Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Jagat

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
4 Februari 2026
A A
bencana.MOJOK.CO

Ilustrasi bencana di Indonesia (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bencana di Indonesia seringkali menjadi “bencana buatan manusia” (man-made disaster), bukan bencana alam. Dan, mitos seringkali menjadi pengingat kita atas bencana tersebut, meski kita kerap mengabaikan karena menganggapnya isapan jempol.

***

Pernahkah kamu mendengar sebuah pepatah tua dari Bengkulu yang berbunyi: “Orang Bengkulu tidak akan pernah beratap tanah, kecuali pada saat mati”?

Kalimat ini terdengar sederhana, bahkan mungkin sedikit mistis. Namun, di mata Prof. Harkunti Rahayu Pertiwi, seorang pakar kebencanaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB), kalimat itu adalah sebuah “sains” tingkat tinggi yang dibungkus dalam kearifan lokal. 

Pepatah itu, menurut Prof. Harkunti, sebenarnya lebih merujuk pada sebuah peringatan: “Jangan menggunakan genteng tanah liat yang berat sebagai atap rumah, kecuali kamu ingin mati tertimpa reruntuhan saat gempa.”

Leluhur kita seolah paham kalau kita tinggal di tanah yang bisa digoyang gempa kapan saja.

Ironisnya, nasihat leluhur ini justru dilupakan demi sesuatu yang kita sebut “modernitas”. Mari kita lihat atap rumah kita hari ini. Kebanyakan keluarga modern merasa “kurang berada” jika rumahnya tidak memakai genteng keramik atau beton yang berat. 

Atap seng atau sirap (kayu) dianggap kuno dan identik dengan kemiskinan. 

Padahal, leluhur kita sengaja memilih atap ringan tersebut. Mereka paham bahwa gempa tidak membunuh manusia; bangunanlah yang membunuh manusia. Ketika gempa mengguncang, atap beton seberat ton itu akan runtuh menimpa penghuninya.

Prof. Harkunti menegaskan bahwa nenek moyang kita sebenarnya memiliki desain struktur bangunan yang jauh lebih cerdas dan aman gempa dibandingkan arsitektur modern yang kita banggakan hari ini. 

Atau, di Kalimantan, misalnya, rumah panggung dibangun tinggi bukan hanya karena takut binatang buas, tetapi sebagai adaptasi cerdas terhadap wilayah rawa dan banjir (flood-prone area).

Sayangnya, pengetahuan ini perlahan punah. Kita lebih sibuk mengejar estetika “river view” (pemandangan sungai) dengan membangun rumah beton di bibir sungai, yang sebenarnya melanggar kapasitas alam dan mengundang banjir.

“Sebetulnya yang memperbuat buruk semuanya itu adalah lebih ke arah man-made disaster, yaitu perusakan dari lahan. Kita serakah menggunakan hak air. Sungai itu punya batas yang kita sebut dengan kapasitas sungai,” ujarnya dalam sebuah diskusi di kanal Chronicles yang tayang di Youtube Bagus Muljadi, dikutip Rabu (4/2/2026). 

Dalam sebuah diskusi tersebut, Prof. Harkunti membuka mata kita tentang sebuah kenyataan pahit: Indonesia sedang mengalami amnesia sejarah yang fatal. Kita tinggal di tanah yang sangat rawan bencana, tapi abai pada setiap peringatan yang sudah disampaikan.

Iklan

Cerita rakyat adalah peringatan dini bencana

Bukan hanya soal bangunan, kita juga sering menertawakan cerita rakyat sebagai sebuah takhayul. Padahal, banyak dari cerita itu adalah sistem peringatan dini (early warning system) versi purba.

Prof. Harkunti menceritakan penemuan mengejutkan tentang naskah Sunda kuno bernama Warugan Lemah. 

Naskah yang hanya terdiri dari tiga lembar daun lontar itu menyebutkan bahwa tanah yang paling aman untuk ditinggali adalah tanah yang melandai ke utara (Telaga Hangsa). Sebaliknya, arah lain dianggap kurang baik atau perlu ritual “sesajen” (baca: perlakuan khusus/hati-hati).

Apakah ini klenik? Ternyata tidak. Sebuah penelitian ilmiah yang terbit di jurnal bergengsi Geoscience Letters tahun 2019 membuktikan hal yang sama persis. Secara statistik dan geologis, tanah dengan orientasi tersebut memang memiliki kerentanan longsor paling rendah. 

“Leluhur kita sudah mengetahui ilmu mekanika tanah ratusan tahun sebelum jurnal Scopus ada, tapi kita mengabaikannya karena merasa lebih pintar,” ujarnya.

Hal serupa juga berlaku untuk nama-nama tempat (toponimi). Kita sering mendengar nama daerah seperti “Lembang” atau “Cirata” di Jawa Barat. Ternyata, “Lembang” berarti cekungan atau patahan, dan “Cirata” menggambarkan air atau tanah yang bergetar. Nama itu sendiri adalah rambu bahaya yang dipasang nenek moyang di plang jalan. 

Ada pula istilah “Pamali” (tabu) yang sering dipakai untuk melarang orang masuk ke hutan atau bibir pantai tertentu. Kini, daerah “pamali” itu kita babat habis untuk kafe estetik dan villa, lalu kita kaget saat bencana datang menghancurkannya.

Di Jepang, masyarakatnya sudah diajari siaga 

Indonesia dan Jepang sama-sama berada di atas ring of fire, yang sangat rawan bencana. Namun, jika kita membandingkan diri dengan Jepang, perbedaannya sangat mencolok. 

Di Jepang, kesadaran bencana bukan sekadar hapalan di sekolah, tetapi “memori otot” yang dilatih dari rumah.

Prof. Harkunti, yang menempuh pendidikan doktoral di Jepang, mengamati bagaimana budaya disiplin dan sadar bencana sudah mendarah daging. Anak-anak di sana terbiasa mandiri, seperti naik sepeda ke sekolah dari SD hingga SMA, yang secara tidak langsung melatih fisik dan mental mereka untuk tangguh.

Di Indonesia, kita tidak memiliki institutional memory (memori institusi) maupun budaya sadar bencana yang kuat. Ketika pejabat daerah berganti, kebijakan mitigasi seringkali ikut hilang. 

Beban pendidikan bencana justru ditumpuk di pundak guru-guru SD yang kurikulumnya saja sudah sangat berat. 

“Mengharapkan guru mengajarkan cara selamat dari gempa, sementara budaya di rumah tidak mendukung, adalah strategi yang kurang efektif,” kata Prof. Harkunti.

Sebuah kisah menyentuh diceritakan Prof. Harkunti tentang Kaisar Jepang pasca-tsunami 2011. Pertanyaan pertama Kaisar kepada Perdana Menteri bukanlah “berapa kerugian ekonomi?”, melainkan “berapa jumlah guru yang meninggal?”. 

Bagi Jepang, kehilangan guru adalah kehilangan masa depan, sehingga mereka harus segera digantikan dengan kualitas yang setara. Ini menunjukkan betapa dalamnya pemahaman mereka tentang pemulihan manusia, bukan sekadar fisik.

“Lembah Kematian” para peneliti 

Lantas, ke mana para ahli kita? Kenapa riset kampus tidak menjadi solusi?

Masalahnya ada pada apa yang disebut “Lembah Kematian” (Valley of Death). Peneliti Indonesia, seperti Prof. Harkunti, seringkali menghasilkan inovasi atau prototipe mitigasi yang brilian. Namun, inovasi itu sering berhenti di laci meja atau sekadar menjadi jurnal ilmiah demi memenuhi syarat administrasi kampus.

Jarang sekali riset itu diadopsi menjadi kebijakan pemerintah daerah (Perda). Prof. Harkunti harus berjuang bertahun-tahun secara personal–di luar jalur birokrasi formal–hanya untuk meyakinkan Pemkot Padang agar mengadopsi pedoman tempat evakuasi (shelter) vertikal. Sistem kita lebih menghargai tumpukan kertas laporan daripada nyawa yang selamat karena kebijakan yang tepat.

Pada akhirnya, bencana di Indonesia seringkali menjadi “bencana buatan manusia” (man-made disaster). Siklon atau gempa mungkin adalah fenomena alam yang probabilitasnya bisa dihitung, tetapi kehancuran yang ditimbulkannya adalah hasil dari kerusakan lingkungan dan ketidaksiapan yang kita buat sendiri.

Kita membangun kembali kafe di bibir pantai bekas tsunami karena tergiur keuntungan ekonomi sesaat, melupakan trauma masa lalu. Kita menebang hutan pelindung demi tambang dan kebun, lalu menyalahkan hujan saat banjir datang.

Prof. Harkunti mengingatkan kita untuk tidak sekadar “membangun kembali dengan lebih baik” (build back better), karena kondisi “kemarin” sebenarnya sudah sangat buruk. Kita harus “membangun kembali dengan lebih baik dan lebih aman” (build back better and safer).

Dan mungkin, cara paling aman untuk melangkah ke masa depan adalah dengan sesekali menengok ke belakang. Membaca dan mendengarkan ulang mitos-mitos yang dulu kita anggap isapan jempol.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Pentingnya Cadangan Pangan Beras di Daerah agar Para Pimpinannya Nggak Cengeng Saat Darurat Bencana atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2026 oleh

Tags: banjirbencanabencana alambencana ekologisgempamitospamalipilihan redaksi
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, akan beri pendampingan korban daycare Little Aresha dan akan lakukan sweeping MOJOK.CO
Aktual

Sweeping Daycare di Kota Yogyakarta, Langkah Emergency yang Harus Dilakukan agar Kasus Serupa Little Aresha Tak Terulang

27 April 2026
Kerja di Jakarta.MOJOK.CO
Urban

Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”: Bisa Bikin Finansial dan Mental Layu Sebelum Berkembang

26 April 2026
Hajatan, Resepsi Mewah, Resepsi Sederhana, Nikah.MOJOK.CO
Sehari-hari

Hajatan Itu Nggak Penting: Tabungan 50 Juta Melayang Cuma Buat Ngasih Makan Ego Keluarga, Setelah Nikah Hidup Makin Susah

26 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO
Aktual

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker MOJOK.CO

ASN Lulus S2 UGM dengan IPK 4, Bahagia Wisuda tapi Miris Tanpa Kehadiran Ibu yang Berpulang karena Kanker

24 April 2026
Gen Z pilih soft living daripada slow living

Soft Living, Gaya Hidup Gen Z yang Memilih Menyerah tapi Tenang ketimbang Mengejar Mimpi “Besar” Tak Pasti

22 April 2026
Derita guru CLC di Malaysia. MOJOK.CO

WNI Jadi Guru di Luar Negeri Dapat Gaji 2 Digit, Pulang ke Indonesia Malah Sulit Kerja

23 April 2026
Cerminan pemberdayaan dan kontribusi nyata perempuan di Kota Semarang MOJOK.CO

Kuatnya Peran Perempuan di Kota Semarang, Sampai Diapresiasi California State University

22 April 2026
Tapak Suci Unair. MOJOK.CO

Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran

21 April 2026
Dugaan penganiayaan anak di daycare Little Aresha, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja MOJOK.CO

Hancur Hati Ibu: Amat Percaya ke Daycare LA Jogja dan Suka Kasih Tip ke Pengasuh, Anak Saya Justru Dibuat Trauma Serius

25 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.