Kerelaan memberi utang ketika teman pinjam uang sudah terlanjur menjadi standar baik di lingkaran pertemanan. Masalahnya, jika enggan memberi utang, yang terjadi adalah penghakiman.
Itulah kenapa belakangan banyak orang di media sosial menyerukan narasi perlawanan: berhenti menempatkan teman yang tidak memberi utang sebagai antagonis atau villain. Sebab, perkara utang-piutang sejak dulu kala tidak pernah sederhana.
Tidak memberi utang saat teman pinjam uang selalu dianggap banyak alasan, tidak lihat kondisi
Selama ini Daril (24) lebih sering memendam keresahannya sendiri, perihal kenapa ya standar pertemanan ditentukan dari seberapa sering ia memberi utang saat teman pinjam uang?
Daril bahkan sering mempertanyakan dirinya: jangan-jangan ia memang tidak layak disebut sebagai teman yang baik karena terlalu sering menolak memberi utang ke teman, walaupun penolakannya selalu secara halus.
Sejak kuliah di Semarang, Jawa Tengah, pada 2020, Daril mengaku kerap menjadi jujukan utang teman-teman SMA-nya dulu. Sama-sama kuliah, hanya beda kampus.
Seingat Daril, sepanjang kuliah, ia sama sekali tidak pernah bisa memberi utangan tersebut. Bagaimana bisa memberi, uang saku Daril saja di bawah Rp2 juta. Sementara sejumlah teman kalau pinjam uang bisa selalu di angka Rp2 juta bahkan di atasnya.
Ia sendiri heran, kok bisa ada yang kepikiran pinjam uang ke Daril. Sementara posisi Daril tidak jauh berbeda dengan mereka: sama-sama dari keluarga kelas menengah bawah.
“Dan karena aku jarang ngasih pinjam uang, kerasa banget kalau aku tersisihkan dari pertemanan itu, padahal semasa SMA dekat,” ungkap Daril, Kamis (8/5/2026).
Melalui salah satu teman di masa SMA-nya dulu—yang masih berteman baik dengan Daril—Daril pun tahu kalau selama itu ia dianggap selalu banyak alasan. Itu membuat Daril merasa sumpek sendiri. Ia merasa dipaksa harus mengerti kondisi orang lain yang kesusahan hingga harus diberi pinjam uang. Sementara di saat yang sama, para pengutang ogah peduli dengan kondisi Daril yang sebenarnya sama-sama pas-pasan.
Diposisikan pelit, jahat, dan dijauhi dari pertemanan
Imbas lebih jauh, Daril akhirnya memang benar-benar disisihkan dari pertemanan masa SMA-nya dulu. Ia sudah dicitrakan sebagai sosok pelit, jahat, dan tidak setia kawan, sehingga tidak layak ditemani.
Situasi itu sempat membuatnya sedih dan merasa bersalah. Alhasil, saat kini sudah bisa bekerja sendiri, ia mencoba royal ke sejumlah teman. Baik teman kerja maupun teman kuliah sebelumnya.
Kalau ada teman utang, meski uang Daril benar-benar pas-pasan, tapi ia tetap memberi pinjam. Ia tidak mau dijauhi dan kehilangan banyak teman lagi.
Lihat postingan ini di Instagram
Iklan
Repot saat menagih utang ke teman, malah ngemis-ngemis untuk uang sendiri sampai hinakan diri
Akan tetapi, memberi utang ke teman ternyata menjebak Daril dalam situasi lebih merepotkan: teman yang pinjam uang entah kenapa tidak punya kesadaran untuk mengembalikan.
Padahal saat pinjam uang, si teman benar-benar mengiba-iba. Tidak hanya itu, juga memberi jaminan akan mengembalikan di tanggal tertentu.
“Realitasnya, berbulan-bulan bisa nggak kembali. Benciku adalah ketika aku benar-benar lagi butuh dan terpaksa menagihnya, selain dia tetap nunda-nunda dengan beragam alasan, ujungnya aku sebagai pemberi utang tetap dicap jahat juga,” gerutu Daril.
“Itu pun pas mau nagih aku terjebak dengan perasaan nggak enak dan takut. Akhirnya pas nagih itu sampai aku mengawalinya dengan berkali-kali mohon maaf, ngemis-ngemis juga biar segera dibayar karena lagi butuh,” lanjutnya.
Cap jahat itu misalnya berupa ungkapan: “Halah utang nggak seberapa saja nagihnya setengah mati!”
“Utang nggak seberapa ndasmu! Lah aku kerja ya rekasa (susah payah) e, su asu!,” ujar Daril geram. Masalahnya, saat proses menagih, kalimat itu tidak serta merta bisa keluar. Hanya bisa dipendam dalam batin yang akhirnya bikin sumpek-sumpek sendiri.
Orang yang memberi utang saat teman pinjam uang selalu diposisikan jahat dan tidak diuntungkan. Kok bisa ya menagih uang sendiri malah merasa tidak enak dan sampai mengiba-iba menghinakan diri sendiri.
Padahal tidak merepotkan, malah jadi dana darurat orang lain
Di puncak kemuakannya, Daril sempat mendamprat seorang teman yang seolah selalu menghindar dan banyak alasan saat utangnya ditagih. Belum lama ini terjadi.
Kepada si teman Daril menegaskan: “Intinya mau membayar utang atau tidak? Kalau tidak ya sudah, sekalian putus pertemanan saja. Uang masih bisa dicari, temanku masih banyak. Nggak punya teman kayak kamu nggak masalah!”
Dari pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan itu pula, Daril kini berkeputusan: dijauhi teman karena dianggap pelit tidak memberi utang tidak masalah. Toh selama ini ia juga selalu berusaha untuk tidak merepotkan orang lain, terutama dalam persoalan finansial.
Lihat postingan ini di Instagram
“Selama ini kukira, dengan aku tidak merepotkan orang lain dengan nggak ngutang, orang lain juga akan merecoki hidupku. Ternyata aku salah. Justru karena aku nggak pernah utang, dikiranya uangku banyak, akhirnya dijadikan dana darurat bagi orang lain,” ujar Daril.
“Lah kok enak, aku kerja setengah mati, nabung, ngirit, tapi malah aku dijadikan dana darurat,” sambungnya dengan nada sangat kesal.
Daril menjamin, banyak orang yang sangat relate dengan keluh kesahnya ini. Itulah kenapa ia kini sangat berisik untuk menyuarakan aspirasi: berhenti menempatkan orang yang tidak memberi utang saat teman pinjam uang sebagai antagonis. Karena kenyataannya, yang lebih antagonis adalah si pengutang.
Pertemanan tidak seharusnya hanya diukur dari seberapa sering memberi utang
Saya pun sangat relate dengan keluh kesah Daril. Beberapa teman masa SMA dulu satu persatu menjauhi saya karena dalam banyak kesempatan saya terus-terang tidak bisa memberi utang.
Bahkan, dalam beberapa kesempatan pertemuan, saya seperti menjadi orang asing. Kalau mau suuzon, barangkali saya sudah dicap jahat dan pelit.
Tapi untungnya saya masih punya seorang teman dekat (sedari masa SMA) yang masih waras dengan pemahaman: pertemanan tidak seharusnya diukur dari seberapa sering memberi utang.
Pernah suatu kali ia hendak meminjam uang Rp7 juta. Saya terus terang tidak menyanggupi. Dan saya sudah berprasangka, sepertinya sebentar lagi ia akan menghapus saya dari daftar teman. Karena sudah kali kesekian saya tidak menyanggupi memberi utang dalam nominal besar.
Lihat postingan ini di Instagram
Hingga suatu kali saya bertemu dengannya. Tapi ia masih menyambut saya dengan hangat dan antusias.
Saya dengan agak tidak enak hati meminta maaf karena berkali-kali tidak bisa memberi utang besar. “Kalau kecil-kecil saya masih bisa,” kata saya.
Ia malah ngakak. Ia ternyata selalu memahami misalnya saya tidak bisa memberi utang dalam jumlah besar. Baginya itu juga tidak akan mengubah situasi pertemanan kami.
Yang membuat saya terenyuh, ia mengingat betul bahwa selama ini saya selalu menjadi pendengar yang baik saat ia berkeluh kesah, ketika teman-teman lain justru sering tidak antusias mendengar. Baginya, itulah pertemanan. “Masa pertemanan diukur pakai uang?” Selorohnya. “Kalau mau ngukur pakai uang, aku nggak mungkin berteman dengan kamu karena kamu juga nggak gablek duit.”
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Penyakit Kronis Pemuda di Desa: Gampang Utang Bank untuk Hal Tak Penting, Cicilan Pikir Keri buat Ortu Terbebani atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














