Jadi motor “sampah” dan jamet
Amarah dari sang kakak tidak terhindarkan. Sebenarnya sejak Farel mulai mengganti lampu asli dengan lampu warna-warni, kakak Farel sudah menunjukkan kesan geram.
Hanya saja, waktu itu sang kakak menoleransi: asal lampu saja, tidak merembet ke yang lain-lain. Tapi kenyataannya, modifikasi motor Honda Vario 125 tersebut sudah merembet ke mana-mana.
“Jawabanku pas dimarahi, ya namanya juga hobi,” ujar Farel. “Masa hobi dilarang-larang.”
Sudah. Di titik itu lah kakak Farel dan sang ibu sudah angkat tangan.
Awalnya, sikap “angkat tangan” keduanya dianggap Farel sebagai sebuah kesempatan, karena artinya sudah tidak ada lagi yang ngedumel-ngedumel tiap ia melakukan modifikasi-modifikasi baru.
Sampai akhirnya kini Farel menyadari, nafsu membongkar-bongkar motor tersebut ternyata berdampak fatal bagi kendaraannya tersebut.
“Ban kecil dan bodi ceper itu nggak cocok sama jalan desa yang nggak rata. Pasti gasruk. Akhirnya bagian bawah motorku pretel-pretel, lecet sana-sini,” jelas Farel.
Tidak hanya itu, menyusul kerusakan atau gangguan gangguan lain yang membuat motornya harus sering-sering masuk bengkel. Masalahnya, ia tidak bisa leluasa lagi minta uang ke kakak atau ibunya untuk membengkelkan si motor.
“Makan itu sinematik-sinematik. Motor baik-baik dijadikan sampah kok,” begitu gertak sang kakak.
“Kalau ke ibu aku masih bisa minta (uang) sebenarnya. Tapi ibu kan manut kakak,” ucap Farel.
Kini akhirnya tinggal sesal. Karena ketika melakukan PKL dan bergabung dengan sirkel lain, ternyata modifikasi motor menjadi sinematik tersebut diolok-olok “jamet”. Ah, sudah motor menjadi bobrok, dicap jamet pula. Sinematik ternyata hanya kepuasaan maya dan sesaat.
Penyesalan karena Honda Vario 125 seharusnya jadi motor andalan
Pernah terbersit keinginan untuk menjual motor yang sudah termodifikasi tersebut untuk kemudian membeli motor baru. Asumsi Farel harganya masih masuk akal.
Karena memang, salah satu alasan kenapa ia tergoda melakukan modifikasi adalah: katanya motor modifikasi itu punya daya tawar dan harga jual tinggi di kalangan pencinta motor modifikasi di Facebook.
“Bodoh sih itu. Yang mahal itu kalau modifikasi profesional. Kalau modifikasi kelas kampung, harganya malah ancur-ancuran di Facebook,” kata Farel.
Motor Honda Vario 125 benar-benar menjadi sampah. Dipakai sudah tidak enak sama sekali, harus sering-sering masuk bengkel, dijual pun seperti tidak ada harganya.
Kini hanya penyesalan yang tersisa. Sebab, Honda Vario pada dasarnya dikenal sebagai motor tangguh di jalan raya. Saudara-saudaranya kebanyakan menggunakan Honda Vario (baik 125 maupun 150).
Karena motor mereka masih sehat karena dirawat sedemikian rupa (tanpa modifikasi aneh-aneh nan ngawur), motor mereka masih bisa digunakan untuk mobilitas tinggi perjalanan lintas kota.
“Aku pernah sekali pakai motor modifku touring ke Pacitan. Benar-benar jadi motor payah. Nggak bisa kalau ketemu jalanan nggak datar, bobrok,” tutur Farel penuh sesal.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Standar Keren Kabupaten: Pakai Motor BeAT Dihina dan Dijauhi Circle Aerox, NMax, dan Vario karena Tak Masuk Konsep Sinematik atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan














