Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
5 Mei 2026
A A
Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis MOJOK.CO

Ilustrasi Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Pemerintah Malaysia dulu sempat melarang pria menggunakan baju berkerah V alias V-neck. Sebabnya, V-neck dianggap simbol atau ciri orang yang memiliki ketertarikan seksual kepada sesama pria alias gay. Bagi mereka, gay yang merupakan bagian dari komunitas LGBTQ+ telah melawan kodrat alam.

Oleh karena itu, pemerintah Malaysia membuat semacam panduan tentang kecenderungan orang menjadi gay. Salah satunya, pria yang suka memakai V-neck. Ciri ini tak bisa sepenuhnya dianggap salah, dalam komunitas LGBTQ+ pakaian sering digunakan sebagai simbol perlawanan. Di era 1960-an sampai 1980-an misalnya, komunitas tersebut mulai berani menantang peran gender konvensional seperti maskulin atau feminin.

Sehingga, muncullah istilah evolusi mode queer sebagai bentuk kebebasan berekspresi dan mengaburkan batasan gender. Lalu, mengapa V-neck pada pria sering kali dipermasalahkan?

Fungsi V-neck dalam dunia fashion

Tren V-neck sendiri populer pada tahun 1960-an pasca Perang Dunia II dan Perang Korea, di mana industri fashion Amerika Serikat mengalami ledakan investasi. Saat itu, model V-neck tak hanya ada untuk sweater melainkan pakaian dalam. 

Pakaian dalam berbentuk V-neck menjadi salah satu solusi praktis bagi pria yang mengenakan kemeja, tapi ia tidak ingin garis leher kaosnya terlihat ketika kancing kemeja bagian atas mereka terbuka. Kaos V-neck juga tidak membuat pakaian serasa tertumpuk dan lebih dingin walau ditumpuk-tumpuk. 

Melansir dari laman Epic Fits, V-neck juga bisa memberikan siluet bagi tubuh agar tampak tinggi dan ramping. Area di sekitar pangkal leher yang terlihat terbuka, menarik pandangan mata secara vertikal atau dari atas ke bawah dan bukan dari samping ke samping. Sebaliknya, kerah berbentuk bulat cenderung memperbesar tampilan bahu dan wajah. 

Seiring berkembangnya waktu, V-neck mengalami modernisasi yang menunjukkan bagian dada dan leher lebih terbuka. Yang mana, bagian tubuh tersebut dianggap memiliki muatan erotis. Tak pelak, pandangan masyarakat terhadap pria yang menggunakan V-neck ikut berubah.

Pakai V-neck agar terlihat menarik

Sebuah penelitian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berjudul “Busana Sebagai Penanda Identitas dan Performativitas Homoseksual dalam Program Queer Eye”, busana dan atribut seorang pria gay dapat menjadi penanda identitas homoseksual mereka. 

Salah satu yang ciri yang dibahas dalam jurnal tersebut ialah seorang pria gay yang mengenakan kemeja dengan kancing terbuka hingga dada. Dalam konteks maskulin juga, penggunaan deep V-neck mulai dihubungkan dengan stereotip douchebag alias pria narsis dan berusaha terlalu keras untuk terlihat menarik. 

Krisna, bukan nama sebenarnya (24), selaku bagian dari komunitas LGBTQ+ tak menampik jika deep V-neck seringkali dipakai untuk memamerkan bagian dada, apalagi badan yang sejatinya kekar. Namun hal itu, kata dia, tak merujuk pada orientasi seksual tertentu. 

“Ini lebih ke sex appeal (daya tarik seksual atau kemampuan seksual seseorang untuk memikat minat erotis orang lain) saja. Sama kayak orang buka kancing atas, satu atau dua kancing kemeja,” jelas Krisna.

Sentimen yang muncul terhadap gay

Krisna berujar sentimen gay identik dengan V-neck muncul karena para gay seringkali memakai V-neck untuk menarik perhatian gay lainnya. Namun hal itu, kata dia, bisa terjadi baik secara langsung maupun tidak langsung kepada semua orang terlepas dari orientasi seksualnya.

“Dalam dunia fashion, pengguna V-neck merupakan orang yang percaya diri dengan bagian dadanya. Bahkan ada yang mungkin menambahkan gayanya dengan outer agar tampak lebih bagus,” ujar Krisna.

Krisna menegaskan tak semua gay nyaman menggunakan V-neck. Ahmad, seorang individu yang tinggal satu atap dengan komunitas LGBTQ+ selama 4 tahun ini mengungkap banyak teman-temannya yang jarang memakai V-neck dalam kehidupan sehari-hari. 

Iklan

“Sepanjang pengamatanku, cara berpakaian mereka tidak jauh berbeda dengan gaya orang pada umumnya. Biasa saja. Bahkan kalau ada yang suka dengan sebuah band tertentu, mereka lebih sering pakai baju band,” jelas Ahmad. 

Ahmad yang sudah mengenal 5 orang gay di tempat tinggalnya juga berujar fashion memang berfungsi untuk menunjukkan identitas seseorang tapi masih ada dari mereka yang memilih tertutup. Tak semuanya mau terbuka dan berdamai dengan dirinya, mengingat stigma buruk dari masyarakat.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kus Sri Antoro, Suarakan Isu Difabel Melalui Wayang Limbah Plastik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 7 Mei 2026 oleh

Tags: fashionGaygaya berpakaiankomunitas LGBTQv-neck
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

Kumpul kebo (kohabitasi) sesama jenis di Malang dan Surabaya. Menemukan kebahagiaan, berharap menikah, tapi takut lukai hati orang tua MOJOK.CO
Ragam

Kumpul Kebo Sesama Jenis di Malang-Surabaya: Tak Melulu Soal Seks, Merasa Bahagia meski Lukai Orang Tua

7 Januari 2026
Gym di Malang Jadi Incaran Cowok Gay MOJOK.CO
Ragam

Pengalaman Ngeri Nge-Gym di Malang, Jadi Incaran Cowok Gay Agresif hingga Dapat DM Membagongkan

7 Maret 2024
Laki-laki Boleh Pakai Pembalut MOJOK.CO
Esai

Laki-laki Boleh Pakai Pembalut dan Kehormatan Mereka Tidak Bakal Runtuh

19 April 2022
ilustrasi Thrift Shop: Awul-awul Fancy yang Sok Ramah Lingkungan dan baju bekas Ilegal mojok.co
Pojokan

Thrift Shop: Awul-awul Fancy yang Sok Ramah Lingkungan dan Ilegal

20 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen MOJOK.CO

Menunggu Jogja Punya Sirkuit Balap Motor Permanen

15 Juni 2026
Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

Mengajar di Wamena: Dari Perang Suku hingga Jalan Kaki 7 Hari demi Menjadi Sarjana

10 Juni 2026
Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara.MOJOK.CO

Para Jagal Anjing di Jogja dan Mitos yang Terus Dipelihara

8 Juni 2026
Harga Pertamax Naik Lagi, dan Kali Ini Kita Tidak Boleh Diam dan Pasrah Lagi

Harga Pertamax Naik Lagi, dan Seperti Biasa, Kelas Menengah Jadi Korban, Lagi dan Lagi

10 Juni 2026
Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika.MOJOK.CO

Timnas Kongo dan Wajah Baru Kolonialisme di Sepak Bola Afrika

12 Juni 2026
Cara Jawa Tengah (Jateng) menjaga inflasi dan ketersediaan pangan MOJOK.CO

Cara Jawa Tengah Jaga Inflasi dan Ketersediaan Pangan agar Harga Terkendali dan Keterjangkauan Pangan bagi Masyarakat Terjamin

10 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.