Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 April 2026
A A
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Ilustrasi - Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Rumah besar di desa: hampa karena hubungan keluarga

Salah satu hal yang menurut Janjan menjadi penyebab rumah besarnya terasa hampa adalah karena hubungan orang di dalamnya. Dalam hal ini ya keluarga Janjan (orang tua dan adik laki-lakinya). 

Selama ini Janjan melihat di tv atau film, rumah besar biasanya menjadi simbol harmoni. Ada momen makan bersama. kumpul keluarga di ruang tengah, dan bentuk-bentuk kedekatan lain. 

Namun, nyatanya, bertahun-tahun tinggal di sebuah rumah besar di desa tidak memberinya itu semua. Entah kenapa hubungan antaranggota keluarga terasa dingin. Apalagi sejak ada hp. Orang lebih fokus main hp ketimbang berinteraksi. 

“Misalnya aku dan adikku. Jarang banget ngobrol. Dia sibuk hp-an di kamar, akhirnya akupun juga sibuk hp-an di kamar,” katanya. 

“Kalau bapak, karena merantau, jadi nggak memang terasa nggak hadir. Tapi bedanya, kamu bisa tetap membangun kedekatan dengan bapak dan ibumu. Tapi aku nggak bisa. Hubunganku terasa biasa saja,” sambungnya. 

Ia mengaku iri dengan cerita saya yang setiap pulang ke desa, pasti punya waktu khusus untuk deep talk dengan orang tua. Bahkan kalau hendak berpamitan, saya dan ibu tidak canggung untuk berpelukan. 

Tapi saya selalu bingung kalau Janjan atau siapapun bertanya: bagaimana saya memulai kedekatan tanpa canggung seperti itu dengan orang tua?

Rumah besar di desa: jebakan agar tidak ke mana-mana

Kini Janjan malah menyimpulkan, punya rumah besar di desa rasa-rasanya hanya menjadi sebuah jebakan bagi dirinya. 

Sejak kecil, ia kerap dilarang sering-sering keluar rumah oleh ibunya. Sekadar untuk main lama atau bahkan menginap di musala atau rumah teman. 

“Ya zaman kita kecil dulu kan ada budaya begitu. Anak-anak masih suka tidur musala. Sesekali tidur di rumah teman,” jelas Janjan. 

Kata sang ibu, wong sudah punya rumah besar kok tidak kerasan di rumah. Malah mau milih tidur di musala atau rumah teman. Ibu Janjan ingin mengatakan, rumah besar itu otomatis jauh lebih nyaman. 

Padahal, bagi Janjan, itu bukan semata perkara nyaman atau tidak nyaman. Rumah besar atau kecil. Tapi kenangan dan kehidupan masa kanak-kanak yang akhirnya harus Janjan lewati begitu saja. Kondisi itu terus berlanjut hingga Janjan tumbuh dewasa. 

“Karena punya rumah besar di desa, orang tua bilang, itu bakal jadi warisan buatku sebagai anak pertama. Adikku dapat tanah lain. Tapi itu menjebakku, karena aku tidak bisa merasakan petualangan di banyak  tempat (merantau di mana-mana) sepertimu,” gerutu Janjan. 

Kehidupan Janjan pada akhirnya memang hanya berkutat di Rembang. Bekerja dari pabrik ke pabrik, dari ritel ke ritel, dengan gaji sekadarnya. 

Iklan

“Rumah besar tapi kalau buat hidup saja pas-pasan kan percuma juga. Iya sekarang bapakku masih sanggup kerja. Kalau nanti sudah nggak, itu masalah,” ujar Janjan. 

“Kata ibuku, bapak sudah merantau. Sudah kasih rumah besar di desa. Niatnya biar anak-anaknya itu ya punya kehidupan nyaman di rumah. Nggak usah sampai merantau-merantau,” lanjutnya. 

Tidak ada kehangatan, penuh kepalsuan

Status sebagai “orang kaya” hanya karena punya rumah besar di desa dan bapak merantau di luar negeri pun sama menjebaknya bagi Janjan. Sebab, akhirnya tidak ada kehangatan tulus yang ia rasakan. Yang ada justru penuh kepalsuan. 

Rumah besar Janjan memang sesekali dikunjungi oleh saudara. Atau sesekali ada juga tetangga yang bertamu. Namun, bukan atas ketulusan keguyuban mereka bertamu. Tapi karena alasan fungsional semata. 

“Datang pas butuh. Kasarnya begitu. Ada saudara yang nggak akrab banget, datang tiba-tiba jadi sok akrab karena mau utang. Tapi kalau urusan selesai, ya dingin lagi,” beber Janjan. 

Bagi Janjan, itu berbeda sama sekali dengan cerita saya soal tetangga dari keluarga tidak berpunya yang begitu tulus membantu keluarga kami dalam tulisan, “Orang Miskin dan Sulit Ekonomi di Desa Justru Paling Tulus Peduli, Tapi Tak Dihargai karena Tak Bisa Bantu Materi”.

Tapi berapa kali pun Janjan bercerita, saya selalu bingung meresponsnya. Saya hanya bisa menjawab: Mungkin karena kami sama-sama tidak punya harta banyak, jadi kami merasa hanya memiliki satu sama lain. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 2 April 2026 oleh

Tags: hubungan keluarga dinginpilihan redaksirumah besar di desarumah di desasimbol kaya di desastandar sukses desastandar tetangga
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Adegan horor tiap awal bulan di kehidupan dewasa. Gajian ludes seketika karena kebutuhan MOJOK.CO
Urban

Awal Bulan di Kehidupan Dewasa Itu Horor: Setelah Gajian Gaji Langsung Ludes di Kalkulator

2 Juni 2026
Kerja di Jakarta, Cara Terbaik Buat Melihat Sisi Buruk Manusia adalah Kerja di F&B.mojok.co
Urban

FnB di Jakarta Bikin Sengsara Pekerjanya: Bisnis Elite tapi Gaji Karyawannya Seuprit, yang Dimiliki Artis bahkan Lebih Tak Manusiawi

2 Juni 2026
In this economy: momen para laki-laki merasa gagal sebagai anak dan suami karena masalah keuangan (sulit ekonomi) MOJOK.CO
Urban

In This Economy: Momen Para Laki-laki Merasa Gagal sebagai Anak dan Suami, Gaji Numpang Lewat tapi Bingung Mau Kerja Model Gimana Lagi

1 Juni 2026
Waisak 2026 di Candi Borobudur Magelang jadi momentum bagi sebuah keluarga Buddha asal Temanggung untuk meluruhkan ego diri MOJOK.CO
Eksplor

Waisak di Borobudur untuk Meluruhkan Ego Diri, Menerima Kesadaran atas Renungan “Hidup untuk Apa di Dunia Fana?”

31 Mei 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil MOJOK.CO

Evolusi Meme Mas Bahlil Ganteng: Saat Algoritma Menyelamatkan Citra Kanda Buahlil

27 Mei 2026
Jingle MBG Mas Bahlil Ganteng: ejekan ke figur politik tapi jadi alat reproduksi popularitas, buktinya Partai Golkar senang MOJOK.CO

MBG Mas Bahlil Ganteng Sudah Over-eksposur: Bahasa Kritik tapi Jadi Alat Reproduksi Popularitas, Bikin Golkar Senang

28 Mei 2026
Arca Unfinished Buddha yang ada di Candi Borobudur. MOJOK.CO

Ketika Patung “Cacat” Buddha di Lapangan Kenari Borobudur Justru Jadi Pusat Spiritual dan Magnet Doa Saat Waisak

27 Mei 2026
Ilustrasi hidup.MOJOK.CO

Sejatinya Manusia Hidup untuk Mengakali Kematian

2 Juni 2026
logika ekonomi orang desa.MOJOK.CO

Yang Perlu Kamu Tahu dan Kamu Lakukan di Tengah Kelesuan Ekonomi Saat Ini

29 Mei 2026
Ambisnya Orang Tua di Jogja Demi Sekolah Favorit untuk Anaknya MOJOK.CO

Ambisnya Orang Tua di Jogja demi Sekolah Favorit untuk Anaknya

1 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

1 Juni 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.