

Pentingnya Tes Kesehatan sebelum Menikah, Bukan untuk Ragukan Pasangan tapi Cegah HIV/AIDS seperti Kasus Ratusan Anak di Sidoarjo

29 Juli 2026
Tren selebrasi di panggung wisuda seperti minta difotoin rektor ala wisudawati UINSA: mengejar atensi maya hingga pergeseran batas hierarki formal MOJOK.CO

Difotoin Rektor: Selebrasi Wisuda biar Berkesan, Atensi Maya, dan Pergeseran Batas Hierarki Formal

30 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.