Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Pakai Baju Itu-itu Saja Nggak Dosa. Ngapain Merasa Bersalah

Kalau temanmu pakai baju itu-itu saja, jangan diejek. Tapi, belikanlah dia baju baru yang mahal dan bagus.

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
14 Desember 2021
A A
ilustrasi Pakai Baju Itu-itu Saja Nggak Dosa. Ngapain Merasa Bersalah mojok.co

ilustrasi Pakai Baju Itu-itu Saja Nggak Dosa. Ngapain Merasa Bersalah mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kelihatan cuma punya baju sedikit, pakai baju itu-itu saja bukan berarti nggak nggak ngerti fashion. Nggak usah merasa bersalah.

Pakai baju yang sama setiap hari memang sudah terkenal sebagai kebiasaan orang kaya dan CEO kelas dunia. Lihat saja Steve Jobs, Mark Zuckerberg, atau almarhum Bob Sadino. Tapi, ejekan “pakai baju itu-itu saja” adalah sesuatu yang lain. Biasanya, merujuk pada orang yang cuma punya pilihan baju sedikit dan pilihan baju “bagus”-nya ketebak.

Iklan

Saya nggak akan membela kaum yang pakai baju itu-itu saja dengan argumen bahwa CEO kelas dunia bergaya begitu. Kita ini rakyat jelata. Lagi pula, mereka pakai setelan baju yang sama karena punya banyak stok di lemari. Mereka juga sudah memilih baju paling nyaman dengan kualitas paling baik yang harganya jelas bisa buat belanja awul sampai puas.

Saya bakal membela orang yang pakai baju itu-itu saya dengan argumen paling logis. Sebab, hal semacam ini sebetulnya harus mulai dinormalisasi.

Nggak ada waktu mikir

Bayangkan berapa waktu yang dibutuhkan seseorang untuk membuka lemari, memilih warna yang cocok, memilih model atasan dan bawahan yang sesuai, dan memikirkan pula tas dan sepatu yang mereka akan pakai. Semakin banyak stok baju, semakin bingung memilihnya. Ingat paradox of choice, makin banyak pilihan, makin bikin bingung.

Bagi sebagian orang, rutinitas pilih baju semacam itu memakan waktu. Jangankan pilih baju ya, belanja baju lebaran aja kadang mager banget loh. Jadi, buat kaum-kaum yang mengutamakan esensi dan nggak kebanyakan sensi, memang lebih baik punya baju sedikit dan mengulang memakai baju yang sama berkali-kali.

Ramah lingkungan

Memang alasan ini terdengar seperti dibuat-buat. Tapi, lebih baik daripada nggak ada. Semakin banyak beli baju, semakin banyak limbah kain. Mendingan punya baju sedikit yang berkualitas dan selalu dipakai.

Sama kayak prinsipnya Marie Kondo deh, kalau bajunya sudah nggak sparks joy, harus dibuang. Nah, kalau bajunya kebanyakan demi buat gonta-ganti setiap hari kan berseberangan dengan prinsip minimalis ala Marie Kondo.

Pakai baju untuk alasan kenyamanan

Buat apa pakai baju model-model Met Gala dan banyak rupanya kalau semuanya nggak nyaman dipakai? Mendingan memang punya baju sedikit, yang kelihatannya itu-itu saja, tapi selalu nyaman. Kualitas hari-harimu tergantung baju yang kamu pakai. Mengorbankan kenyamanan demi gaya itu hal yang kocak dan mendingan dihindari.

Coba tengok insan produksi perfilman yang pakai kaus item lagi item lagi. Tentu mereka memilih baju itu karena nyaman, nggak ribet, dan nggak gampang kotor saat proses produksi film. Kalaupun keringetan, nggak kelihatan keteknya basah. 

Memang nggak ada duit dan nggak perlu malu sama hal ini

Ini alasan paling mendasar kenapa pilihan baju seseorang kelihatannya itu-itu saja. Simpel, kami nggak ada duit beli baju baru. Kalaupun ada uang, ya belinya model yang sama. Beli kaus hitam lagi, beli celana jeans lagi. Terkesan nggak kreatif memang, tapi namanya sudah telanjur nyaman, nggak masalah dong!

Alasan utamanya nggak ada duit buat beli baju, tapi tindakan berhemat ini juga sekaligus demi memaksimalkan nilai guna suatu benda. Kita harus respek sama orang-orang yang pakai barang sampai rusak baru ganti. Selain irit, mereka juga bisa menahan nafsu belanja di tengah gempuran diskon marketplace.

Tolong ya, mulai sekarang normalize orang pakai baju itu-itu saja karena ini bukanlah perbuatan dosa. Lebih berdosa mereka yang bajunya nyolong jemuran tetangga. Pemilihan fashion sederhana begitu juga nggak bikin iritasi mata dan nggak merugikan orang lain. Kecuali kalau pakai baju itu-itu saja karena nggak pernah mandi dan menghasilkan bau-bau sampah.

BACA JUGA 5 Kesalahan Pakai Baju yang Konon Bakal Diketawain Ahli Fashion Design dan artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 13 Desember 2021 oleh

Tags: beli bajufashionhematminimal lifeminimalismodel bajupakai bajutrend fashion
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis MOJOK.CO
Urban

Ketika Laki-laki Memakai V-neck, Dianggap Tebar Pesona dan Menentang Kodrat padahal Cuma Mau Modis

5 Mei 2026
Belanja jadi menyebalkan di Matahari Store, Malioboro, Jogja. MOJOK.CO
Catatan

Pengalaman Apes di Jogja, Baju Robek Tiba-tiba hingga HP Tertinggal di Ruang Ganti Matahari Store Malioboro

24 Oktober 2025
ilustrasi Thrift Shop: Awul-awul Fancy yang Sok Ramah Lingkungan dan baju bekas Ilegal mojok.co
Pojokan

Thrift Shop: Awul-awul Fancy yang Sok Ramah Lingkungan dan Ilegal

20 Desember 2021
ilustrasi Model Baju yang Cuma Bagus Dipakai Kaum Good Looking mojok.co
Pojokan

Model Baju yang Cuma Bagus Dipakai Kaum Good Looking

9 Desember 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri MOJOK.CO

Jaga Momentum Emas di Mandalika, Mario Aji dan Veda Ega Siap Unjuk Gigi di Kandang Sendiri

20 Juli 2026
Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya MOJOK.CO

Kita Membeli Sabun karena Wanginya, Bukan karena Tahu Kandungannya

18 Juli 2026
Pemuda lulusan SMK tidak menyerah mencari kerja dengan modal ijazah SMK demi orang tua MOJOK.CO

Modal Ijazah SMK dan Pengalaman Tak Nyerah Cari Kerja demi Orang Tua, Meski Sering Terima “Penolakan” karena Fisik

21 Juli 2026
Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri.MOJOK.CO

Kerjabilitas, Jembatan bagi Pencari Kerja Difabel Menembus Tembok Diskriminasi Industri

17 Juli 2026
Anak miskin di Yogyakarta masuk Sekolah Rakyat. MOJOK.CO

Saat Kemiskinan Memaksa Anak Lebih Dewasa sebelum Waktunya, Sekolah Rakyat Jadi Pilihan Satu-satunya

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.