Lolos seleksi CPNS dalam sekali coba awalnya memang bisa membuat diri membusungkan dada karena aman finansial. Namun, setelah resmi berstatus PNS atau ASN justru merasa “tersandera”.
***
Pada mulanya, Anom (27), bukan nama asli, tidak memiliki ambisi untuk menjadi PNS atau ASN. Itulah kenapa, sejak lulus kuliah pada 2021, ia menikmati kerja di sektor jasa di Jawa Timur.
Saat itu, banyak temannya sudah start mengikuti seleksi CPNS dan PPPK. Namun, kebanyakan justru tidak tembus.
Bahkan ada juga beberapa temannya yang sampai berkali-kali mencoba saking penginnya menjadi PNS atau ASN, setidaknya hingga 2024. Namun, hasilnya tidak berubah: tetap tidak tembus, walaupun sudah mengikuti bimbel seleksi CPNS.
Tidak belajar, tapi tembus seleksi CPNS dalam sekali coba
Pada 2025, Anom tiba-tiba terbersit untuk menjadi PNS atau ASN. Keinginan itu muncul karena menyadari kondisi ekonomi sedang carut-marut.
Lapangan kerja kian susah. Banyak sarjana menganggur. Itu membuat pemuda asal Jawa Timur itu merasa harus “mengamankan diri”. Karena ia menyadari, ia tidak akan selamanya ada di pekerjaan yang ia jalani saat itu. Sementara jika sewaktu-waktu ia sudah tidak kerja lagi di situ, mencari pekerjaan lagi belum tentu semudah yang dibayangkan.
Alhasil, tanpa belajar, ia mencoba mengikuti seleksi CPNS untuk formasi di bawah Kementerian Agama (Kemenag). Tidak ada proses bimbel-bimbelan. Ia hanya modal mengikuti diskusi yang berlangsung di X.
“Sebenarnya aku nothing to lose. Yang penting coba dulu,” ujar Anom, Minggu (12/4/2026).
Tapi ternyata tahap demi tahap seleksi bisa Anom lalui tanpa hambatan. Dan ia berhasil lolos dalam sekali coba. Ia sendiri tidak menyangka.
“Mangkanya, kalau ada teman yang tanya tips atau rumus, aku bingung jawabnya gimana,” seloroh Anom.
Jadi PNS atau ASN memang aman finansial, tapi “tersandera”
Setelah tembus seleksi CPNS dan resmi dilantik menjadi PNS atau ASN, Anom tentu merasa aman finansial. Gaji pokoknya memang tidak lebih besar dari gaji pekerjaan sebelumnya: Rp3 jutaan.
Akan tetapi, yang membuatnya aman adalah tunjangan dan terutama jaminan hari tua . Dengan begitu, ia tidak perlu merasa overthinking kesulitan mencari kerja sebagaimana kebanyakan teman-temannya: sarjana tapi ijazah tidak laku-laku amat di sektor formal.
Hanya saja, menjadi PNS atau ASN memang harus tahan-tahanan dengan perasaan “tersandera”. Begitulah yang akhirnya Anom rasakan.
“Pertama, karena kita pegawai negara, jadi kita nggak boleh banyak omong atas kebijakan-kebijakan publik yang nggak masuk akal,” ujar Anom.
Dua tahun terakhir ini, banyak kebijakan atau sikap pemerintah pusat yang menuai kritik keras dan masif. Terutama di media sosial. Hanya saja, Anom tidak bisa leluasa ikut bersuara, meski sebenarnya ia sangat kesal dan muak.
Itu membuat Anom merasa “berkhianat” pada kepentingan rakyat. Sebab, oke ia digaji oleh negara, tapi uang negara kan berasal dari pajak rakyat. Maka seharusnya ia juga bersuara dan bertindak atas nama rakyat.
“Tapi kenyataanya, di tempatku, kalau ada ramai-ramai, atasan atau ASN senior langsung menyergah, jangan ikut-ikutan, mending diam daripada kena konsekuensinya,” tutur Anom.
Baca lanjutannya di halaman selanjutnya…
Hidup dalam stigma “leha-leha dapat gaji buta”, lingkungan toxic bikin muak














