Berkaca dari cerita-cerita yang didapat Mojok, punya mobil pribadi di desa ternyata ribet dalam persoalan gengsi sosial. Tapi ternyata persoalan tidak berhenti di situ. Secara teknis, punya mobil pribadi di desa pun juga tidak kalah merepotkan: dari perkara garasi mobil hingga risiko kenakalan bocil-bocil.
Obrolan soal teknis repotnya punya mobil pribadi di desa bermula ketika pada dua pekan lalu saya pulang ke Rembang, Jawa Tengah. Awalnya saya meminta seorang teman—yang sudah sejak lama punya mobil pribadi—untuk mengajari saya menyetir.
Obrolan kemudian berlanjut ke wacana saya membeli mobil pribadi. Ya walaupun masih sebatas wacana, karena saya masih merasa belum butuh-butuh amat.
Namun, seorang teman tersebut—yang kemudian ditimpali teman lain—saling mengamini: ada beberapa kesiapan mental dan teknis yang harus dipenuhi sebelum membeli mobil pribadi di desa. Begini yang teman saya ungkapkan:
Punya mobil pribadi di desa: bisa jadi “musuh masyarakat” perkara parkir dan garasi
Syarat pertama kalau ingin punya mobil pribadi di desa adalah harus punya halaman rumah luas. Setidak-tidaknya punya space cukup untuk garasi.
Ini sebenarnya paling basic. Namun, tidak sedikit orang desa yang karena tidak punya halaman luas dan garasi pribadi, akhirnya menjadi “musuh masyarakat”.
Pasalnya, kalau tidak memenuhi dua syarat basic tersebut, pilihannya adalah parkir sembarangan. Kalau tidak parkir di pinggir jalan, ya parkir di pelataran masjid. Paling buruk nebeng parkir di halaman atau space milik orang lain.
Semua opsi parkir tersebut bermasalah. Parkir di pinggir jalan dianggap ngebak-ngebaki dalan (menyesaki jalan). Agak merepotkan untuk simpangan kendaraan, terutama kendaraan besar seperti pick up atau mobil lain. Maka siap-siap saja kena semprot: “Parkir og sak penake dewe! (Parkir kok seenaknya sendiri!).”
Parkir di pelataran masjid pun, meskipun sebenarnya luas, pada akhirnya juga menimbulkan polemik. Karena bagi warga, terutama takmir dan jemaah masjid tersebut, masjid itu ya untuk aktivitas ibadah, bukan malah jadi tempat penitipan.
Lebih-lebih kalau numpang parkir di halaman rumah milik tetangga. Memang, di depan si tetangga welcome-welcome saja. Tapi di belakang pasti gremeng dan bahkan menjadikan si pemilik mobil sebagai bahan gunjingan: si pemilik mobil dianggap benalu.
Punya garasi mobil di teras rumah sendiri saja tetap bisa jadi masalah bagi tetangga di desa
Bahkan punya garasi di teras rumah sendiri tetap bisa jadi masalah, loh. Begitu yang dialami seorang teman tersebut.
Situasinya begini: teras rumahnya memang tidak terlalu luas. Tapi cukup untuk dijadikan sebagai garasi mobil. Persoalannya, teras rumah tersebut ternyata dijadikan akses jalan motor untuk tetangga yang rumahnya ada di belakang rumah teman saya itu.
Di sini letak masalahnya. Ketika mobil sudah terparkir di garasi tersebut, alhasil akses jalan tersebut terasa sempit, sekalipun untuk ukuran motor. Itu dianggap menyulitkan tetangga. Itu bisa menjadi persoalan.
Oleh karena, ada juga orang yang karena tidak punya halaman rumah luas, akhirnya menggunakan sebagian tanah kebun miliknya untuk dibangun garasi. Risikonya, jadi agak waswas karena jarak antara rumah dengan tanah garasi tersebut cukup jauh.
Punya mobil pribadi di desa rawan jadi korban iseng bocil-bocil
Kekhawatiran jika punya garasi jauh dari rumah, atau parkir di pinggir jalan, adalah karena rawan jadi korban iseng bocil-bocil desa.
Kata teman saya, entah kenapa tangan-tangah bocil desa itu gatel sekali kalau lihat mobil kotor. Terutama kaca mobil bagian belakang yang tertutup debu.
Kaca mobil berdebut tersebut lantas menjadi kanvas bebas bagi mereka. Tanpa takut, bocil-bocil itu akan mencoret-coret sembarangan.
Misalnya, menulis nama mereka kemudian diberi tanda “love” dengan nama gadis desa sebaya mereka. Yang lebih parah, mereka bisa mencoret kata atau gambar tidak senonoh: seperti “asu”, “jancok”, hingga gambar alat kelamin laki-laki.
Kegatelan mereka tidak berhenti di situ. Karena kalau tahu mobil pribadi seseorang akan berbunyi kencang kalau disenggol agak keras, bocil-bocil itu bisa sengaja menendang mobil biar berbunyi, lalu mereka lali. Motifnya, pokoknya pengin bikin repot si pemilik mobil karena berbunyi, mereka jadi tergupuh-gupuh ngecek ada apa sebelum mematikan. Baru dimatikan, ditinggal, eh si bocil-bocil itu datang lagi untuk melakukan hal yang sama.
Masalahnya, tidak semua orang memihak si pemilik mobil. Ada orang yang memang memihak: turut menegur bocil-bocil tersebut agar tidak berulah.
Tapi ada juga orang yang bodo amat. Justru ketika tahu si pemilik mobil memarahi bocil-bocil yang berulah itu, malah diminta mewajari: namanya juga anak-anak, bahkan menyebut si pemilik mobil kelewat sombong karena mobil disentuh saja langsung tidak terima.
Siap mental karena “disalahartikan” tetangga
Tidak kalah penting dari perkara teknis, kata teman saya, mental juga harus benar-benar siap kalau punya mobil pribadi di desa. Karena akan sering-sering disalahartikan tetangga.
Dengan punya mobil pribadi, tetangga menganggap si pemilik mobil bisa menyediakan jasa sewaktu-waktu: jadi rental dadakan. Tiba-tiba diminta antar ke mana lah, hajatan lah, ke rumah sakit lah, dan seterusnya.
Ada tetangga yang tahu diri: seminimal-minimalnya mengganti uang rokok dan bensin. Tapi ada pula yang hanya sekadar mengganti uang rokok.
“Tapi aku sebagai pemilik mobil juga sering terjebak rasa nggak enak. Disuruh ngantar tetangga yang nggak mampu-mampu banget. Masa iya aku mau nerima uang ganti bensin atau rokok?,” tutur teman saya.
“Sebagai amal sosial iya. Tapi perasaan nggak enakan di desa itu bikin aku kerepotan. Karena kalau nolak nganter misalnya, itu nggak sepele. Bisa dianggap sombong,” sambungnya.
Selain itu, salah arti terhadap orang yang punya mobil di desa itu juga begini: kalau keluar pakai mobil, dikiranya jalan-jalan. Jadi anggapannya kesibukan si pemilik hanyalah jalan-jalan, uangnya banyak. Padahal, keluar pakai mobil kan untuk kerja juga.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Pasang WiFi di Rumah Desa Boncos: Password Dipalak-Dicolong Tetangga, Masih Dicap Egois kalau Mati Disuruh Gali Kubur Sendiri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













