Tidak punya motor sendiri atau tidak bisa menyetirnya, terutama di tongkrongan laki-laki, memberi tekanan sosial tersendiri. Sebab, ujungnya, ketiadaan motor tersebut akan memancing reaksi tidak mengenakkan dari teman-teman dalam tongkrongan.
***
Sebenarnya ada dilema bagi orang yang tidak punya motor sendiri. Satu sisi sangat ingin tetap relevan: nongkrong dengan teman-teman. Tapi di saat yang sama juga sebenarnya tidak enak karena sering kali harus nebeng-nebeng teman yang punya motor.
Tapi ya bagaimana lagi. Bukannya tidak ingin punya motor, tapi keterbatasan keluarga membuat seseorang akhirnya tidak bisa merasakan punya motor yang dibelikan khusus oleh orang tua untuk dipakai sendiri.
Hal ini seperti yang dirasakan Ludin (21), seorang mahasiswa di Surabaya. Ia merasa betapa tidak berharganya seseorang jika tidak punya motor di tongkrongan laki-laki.
Tidak punya motor sendiri di tongkrongan laki-laki: dianggap beban hingga dioper-oper
Di jam-jam senggang kampus, beberapa temannya biasanya akan melipir mencari tempat nongkrong. Kalau case-nya benar-benar keluar dari kampus, Ludin biasanya akan nebeng salah satu dari temannya.
Namun, jika case-nya adalah nongkrong di jam-jam luar kampus, tidak jarang ia minta dijemput—sekaligus diantar pulang. Karena memang jaraknya dekat.
“Paling repot tentu kalau lagi keluar main ke mana gitu. Ke Mojokerto misalnya. Aku mau nggak mau kan harus nebeng,” ujar Ludin, Rabu (15/4/2026).
“Sebenarnya ya ada juga yang saling nebeng, cuma mereka kan masing-masing tetep punya motor. Saling nebengin ya biar efisien. Tapi memang kesannya menjadi repot karena tiap absen siapa aja yang ikut, itu harus mempertimbangkan cukup nggak motornya, karena harus ada yang nebengin aku yang nggak punya motor sendiri. Akhirnya ada satu teman yang awalnya nggak bawa motor, jadi bawa motor,” sambungnya.
Di momen seperti itu saja, Ludin sudah merasa menjadi beban tongkrongan. Sebab, seringkali ia harus dioper-oper. Awalnya disuruh nebeng A, tiba-tiba disuruh nebeng B. Dan saling lempar-lemparan satu sama lain.
Awalnya, Ludin mengira: karena pertemanan, teman yang menebengi Ludin benar-benar tulus dan tidak mempersoalkan keberadaan Ludin yang memang tidak punya motor sendiri di tongkrongan laki-laki tersebut.
Akan tetapi, lambat-laun ia akhirnya tahu kalau di mata beberapa temannya Ludin hanya menjadi beban belaka.
Diam-diam ditinggal karena tidak punya motor sendiri di tongkrongan laki-laki
Ludin sebenarnya sudah melihat lama tanda-tanda tersebut: dianggap beban. Dimulai dari sering dioper-oper.
Ditambah lagi, tidak jarang teman-temannya diam-diam tidak mengajak Ludin untuk agenda tertentu. Misalnya, saat teman-temannya ngopi di lokasi yang agak jauh dari lokasi kampus atau kos, atau agenda ke Mojokerto untuk healing, sama sekali tidak ada info ajakan yang masuk ke WA Ludin.
Tahu-tahu teman-temannya sudah mengunggah foto sedang berada di mana. Ludin tidak mau larut dalam buruk sangka. Ia hanya mencoba mengukur dirinya sendiri.
“Kalau nggak diajak, ya wajar aja. Karena ya siapa juga mau terus-terusan menjemput atau nebengin cuma-cuma,” ujar Ludin.
Ia masih berteman dengan mereka. Hanya saja, ia mencoba menjadi lebih tahu diri. Sebisa mungkin tidak merepotkan teman-temannya lagi. Walaupun ia lebih banyak menghabiskan waktu di kos karena harus berhemat.
Dicap nolep sudah biasa
Jika Ludin tidak punya motor sendiri perkara memang tidak punya, Nizar (28) sebenarnya punya motor di rumah, tapi ia tidak bisa mengendarainya.
Sejak kuliah di Surabaya pada 2017 silam pun Nizar lebih sering jalan kaki untuk ke kampus. Toh tidak terlalu jauh.
Di awal-awal kuliah, ia sering mendapat tumpangan dari beberapa temannya. Tapi seiring waktu ia selalu menolak ajakan tersebut. Pasalnya, Nizar mulai mendengar kata-kata dari temannya yang membuatnya tak nyaman.
“Dulu mengira aku nggak punya motor, mangkanya mereka kasih tumpangan karena mungkin kasihan,” tutur Nizar.
“Tapi setelah mereka tahu aku sebenarnya nggak bisa nyetirnya, akhirnya denger ada selentingan yang nyebut aku nolep. Masa cowok nggak bisa naik motor. Tapi ya udah biasa?”
Bukan tanpa alasan kenapa Nizar tidak bisa nyetir motor, dan enggan belajar, bahkan sampai sekarang. Sekarang, untuk aktivitas keluar-keluar, ia lebih sering menggunakan ojek online (ojol).
Semasa SMA ia mengaku sudah pernah mencoba latihan motor. Ia sempat bisa. Namun, pengalaman jatuh membuatnya trauma.
“Karena merasa sudah bisa, ya sempat ngantar ibu. Terus jatuh. Sebenarnya ibu nggak kenapa-kenapa. Cuma lecet biasa. Tapi aku merasa bersalah dan nggak berani lagi naik motor,” jelas Nizar.
Tidak punya daya tawar di mata perempuan
Tidak punya motor sendiri atau tidak bisa nyetir motor di tongkrongan laki-laki, bagi Nizar, efeknya sama saja. Dianggap laki-laki tidak berguna.
Kini semakin mendekati kepala tiga, tekanan sosial yang Nizar terima terasa lebih besar.
Dulu, semasa kuliah, tidak sedikit teman-temannya yang ngecengi Nizar. Sebenarnya niatnya baik: memberi motivasi agar ia latihan naik motor lagi. Namun, cara mereka adalah dengan menyebut: kalau tidak bisa nyetir motor sendiri, tidak akan ada perempuan yang mau didekati.
“Itu juga dibilang orang-orang di sekitarku. Saudara-saudaraku. Karena sampai umur segini aku masih jomblo. Orang bilang aku nggak laku karena aku nggak bisa naik motor. Kata mereka, kalau aku nggak bisa, ya nanti gimana mau anter-anter istri?” kata Nizar.
Nizar menyadari, barangkali traumanya berlebihan. Ia masih berusaha melawan trauma itu untuk kembali berlatih naik motor, demi tidak dianggap nolep dan tidak berguna.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














