“Soalnya temanku diberi WFH malah jalan dan liburan,” kata dia.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan tujuan kebijakan WFH sehari dalam sepekan bagi PNS atau ASN pada hari Jumat untuk menekan mobilitas sekaligus efisiensi energi BBM. Justru, lebih banyak destinasi yang bisa dituju saat WFH—bukan hanya kantor—memungkinkan lebih banyak mobilisasi dan penggunaan BBM.
Maka tak heran, Esther mempertanyakan efektivitas kebijakan ini.
“Gimana efektifnya kalau WFH malah dipakai jalan?” kata dia.
Lebih baik WFO ke kantor agar tergoda mengikuti “jalan yang salah”
Dengan alasan itu, Esther lebih memilih untuk menggunakan kendaraannya pergi ke kantor pada hari yang sebenarnya telah ditetapkan bagi PNS atau ASN untuk bekerja dari rumah. Hingga hari ini, ia juga tetap pergi ke kantor pada hari Jumat.
Menurut dia, menggunakan BBM untuk pergi ke kantor lebih efektif daripada WFH yang bisa menimbulkan godaan untuk bepergian ke lebih banyak tempat. Kalau begitu, ia bisa jadi akan menghabiskan lebih banyak BBM.
“Mending ke kantor, motornya kan dipakai ke kantor nggak jalan-jalan,” kata dia.
“Makanya mending WFO daripada WFH. Nanti, malah nggak hemat bensin karena dipakai jalan-jalan,” kata dia menambahkan.
Selain alasan berupaya menghemat BBM sebagaimana mestinya, dia mengaku kondisi rumah tidak kondusif seperti kantor dalam mendukung pekerjaan. Kondisi rumah seakan-akan menggoda pekerja untuk berleha-leha dan tidak terlalu fokus bekerja.
Hal ini juga dibuktikan dengan sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa WFH dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan pekerja. Bekerja dari rumah dapat menimbulkan konflik antara urusan pekerjaan dan personal.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














