Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

26 Tahun Tak Bisa Naik Motor, Awalnya Tolak Belajar tapi Akhirnya Sadar Harus Bisa karena Malu Pacaran Jalan Kaki dan Takut Tak Bisa Boncengin Istri

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
22 Mei 2024
A A
Laki-laki Surabaya 26 tahun Tak Bisa Naik Motor MOJOK.CO

Ilustrasi - Laki-laki Surabaya tak bisa naik motor, pacarannya jalan kaki. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Beberapa laki-laki di Surabaya memilih untuk tidak belajar naik motor meski sudah berumur 26 tahun. Mereka merasa nyaman ke mana-mana dengan transportasi umum. Hanya saja kadang kerepotan kalau hendak ngajak jalan gebetan, karena bingung mau jalannya pakai apa.

***

Iklan

Laju zaman yang cepat membuat sebagian besar orang di Indonesia akhirnya memiliki kendaraan pribadi. Yang paling umum adalah motor. Memiliki motor sendiri tentu akan membuat seseorang menjadi lebih praktis dalam mobilitas sehari-hari. Mau ke mana saja tinggal tancap gas.

Dengan begitu, orang-orang di zaman sekarang pun secara tak langsung dituntut untuk bisa mengendarai motor. Meski ada orang yang merasa nyaman naik ojek (misalnya ojek online (ojol)) atau transportasi umum lain, tapi setidaknya ia sudah punya salah satu basic skill life tersebut: naik motor. Artinya bisa naik motor, tapi memang lebih milih naik ojol.

Namun, ada saja orang-orang di zaman sekarang yang tak bisa naik motor, bahkan enggan untuk berlatih atau belajar mengendarai transortasi roda dua itu. Di usia menjelang 30 tahun, mereka masih menyimpan rasa tidak percaya diri untuk berlatih dan membawa motor sendiri.

Tak bisa naik motor dianggap pecundang

Tahun 2024 ini umur Nizar baru saja bertambah menjadi 26. Tapi ia masih tak bisa naik motor dan enggan berlatih.

Perantau di Surabaya itu sehari-hari lebih sering naik ojol untuk pulang pergi tempatnya ngajar di sebuah sekolah swasta di Surabaya. Sementara untuk mobilitas sehari-hari di kos, misalnya untuk keluar cari makan, ke minimarket dan lain-lain, ia akan jalan kaki.

Rutinitas tersebut ternyata sudah ia jalani sejak kuliah pada 2017 hingga lulus pada 2022 lalu. Pulang pergi kampus pun ia memilih jalan kaki, meski jaraknya terbilang jauh.

“Kira-kira 2,5 kilo lah kalau jalan kaki ke kampus,” kata Nizar kepada Mojok, Selasa (21/5/2024).

Di awal-awal kuliah, ia sering mendapat tumpangan dari beberapa temannya. Tapi seiring waktu ia selalu menolak ajakan tersebut. Pasalnya, Nizar mulai mendengar kata-kata dari temannya yang membuatnya tak nyaman.

“Dulu mengira akau nggak punya motor, mangkanya mereka kasih tumpangan karena mungkin kasihan,” tutur Nizar.

Nizar mengaku punya motor di rumah. Kalau ia bisa dan mau, mungkin sudah sejak awal kuliah di Surabaya ia akan pakai motor sendiri. Masalahnya Nizar tak bisa mengendarainya. Ia pun sampai saat ini masih enggan belajar/berlatih. Sejak mengetahui fakta tersebut, beberapa teman Nizar justru menganggap Nizar sebagai laki-laki pecundang.

“Cowok nggak bisa naik motor aneh, sih. Terus misalnya mau kencan gimana? Jalan kaki?” Itu mungkin salah satu ucapan dari teman Nizar yang ia anggap cukup mengganggu.

Trauma jatuh dari motor

Jauh sebelum kuliah di Surabaya, Nizar mengaku sudah pernah mencoba berlatih naik motor. Tepatnya di kampung halamannya di Blitar, Jawa Timur. Kira-kira saat ia masuk kelas 2 SMA. Saat itu ia berlatih bersama bapaknya.

Iklan

Nizar memang sempat bisa. Lalu karena dianggap sudah bisa, pada suatu hari Nizar diminta untuk mengantarkan ibunya ke satu tempat.

Sial bagi Nizar hari itu. Ia dan ibunya jatuh. Memang tidak terlalu parah. Tapi melihat ibunya lecet dan berdarah, Nizar merasa bersalah.

“Dari situ mulai takut bawa motor lagi. Apalagi boncengin orang. Jadi ya sudah lebih suka naik ojol atau jalan kaki,” ungkap Nizar.

Sejauh ini Nizar tidak merasa kerepotan. Ia merasa nyaman-nyaman saja naik ojol atau jalan kaki untuk mobilitasnya di Surabaya. Di rumahnya (di Blitar) pun ia kalau ke mana-mana juga ada adik yang siap mengantarkan.

“Ada lah yang tanya, kalau aku kelak punya pacar atau bahkan istri apa nggak bakal kerepotan?” sambung Nizar. Perantau Surabaya itu enteng saja menjawabnya. “Ya cari istri yang bisa naik motor aja. Nanti bonceng dia.”

Tak bisa naik motor, ajak gebetan jalan kaki

Selain Nizar, ada juga Badrus (23), saat ini masih kuliah di salah satu kampus negeri di Surabaya.

Berbeda dengan Nizar, ketidakbisaan Badrus naik motor lebih karena ia memang berasal dari keluarga kurang mampu. Yatim pula. Sehingga sejak dulu ia tidak punya akses untuk belajar naik motor.

“Alhamdulillah dapat KIP Kuliah kan. Nah aku nyoba nabung tipis-tipis buat beli motor sendiri. Dan itu akan jadi motor pertama yang kebeli di keluargaku,” tutur Badrus.

Sebenarnya sejak dulu ada saja saudara jauh maupun teman-temannya di Madura yang menawari Badrus belajar naik motor. Bahkan di masa-masa kuliah pun teman-temannya di Surabaya juga ada saja yang dengan sukarela menawari Badrus berlatih.

Hanya saja Badrus merasa tidak enak. Kalau ada jatuh-jatuhnya nanti kan malah repot kalau kata Badrus. Sehingga ia memilih menunggu punya motor sendiri saja. Jadi kalau belajar bisa leluasa dan tak khawatir kalau ada apa-apa.

“Ya aku merasakan sih zaman sekarang nggak bisa naik motor itu repot. Apalagi aku laki-laki. Kayak kurang laki aja kalau nggak bisa naik motor,” keluh Badrus.

Badrus sempat punya pengalaman tidak enak karena tidak bisa naik motor. Pada awal-awal masa kuliahnya di Surabaya, ia sempat PDKT dengan seorang mahasiswi di jurusannya yang juga berasal dari Madura.

“Aku ajak lah doi jalan. Doi nangkapnya jalan berarti ya muter-muter Surabaya naik motor. Tapi aku ngjaknya jalan kaki berdua aja keliling daerah kosan,” beber Badrus.

Singkat cerita, sejak hari itu si cewek asal Madura tersebut mulai menjauh dari Badrus. Bahkan Badrus menjadi bahan sindiran dan olok-olok di geng si cewek. Sejak saat itu, Badrus mulai terpantik untuk bisa naik motor sendiri. Hanya saja untuk tahap awal ia masih mengusahakan beli motornya dulu.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ngotot Kuliah di Kampus Mahal Surabaya demi Gengsi, Bapak Ibu Harus Kerja Sengsara buat Bayar UKT Tinggi sementara Si Anak Happy-Happy

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Terakhir diperbarui pada 23 Mei 2024 oleh

Tags: kampus di surabayakip kuliahlaki-laki tak bisa naik motormotorojek onlineojolojol surabayaperantau surabayaSurabaya
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Anak penjual tahu kuliah di ITB. MOJOK.CO
Sekolahan

Perjuangan Mutiara Belajar Mandiri dan Andalkan Buku Panduan dari Sang Ayah Penjual Tahu hingga Tembus ITB

27 Juli 2026
Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga MOJOK.CO
Esai

Akhiri Kemitraan Semu, Saatnya Lindungi Hak Ojol melalui Kategori Pekerja Ketiga

25 Juli 2026
Biar Nggak Mogok atau Korsleting, Ini 4 Hal yang Haram Dilakukan Saat Modif Motor.MOJOK.CO
Transportasi

Biar Nggak Mogok atau Korsleting, Ini 4 Hal yang Haram Dilakukan Saat Modif Motor

3 Juli 2026
Kedai Kopi Dinasty di Surabaya milik alumnus Unesa. MOJOK.CO
Sosok

Bukan Sekadar Cari Cuan, Alumnus Unesa Ini Sukses Bikin Kedai Kopi Murah Sekaligus Berdayakan Ibu-ibu untuk Jual Kopi Keliling

30 Juni 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Buku "Ambarrukmo: Jatidiri dan Kebanggaan Negeri" jadi ikhtiar mencatat risalah panjang kompleks Kedaton Ambarrukmo Yogyakarta melintasi 5 zaman MOJOK.CO

Ikhtiar Mencatat Risalah Panjang Ambarrukmo Melintasi 5 Zaman, Situs yang Terus Hidup tanpa Mencerabut Akar

23 Juli 2026
Jadi gini rasanya keracunan motor Yamaha Xabre bekas MOJOK.CO

Akulah yang dulu meremehkan motor Yamaha Xabre karena harganya yang nggak ngotak, tapi kini rasa ingin memilikinya semakin tinggi

23 Juli 2026
Mahasiswa KKN di desa

Serba Salah KKN di Desa: Terlalu Pendiam Dianggap Nggak Guna, Banyak Omong Dicap Sok Tahu

24 Juli 2026
Pilih jadi tukang cukur rambut rumahan dan barbershop saat teman sebaya kerja di luar negeri. Dicap pemalas tetangga, hidup berkecukupan malam dicurigai MOJOK.CO

Pilih Jadi Tukang Cukur Rumahan saat Teman Kerja di Luar Negeri: Dicap Pemalas Tetangga, Terlihat Berkecukupan Malah Dicurigai

22 Juli 2026
Koperasi di Yogyakarta. MOJOK.CO

Hari Koperasi Nasional ke-79 di DIY: Sudah Saatnya Koperasi sebagai Sakaguru Perekonomian Nasional Nggak Lagi Gaptek

23 Juli 2026
Festival Transmigrasi 2026 Fun Run 6K: Event lari yang tawarkan sensasi berbeda di Kaliurang Sleman MOJOK.CO

Transmigrasi Festival 2026 Fun Run 6K: Tawarkan Sensasi Lari di Kaliurang yang Beda dari Event Lari Perkotaan

27 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.