Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Kalau Mau Bersaing di Era AI, Indonesia Butuh Investasi Energi 1 Triliun Dolar AS

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
30 Januari 2026
A A
celengan investasi, ai.MOJOK.CO

Ilustasi investasi. (Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Indonesia menghadapi tantangan serius di sektor energi jika ingin tetap relevan dalam persaingan ekonomi global, khususnya di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) atau atau AI.

Tidak tanggung-tanggung, dibutuhkan investasi infrastruktur energi hingga 1 triliun dolar AS (sekitar Rp15.000 triliun) agar Indonesia memiliki kapasitas listrik yang memadai untuk menopang industrialisasi masa depan.

Iklan

Angka fantastis ini mencuat dalam diskusi bersama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said, di channel Youtube Gita Wirjawan.

Dalam diskusi tersebut, Gita menyoroti bahwa perlombaan supremasi teknologi global saat ini sangat bergantung pada ketersediaan energi listrik yang masif.

Kesenjangan Kapasitas yang Sangat Lebar

Dalam pemaparannya, Gita mengungkapkan data yang kontras. Tiongkok saat ini telah memiliki kapasitas listrik sekitar 3.700 Gigawatt (GW) dan berencana menambah 4.000 GW lagi.

Sementara itu, Amerika Serikat memiliki 1.350 GW dan berencana menambah 2.600 GW. Kedua negara adidaya ini berlomba membangun infrastruktur energi secara “gila-gilaan” demi memenangkan supremasi AI,.

Sebagai perbandingan, Indonesia saat ini baru memiliki kapasitas sekitar 91.000 Megawatt (MW) atau 91 GW. Konsumsi listrik per kapita Indonesia pun masih rendah, yakni di angka 1.300 kWh per kapita.

Tentu, angka ini jauh tertinggal dibandingkan Tiongkok dan AS yang mencapai 10.000 kWh per kapita, bahkan tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia (9 kali lipat Indonesia) dan Brunei (10 kali lipat Indonesia),,.

“Jika kita ingin meningkatkan elektrifikasi dari 1.300 kWh menjadi 6.000 kWh per kapita, kita perlu membangun 400.000 MW baru. Itu butuh dana USD 1 triliun. Jika ingin setara negara maju di 10.000 kWh, butuh USD 2 hingga 3 triliun,” ujar Gita, dikutip Jumat (30/1/2026).

Kebutuhan energi ini mendesak karena teknologi AI memerlukan daya yang jauh lebih besar. Penggunaan platform AI generatif seperti “DeepSeek” atau “Gemini” disebut memakan energi 10 hingga 50 kali lipat lebih banyak dibandingkan pencarian Google biasa.

Ketidakpastian Hukum jadi Hambatan Investasi

Meskipun potensi pasar besar, target investasi ini sulit dicapai tanpa perbaikan iklim hukum. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen, Indonesia memerlukan tambahan investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) sebesar 45 miliar dolar AS per tahun–melengkapi arus FDI saat ini yang hanya berkisar 30-40 miliar dolar AS.

Sudirman Said menegaskan, bahwa penghalang utama masuknya modal asing bukanlah ketiadaan uang di pasar global, melainkan lemahnya penegakan hukum di Indonesia. Investor global membutuhkan kepastian untuk mengubah “ketidakpastian” (uncertainty) menjadi “risiko yang terukur” (calculated risk),.

“Duitnya banyak banget di luar negeri, tapi mereka perlu keyakinan bahwa kerangka hukum Indonesia besok lebih baik dari hari ini. Penegakan hukum adalah kunci investasi,” tegas Sudirman.

Energi Bukan Komoditas

Selain masalah hukum, Sudirman juga mengkritik tata kelola energi nasional yang terjebak pada permainan jangka pendek (short-term game).

Iklan

Ia menilai amanat undang-undang sering diabaikan karena konflik kepentingan (conflict of interest). Energi fosil seperti batu bara dan migas kerap diperlakukan sebagai komoditas dagang untuk ekspor demi pendapatan sesaat, alih-alih digunakan sebagai modal pembangunan (driver of growth) domestik,.

Transisi ke energi terbarukan pun berjalan lambat. Dari target bauran energi 23-25 persen, realisasinya baru mencapai sekitar 14 persen karena kebijakan yang berubah-ubah dan lingkungan yang koruptif.

Kedua tokoh sepakat bahwa sektor energi bisa menjadi game changer bagi ekonomi Indonesia. Namun, hal itu hanya bisa terwujud jika pemerintah berani melakukan reformasi hukum secara total dan mengembalikan fungsi energi sebagai tulang punggung industrialisasi, bukan sekadar barang dagangan.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: AI Mengancam Orang Malas Berpikir, Tak Sesuai dengan Ajaran Muhammadiyah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 31 Januari 2026 oleh

Tags: AIArtificial IntelligenceesdmGita WirjawanInvestasiinvestasi energi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Usaha les komputer di Bogor. MOJOK.CO
Urban

Tak Hasilkan Banyak Cuan dari Buka Usaha Les Komputer, tapi Merasa Bermakna Bisa Ajarkan Gen Alpha yang Masih Gaptek

30 Juni 2026
Bagi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Dahlan Iskan, iklim investasi di Jateng sangat cocok bagi pengusaha untuk investasi MOJOK.CO
Kilas

Iklim Investasi di Jawa Tengah Menarik Hati, Bikin Puluhan Pengusaha Melirik untuk Kolaborasi

19 Juni 2026
siswa sekolah.MOJOK.CO
Sekolahan

Sisi Lain AI yang Melemahkan Nalar Siswa: Kesulitan Calistung, Tak Bisa Membaca Jam, hingga Sulit Mengingat Materi Pelajaran

17 Juni 2026
Kita Sibuk Menertawakan Baby Boomer yang Tertipu AI, Padahal Gen Alpha Punya Masalah yang Lebih Berbahaya MOJOK.CO
Esai

Kita Sibuk Menertawakan Baby Boomer yang Tertipu AI, Padahal Gen Alpha Punya Masalah yang Lebih Berbahaya

12 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN untuk perkuat ekosistem pariwisata dan perhotelan nasional MOJOK.CO

Konsolidasi InJourney dengan Hotel BUMN: Perkuat Ekosistem Pariwisata Indonesia agar Lebih Kompetitif di Tingkat Global

28 Juni 2026
Mila lulusan Fapet UGM. MOJOK.CO

Dobrak Keraguan Perempuan Tak Pantas Jadi Peternak, Alumnus Fapet UGM Ini Berhasil Raih Rp700 Juta di Tuban

29 Juni 2026
Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis di Sepak Bola Remaja Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik.MOJOK.CO

Coach Jacksen F. Tiago: Pendekatan Psikologis Pemain Muda Putri Harus Didahulukan Ketimbang Fisik dan Taktik

28 Juni 2026
Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja MOJOK.CO

Gojek Hadirkan Kurasi Jalan Jajan di Aplikasi dan Latih 500 Mitra Driver Lewat Program Sadar Wisata Bersama Pemkot Jogja

24 Juni 2026
Derita memelihara dan menyayangi kucing sepenuh hati di desa. Anabul dianggap hewan goblok MOJOK.CO

Sulitnya Memelihara dan Menyayangi Kucing di Desa: Dianggap Aneh dan Nggak Guna, Anabul Hadapi Hinaan dan Racun Tetangga

24 Juni 2026
Kudus, Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan.MOJOK.CO

Magis Kaki Kanan yang Mengirim Tangis bagi Srikandi Kota Pahlawan 

27 Juni 2026

Video Terbaru

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.