Jadi PNS dan ASN harus hidup dalam stigma
Gara-gara “sanderaan” itu pula, akhirnya Anom harus hidup dalam stigma. Baik dari teman-teman kuliahnya dulu atau dari sebagian warga kampungnya yang kritis terhadap kebijakan pemerintah.
“Walaupun yang berulah di pusat, kami-kami yang ASN rendahan pada akhirnya tetap kena stigma juga. Karena orang tahunya kan kami pegawai negara, antek pemerintah,” ucap Anom.
Misalnya, ketika riuh-rendah soal keracunan massal MBG—dan baru-baru ini pengadaan motor untuk kepala SPPG—Anom cenderung tidak berkomentar banyak kalau ditanya oleh warga, “Gimana itu, Mas. Masa begitu?”. Karena tidak berkomentar, ia pun ikut dicap tidak berpihak pada rakyat. Padahal tupoksinya tidak ada urusannya sama sekali dengan program tersebut.
Anom memprediksi, situasinya akan lebih menyerang mental jika Koperasi Desa Merah Putih sudah resmi beroperasi.
Stigma makan gaji buta karena tidak kerja sungguh-sungguh: cuma leha-leha tapi digaji penuh
Di kalangan teman-teman kuliahnya dulu, kalau sedang ada kesempatan ngopi bareng, stigma yang dilayangkan ke Anom adalah “makan gaji buta”.
Stigma itu sudah muncul sejak lama. Berangkat dari fakta, bahwa ada oknum PNS atau ASN yang kerjanya memang tidak sungguh-sungguh. Alih-alih melayani rakyat sepenuh hati, pelayanan yang diberikan cenderung ribet dan setengah hati.
Misalnya, ada kantor layanan publik yang sering kali tutup sebelum jamnya. Buka jam 8 pagi, tapi nanti akan terjeda panjang di jam 12 hingga jam 2 siang dengan alasan istirahat. Tapi di kantor layanan sudah akan tutup jam 3 sore. Beluk delapan jam, loh.
“Apalagi sekarang ada kebijakan ASN bisa WFH. Malah, makin-makin kena stigma makan gaji buta. Ya aku tahu teman-teman bercanda. Tapi candaan itu sarkasme yang ngena banget, sih,” kata Anom.
Lolos seleksi CPNS “tersandera” lingkungan kerja toxic
Kenapa candaan itu bisa sangat ngena? Kata Anom, ya karena memang berangkat dari situasi yang benar-benar terjadi.
Di lingkungan kerja Anom sendiri misalnya, ia melihat sepertinya ada PNS atau ASN yang tidak layak digaji penuh: datang absen, ngobrol-ngobrol, kerja sedikit, rokok-rokok, pulang.
ASN baru, apalagi masih di usia muda seperti Anom, alhasil jadi bulan-bulanan. Sebab, ia kerap kali ketiban banyak pekerjaan dari senior-seniornya tersebut.
Tak pelak jika Anom merasa tersandera. Karena mustahil bagi anak baru seperti melakukan penolakan atau perlawanan. Bisa-bisa ia disikat. Kalau disikat fisik tidak masalah. Lah kalau kariernya yang disikat, mampus ia.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














