Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sehari-hari

Mudik ke Desa Naik Mobil Honda Brio Hasil Nabung karena Muak Dihina, Berharap Dicap Sukses Malah Makin Direndahkan

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
2 Maret 2026
A A
Mudik ke desa naik mobil pribadi Honda Brio, niat ikuti standar sukses dan pencapaian hidup tapi tetap dihina MOJOK.CO

Ilustrasi - Mudik ke desa naik mobil pribadi Honda Brio, niat ikuti standar sukses dan pencapaian hidup tapi tetap dihina. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Standar sukses dan pencapaian hidup ala orang lain memang sulit dikejar. Bagaimana tidak. Sebelumnya Mojok mendapat cerita: mudik ke desa naik motor jadi simbol gagal. Sekarang Mojok mendapat cerita lain: sudah pakai mobil pribadi pun, masih dianggap kurang kalau mobilnya tidak sesuai dengan standar keren saudara. Inilah cerita pengalaman keluarga Braja (34): mudik ke desa naik mobil Honda Brio, niat ingin pamer sukses tapi tetap saja tidak luput dari hinaan. Jan tenan!

***

Braja sebenarnya ogah kalau harus mudik ke desa mertua (desa sang istri) di Jawa Tengah. Pasalnya, omongan-omongan saudara sang istri kerap tidak mengenakkan hati karena membanding-bandingkan pencapaian dengan standar sukses mereka sendiri. 

Masalahnya, Braja sudah tidak punya orang tua. Alhasil, mau tidak mau setiap momen lebaran, ia harus mengikuti sang istri mudik ke desanya. 

Muak dihina, tapi tabungan hanya cukup buat beli mobil Honda Brio bekas

Di antara hinaan yang kerap Braja terima dari saudara-saudara adalah: udah kerja bertahun-tahun di Tangerang, masa kalau ke mana-mana istri cuma diboncengin motor. Panas kepanasana, hujan basah kuyup. 

“Istriku selalu bilang, nggak usah dengerin kalau ada yang bilang begitu. Tapi sebagai laki-laki, aku tetap tersenggol,” ucap Braja berbagi cerita, Minggu (1/3/2026). 

Braja muak direndahkan tiap momen kumpul keluarga saat mudik ke desa istri. Pasalnya, selalu saja Braja dibanding-bandingkan dengan saudara atau keluarga tetangga: lama di kota tapi hasilnya berupa mobil pribadi yang bisa dibawa ke mana-mana. Tidak hanya untuk berkendara sendiri, tapi juga untuk angkut keluarga jalan-jalan. 

Oleh karena itu, Braja mencoba meloloskan sejumlah uang tabungan untuk membeli mobil pribadi. Tentu setelah berunding dan mendapat persetujuan dari istri. 

Hanya saja, uang tabungan Braja hanya cukup untuk membeli mobil Honda Brio satya tahun tua (2016). Jelas bekas. Mobil itu terbeli menjelang Ramadan tahun 2024 silam, sebagai persiapan untuk mudik ke desa. 

Mobil Honda Brio bikin percaya diri dan siap sombong saat mudik ke desa

Pada awalnya, Braja meminta sang istri untuk tidak usah bilang-bilang ke orang tua kalau mereka baru saja membeli mobil pribadi. Rencananya akan sengaja Braja pamerkan setelah mudik ke desa. 

Namun, ada situasi yang membuat Braja keceplosan. Yakni ketika istri menelepon kakak perempuannya: mengabarkan akan mudik tanggal sekian. 

“Naik apa? Bus? Motor? Duh, kalau punya mobil sendiri, mesti enak, Dek,” ujar kakak perempuan istri dari seberang telepon. “Itu tetangga kita sudah ada yang mudik, sekeluarga rombongan naik mobil.” 

Padahal kakak perempuan istri Braja dan suaminya juga tidak punya mobil.  Hanya saja dimaklumi karena mereka tinggal di desa, tidak seperti Braja dan istri yang tinggal di Tangerang karena menyesuaikan pekerjaan. 

“Kami naik mobil pribadi. Sudah beli. Nggak ada istilah kepanasan-kehujanan naik motor atau desak-desakan naik bus,” sahut Braja ketus. Jawaban itu langsung direspons agak berbeda oleh kakak perempuan istri: menyiratkan kekaguman karena Braja dan istri sudah mampu membeli mobil pribadi sendiri. 

Iklan

“Ya nanti di rumah kita agendakan jalan-jalan ke mana, Ja,” ucap si kakak ipar perempuan Braja. 

“Iya,” jawab Braja singkat. 

Maka, sepanjang perjalanan mudik ke desa istri, Braja benar-benar membusungkan dada. Dalam kepalanya, ia sudah membayangkan: saat mobil Honda Brio miliknya itu masuk ke halaman rumah, pasti akan membungkam suara-suara yang selama ini merendahkan dan membanding-bandingkannya. 

Tak sesuai standar sukses dan pencapaian hidup, malah makin direndahkan

Menyebalkan sekali memang. Bahkan setelah berhasil membeli mobil pribadi pun, Braja masih dipandang kurang oleh saudara di desa. 

Mobil Honda Brio yang Braja bawa mudik ke desa pada akhirnya dibanding-bandingkan dengan mobil tetangga yang jauh lebih bagus, lebih gagah, dan tentu saja lebih mahal. 

“Ja, Ja, mobil kayak gini aja kamu beli. Cuma muat empat orang, mana sempit. Haduh.”

Apalagi mertua Braja (orang tua istri), malah mengaku dibuat malu ke tetangga: hanya gara-gara Braja pulang membawa mobil Honda Brio bekas. Mau dipamerin ke tetangga yang mobilnya lebih bagus jelas kalah jauh. 

Perasaan bingung dan dongkol pun bercampur dalam batin Braja. Ia pikir, standar sukses dan pencapaian yang diakui adalah sekadar bisa membeli mobil pribadi. Akan tetapi, faktanya itu saja tidak cukup. 

“Nggak ada habisnya. Udah, biarin orang ngomong apa, yang penting keluarga kita nggak apa-apa. Ubah niatmu, beli mobil bukan sekadar untuk mengejar standar sukses mereka. Kita beli kan buat kita sendiri biar enak kan?” Ujar istri Braja. 

Nyaris dijual dan pilih hidup sesuai kebutuhan

Sejak kejadian itu, Braja sebenarnya nyaris menjual mobil Honda Brio tersebut. Ya nanti lah kalau ada rezeki beli lagi yang lebih bagus. 

Namun, niatnya itu tertahan oleh istri. Sebab, mobil Honda Brio yang dihina keluarga hanya karena mungil itu nyatanya berguna kok untuk mobilitas Braja dan istri. Alhasil, rencana menjualnya pun tertunda hingga sekarang. 

“Cuma sejak 2025 aku udah nggak mau lagi mudik ke desa istri. Alasan lagi banyak kerjaan. Walaupun itu juga menimbulkan dugaan, aku malu kalau pulang pakai mobil jelek,” kata Braja. 

Tahun 2026 ini pun sepertinya ia juga absen untuk mudik ke desa istri. Malah berencana pulang ke desa Braja saja untuk ziarah ke makam orang tua sekalian silaturahmi dengan saudara-saudara Braja yang sudah lama tidak bersua. 

“Yang jelas, aku dan istri sekarang memilih tutup mata dan telinga atas standar sukses dan pencapaian hidup yang dipasang orang lain. Fokus menjalani hidup sesuai kebutuhan. Seperlunya saja,” ucap Braja.

“Dan ternyata itu lebih menenangkan dan menyenangkan daripada mencoba kelihatan sukses atau mencapai sesuatu demi menyenangkan orang lain,” tutupnya. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 Maret 2026 oleh

Tags: Brioharga brio bekasharga mobil briohonda briomobil briomobil brio bekasmobil brio terbarumobil pribadimudik ke desamudik naik mobilmudik naik mobil pribadipencapaian hidupstandar sukses
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Anak yang dicap gagal penuhi standar sukses justru paling tulus merawat orang tua. Anak yang sok sibuk dan dibilang sukses malah jadi yang paling berisik soal warisan MOJOK.CO
Urban

Anak yang Dicap Gagal Justru Paling Tulus dan Telaten Rawat Ortu, Anak yang Katanya Sukses cuma Berisik Rebutan Warisan

13 Februari 2026
Lulusan SMK ngaku dapat gaji 20 juta saat kerja di Sidoarjo agar orang tua tidak direndahkan karena standar sukses di desa MOJOK.CO
Urban

Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa

12 Februari 2026
Brio, Mobil Honda Paling Dipuja karena Nggak Punya Apa-apa MOJOK.CO
Otomojok

Brio, Mobil Honda yang Paling Aneh: Nggak Punya Apa-apa, tapi bisa Menjadi yang Paling Laris

10 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lagu religi "Tuhan Itu Ada" jadi ajang promosi Klaten lewat musik MOJOK.CO

Adhit & Carlo Jikustik Gandeng Klaten Project Rilis Lagu Religi “Tuhan itu Ada”

25 Februari 2026
Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa MOJOK.CO

Bertahun-tahun Jadi User Motor Matic, Memilih Beralih ke Honda Revo yang Nggak “Good Looking” demi Selamatkan Dompet dan Nyawa

24 Februari 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Honda Supra X 125

Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah

24 Februari 2026
Penerima beasiswa LPDP serba salah, penerima beasiswa LPDP dalam negeri dan LPDP luar negeri diburu

Penerima LPDP Dalam Negeri Terkena Getah Awardee Luar Negeri yang “Diburu” Seantero Negeri, padahal Tak Ikut Bikin Dosa

25 Februari 2026

Video Terbaru

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.