Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Derita Tak Punya Motor Sendiri dan Tak Bisa Nyetir di Tongkrongan Laki-laki: Dianggap Beban hingga Ditinggal Diam-diam

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
16 April 2026
A A
Derita tak punya motor dan tidak bisa naik motor di tongkrongan laki-laki MOJOK.CO

Ilustrasi - Derita tak punya motor dan tidak bisa naik motor di tongkrongan laki-laki. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Tidak punya motor sendiri atau tidak bisa menyetirnya, terutama di tongkrongan laki-laki, memberi tekanan sosial tersendiri. Sebab, ujungnya, ketiadaan motor tersebut akan memancing reaksi tidak mengenakkan dari teman-teman dalam tongkrongan. 

***

Sebenarnya ada dilema bagi orang yang tidak punya motor sendiri. Satu sisi sangat ingin tetap relevan: nongkrong dengan teman-teman. Tapi di saat yang sama juga sebenarnya tidak enak karena sering kali harus nebeng-nebeng teman yang punya motor. 

Tapi ya bagaimana lagi. Bukannya tidak ingin punya motor, tapi keterbatasan keluarga membuat seseorang akhirnya tidak bisa merasakan punya motor yang dibelikan khusus oleh orang tua untuk dipakai sendiri. 

Hal ini seperti yang dirasakan Ludin (21), seorang mahasiswa di Surabaya. Ia merasa betapa tidak berharganya seseorang jika tidak punya motor di tongkrongan laki-laki. 

Tidak punya motor sendiri di tongkrongan laki-laki: dianggap beban hingga dioper-oper

Di jam-jam senggang kampus, beberapa temannya biasanya akan melipir mencari tempat nongkrong. Kalau case-nya benar-benar keluar dari kampus, Ludin biasanya akan nebeng salah satu dari temannya. 

Namun, jika case-nya adalah nongkrong di jam-jam luar kampus, tidak jarang ia minta dijemput—sekaligus diantar pulang. Karena memang jaraknya dekat. 

“Paling repot tentu kalau lagi keluar main ke mana gitu. Ke Mojokerto misalnya. Aku mau nggak mau kan harus nebeng,” ujar Ludin, Rabu (15/4/2026). 

“Sebenarnya ya ada juga yang saling nebeng, cuma mereka kan masing-masing tetep punya motor. Saling nebengin ya biar efisien. Tapi memang kesannya menjadi repot karena tiap absen siapa aja yang ikut, itu harus mempertimbangkan cukup nggak motornya, karena harus ada yang nebengin aku yang nggak punya motor sendiri. Akhirnya ada satu teman yang awalnya nggak bawa motor, jadi bawa motor,” sambungnya. 

Di momen seperti itu saja, Ludin sudah merasa menjadi beban tongkrongan. Sebab, seringkali ia harus dioper-oper. Awalnya disuruh nebeng A, tiba-tiba disuruh nebeng B. Dan saling lempar-lemparan satu sama lain. 

Awalnya, Ludin mengira: karena pertemanan, teman yang menebengi Ludin benar-benar tulus dan tidak mempersoalkan keberadaan Ludin yang memang tidak punya motor sendiri di tongkrongan laki-laki tersebut. 

Akan tetapi, lambat-laun ia akhirnya tahu kalau di mata beberapa temannya Ludin hanya menjadi beban belaka. 

Diam-diam ditinggal karena tidak punya motor sendiri di tongkrongan laki-laki

Ludin sebenarnya sudah melihat lama tanda-tanda tersebut: dianggap beban. Dimulai dari sering dioper-oper. 

Ditambah lagi, tidak jarang teman-temannya diam-diam tidak mengajak Ludin untuk agenda tertentu. Misalnya, saat teman-temannya ngopi di lokasi yang agak jauh dari lokasi kampus atau kos, atau agenda ke Mojokerto untuk healing, sama sekali tidak ada info ajakan yang masuk ke WA Ludin. 

Iklan

Tahu-tahu teman-temannya sudah mengunggah foto sedang berada di mana. Ludin tidak mau larut dalam buruk sangka. Ia hanya mencoba mengukur dirinya sendiri. 

“Kalau nggak diajak, ya wajar aja. Karena ya siapa juga mau terus-terusan menjemput atau nebengin cuma-cuma,” ujar Ludin. 

Ia masih berteman dengan mereka. Hanya saja, ia mencoba menjadi lebih tahu diri. Sebisa mungkin tidak merepotkan teman-temannya lagi. Walaupun ia lebih banyak menghabiskan waktu di kos karena harus berhemat. 

Dicap nolep sudah biasa

Jika Ludin tidak punya motor sendiri perkara memang tidak punya, Nizar (28) sebenarnya punya motor di rumah, tapi ia tidak bisa mengendarainya. 

Sejak kuliah di Surabaya pada 2017 silam pun Nizar lebih sering jalan kaki untuk ke kampus. Toh tidak terlalu jauh. 

Di awal-awal kuliah, ia sering mendapat tumpangan dari beberapa temannya. Tapi seiring waktu ia selalu menolak ajakan tersebut. Pasalnya, Nizar mulai mendengar kata-kata dari temannya yang membuatnya tak nyaman.

“Dulu mengira aku nggak punya motor, mangkanya mereka kasih tumpangan karena mungkin kasihan,” tutur Nizar.

“Tapi setelah mereka tahu aku sebenarnya nggak bisa nyetirnya, akhirnya denger ada selentingan yang nyebut aku nolep. Masa cowok nggak bisa naik motor. Tapi ya udah biasa?”

Bukan tanpa alasan kenapa Nizar tidak bisa nyetir motor, dan enggan belajar, bahkan sampai sekarang. Sekarang, untuk aktivitas keluar-keluar, ia lebih sering menggunakan ojek online (ojol). 

Semasa SMA ia mengaku sudah pernah mencoba latihan motor. Ia sempat bisa. Namun, pengalaman jatuh membuatnya trauma. 

“Karena merasa sudah bisa, ya sempat ngantar ibu. Terus jatuh. Sebenarnya ibu nggak kenapa-kenapa. Cuma lecet biasa. Tapi aku merasa bersalah dan nggak berani lagi naik motor,” jelas Nizar. 

Tidak punya daya tawar di mata perempuan

Tidak punya motor sendiri atau tidak bisa nyetir motor di tongkrongan laki-laki, bagi Nizar, efeknya sama saja. Dianggap laki-laki tidak berguna. 

Kini semakin mendekati kepala tiga, tekanan sosial yang Nizar terima terasa lebih besar. 

Dulu, semasa kuliah, tidak sedikit teman-temannya yang ngecengi Nizar. Sebenarnya niatnya baik: memberi motivasi agar ia latihan naik motor lagi. Namun, cara mereka adalah dengan menyebut: kalau tidak bisa nyetir motor sendiri, tidak akan ada perempuan yang mau didekati. 

“Itu juga dibilang orang-orang di sekitarku. Saudara-saudaraku. Karena sampai umur segini aku masih jomblo. Orang bilang aku nggak laku karena aku nggak bisa naik motor. Kata mereka, kalau aku nggak bisa, ya nanti gimana mau anter-anter istri?” kata Nizar. 

Nizar menyadari, barangkali traumanya berlebihan. Ia masih berusaha melawan trauma itu untuk kembali berlatih naik motor, demi tidak dianggap nolep dan tidak berguna. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 April 2026 oleh

Tags: latihan motormotor lakitongkrongantongkrongan laki
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Honda CB150R: Selain Naik Haji, Tukang Bubur Juga Bisa Naik Motor Keren MOJOK.CO
Otomojok

Honda CB150R: Selain Naik Haji, Tukang Bubur Juga Bisa Naik Motor Keren

2 November 2020
Esai

Cita-cita Kok Jadi Barista, Keren Sih tapi Yakin?

29 September 2018
Otomojok

Ketika Kawasaki Versys 250 yang Jablay Dicustom Scrambler

24 September 2018
RX-King-Otomojok-MOJOK.CO
Otomojok

Napak Tilas RX-King: Raja Jalanan yang Kerap Digunakan Penjambret di FTV

16 Januari 2018
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
Vera Nur Fadiya, kuliah di jurusan sepi peminat (Matematika) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, jadi jalan wakili mimpi orang tua MOJOK.CO

Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah

11 April 2026
Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual MOJOK.CO

Kebusukan Mahasiswa FH UI Membuka Luka Lama Para Penyintas, Tak Ada yang Lebih Aman dari “Rahim” seorang Ibu bagi Korban Kekerasan Seksual

15 April 2026
Gen Z kerja di desa untuk merawat ibu. MOJOK.CO

Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

10 April 2026
Supra X 125, Motor Honda yang Menderita dan Nggak Masuk Akal MOJOK.CO

Supra X 125 Adalah Motor Honda Penuh Penderitaan dan Nggak Masuk Akal, tapi Menjadi Motor Paling Memahami Derita Keluarga Muda

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.