Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Catatan

Repotnya Punya Mobil di Desa: Bisa Jadi “Musuh Masyarakat” Perkara Parkir dan Garasi, Masih Rawan Jadi Korban Kenakalan Bocil-bocil

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
15 April 2026
A A
Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal MOJOK.CO

Ilustrasi - Ribetnya punya mobil di desa. Bisa menjadi musuh masyarakat perkara parkir. Rawan jadi korban iseng bocil-bocil nakal. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berkaca dari cerita-cerita yang didapat Mojok, punya mobil pribadi di desa ternyata ribet dalam persoalan gengsi sosial. Tapi ternyata persoalan tidak berhenti di situ. Secara teknis, punya mobil pribadi di desa pun juga tidak kalah merepotkan: dari perkara garasi mobil hingga risiko kenakalan bocil-bocil. 

Obrolan soal teknis repotnya punya mobil pribadi di desa bermula ketika pada dua pekan lalu saya pulang ke Rembang, Jawa Tengah. Awalnya saya meminta seorang teman—yang sudah sejak lama punya mobil pribadi—untuk mengajari saya menyetir. 

Obrolan kemudian berlanjut ke wacana saya membeli mobil pribadi. Ya walaupun masih sebatas wacana, karena saya masih merasa belum butuh-butuh amat. 

Namun, seorang teman tersebut—yang kemudian ditimpali teman lain—saling mengamini: ada beberapa kesiapan mental dan teknis yang harus dipenuhi sebelum membeli mobil pribadi di desa. Begini yang teman saya ungkapkan: 

Punya mobil pribadi di desa: bisa jadi “musuh masyarakat” perkara parkir dan garasi

Syarat pertama kalau ingin punya mobil pribadi di desa adalah harus punya halaman rumah luas. Setidak-tidaknya punya space cukup untuk garasi. 

Ini sebenarnya paling basic. Namun, tidak sedikit orang desa yang karena tidak punya halaman luas dan garasi pribadi, akhirnya menjadi “musuh masyarakat”. 

Pasalnya, kalau tidak memenuhi dua syarat basic tersebut, pilihannya adalah parkir sembarangan. Kalau tidak parkir di pinggir jalan, ya parkir di pelataran masjid. Paling buruk nebeng parkir di halaman atau space milik orang lain. 

Semua opsi parkir tersebut bermasalah. Parkir di pinggir jalan dianggap ngebak-ngebaki dalan (menyesaki jalan). Agak merepotkan untuk simpangan kendaraan, terutama kendaraan besar seperti pick up atau mobil lain. Maka siap-siap saja kena semprot: “Parkir og sak penake dewe! (Parkir kok seenaknya sendiri!).”

Parkir di pelataran masjid pun, meskipun sebenarnya luas, pada akhirnya juga menimbulkan polemik. Karena bagi warga, terutama takmir dan jemaah masjid tersebut, masjid itu ya untuk aktivitas ibadah, bukan malah jadi tempat penitipan. 

Lebih-lebih kalau numpang parkir di halaman rumah milik tetangga. Memang, di depan si tetangga welcome-welcome saja. Tapi di belakang pasti gremeng dan bahkan menjadikan si pemilik mobil sebagai bahan gunjingan: si pemilik mobil dianggap benalu. 

Punya garasi mobil di teras rumah sendiri saja tetap bisa jadi masalah bagi tetangga di desa

Bahkan punya garasi di teras rumah sendiri tetap bisa jadi masalah, loh. Begitu yang dialami seorang teman tersebut. 

Situasinya begini: teras rumahnya memang tidak terlalu luas. Tapi cukup untuk dijadikan sebagai garasi mobil. Persoalannya, teras rumah tersebut ternyata dijadikan akses jalan motor untuk tetangga yang rumahnya ada di belakang rumah teman saya itu. 

Di sini letak masalahnya. Ketika mobil sudah terparkir di garasi tersebut, alhasil akses jalan tersebut terasa sempit, sekalipun untuk ukuran motor. Itu dianggap menyulitkan tetangga. Itu bisa menjadi persoalan. 

Oleh karena, ada juga orang yang karena tidak punya halaman rumah luas, akhirnya menggunakan sebagian tanah kebun miliknya untuk dibangun garasi. Risikonya, jadi agak waswas karena jarak antara rumah dengan tanah garasi tersebut cukup jauh. 

Iklan

Punya mobil pribadi di desa rawan jadi korban iseng bocil-bocil 

Kekhawatiran jika punya garasi jauh dari rumah, atau parkir di pinggir jalan, adalah karena rawan jadi korban iseng bocil-bocil desa. 

Kata teman saya, entah kenapa tangan-tangah bocil desa itu gatel sekali kalau lihat mobil kotor. Terutama kaca mobil bagian belakang yang tertutup debu. 

Kaca mobil berdebut tersebut lantas menjadi kanvas bebas bagi mereka. Tanpa takut, bocil-bocil itu akan mencoret-coret sembarangan. 

Misalnya, menulis nama mereka kemudian diberi tanda “love” dengan nama gadis desa sebaya mereka. Yang lebih parah, mereka bisa mencoret kata atau gambar tidak senonoh: seperti “asu”, “jancok”, hingga gambar alat kelamin laki-laki. 

Kegatelan mereka tidak berhenti di situ. Karena kalau tahu mobil pribadi seseorang akan berbunyi kencang kalau disenggol agak keras, bocil-bocil itu bisa sengaja menendang mobil biar berbunyi, lalu mereka lali. Motifnya, pokoknya pengin bikin repot si pemilik mobil karena berbunyi, mereka jadi tergupuh-gupuh ngecek ada apa sebelum mematikan. Baru dimatikan, ditinggal, eh si bocil-bocil itu datang lagi untuk melakukan hal yang sama. 

Masalahnya, tidak semua orang memihak si pemilik mobil. Ada orang yang memang memihak: turut menegur bocil-bocil tersebut agar tidak berulah. 

Tapi ada juga orang yang bodo amat. Justru ketika tahu si pemilik mobil memarahi bocil-bocil yang berulah itu, malah diminta mewajari: namanya juga anak-anak, bahkan menyebut si pemilik mobil kelewat sombong karena mobil disentuh saja langsung tidak terima. 

Siap mental karena “disalahartikan” tetangga

Tidak kalah penting dari perkara teknis, kata teman saya, mental juga harus benar-benar siap kalau punya mobil pribadi di desa. Karena akan sering-sering disalahartikan tetangga. 

Dengan punya mobil pribadi, tetangga menganggap si pemilik mobil bisa menyediakan jasa sewaktu-waktu: jadi rental dadakan. Tiba-tiba diminta antar ke mana lah, hajatan lah, ke rumah sakit lah, dan seterusnya. 

Ada tetangga yang tahu diri: seminimal-minimalnya mengganti uang rokok dan bensin. Tapi ada pula yang hanya sekadar mengganti uang rokok. 

“Tapi aku sebagai pemilik mobil juga sering terjebak rasa nggak enak. Disuruh ngantar tetangga yang nggak mampu-mampu banget. Masa iya aku mau nerima uang ganti bensin atau rokok?,” tutur teman saya.

“Sebagai amal sosial iya. Tapi perasaan nggak enakan di desa itu bikin aku kerepotan. Karena kalau nolak nganter misalnya, itu nggak sepele. Bisa dianggap sombong,” sambungnya. 

Selain itu, salah arti terhadap orang yang punya mobil di desa itu juga begini: kalau keluar pakai mobil, dikiranya jalan-jalan. Jadi anggapannya kesibukan si pemilik hanyalah jalan-jalan, uangnya banyak. Padahal, keluar pakai mobil kan untuk kerja juga. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 15 April 2026 oleh

Tags: garasi mobilgarasi mobil di desagarasi rumahmobilmobil pribadipilihan redaksipunya mobil di desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

kuliah, wisua, sarjana di desa.MOJOK.CO
Edumojok

Jadi Sarjana di Desa, Bangga sekaligus Menderita: Dituntut Bisa Segalanya, tapi Juga Tak Dihargai Tetangga dan Dicap “Beban Keluarga”

15 April 2026
Pasang WiFi di rumah desa. Niat untuk kenyamanan dan efisiensi pengeluaran keluarga malah dipalak tetangga MOJOK.CO
Sehari-hari

Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri

14 April 2026
Ilustrasi pamer pencapaian, keluarga, arisan keluarga, lebaran.MOJOK.CO
Sehari-hari

Arisan Keluarga, Tradisi Toksik yang Dipertahankan Atas Nama Silaturahmi: Cuma Ajang Pamer dan Penghakiman, Bikin Anak Muda Rugi Mental dan Materi

14 April 2026
Punya hard skill yang laku buat kerja di kota tapi tidak berguna buat slow living di desa MOJOK.CO
Catatan

Punya Skill yang Laku buat Kerja di Kota tapi Ternyata Tak Berguna di Desa, Gagal Slow Living Malah Kebingungan Nol Pemasukan

13 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Sigura-gura, Malang, slow living.MOJOK.CO

Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta

11 April 2026
Derita Pedagang Es Teh Jumbo: Miskin, Disiksa Israel dan Amerika MOJOK.CO

Semakin Berat Perjuangan Pedagang Es Teh Jumbo: Sudah Margin Keuntungan Sangat Tipis Sekarang Terancam Makin Merana karena Kenaikan Harga

9 April 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Bupati dan Walikota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan MOJOK.CO

Bupati dan Wali Kota yang Korupsi Itu Lebih dari Sekadar Mengerikan

13 April 2026
Tabiat penumpang KA Sri Tanjung yang bikin jengkel KA Sancaka. MOJOK.CO

User Kereta Eksekutif Jengkel dengan Tingkah Random User Kereta Ekonomi, Turun di Stasiun Langsung Dibikin “Prengat-prengut”

14 April 2026

Video Terbaru

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.